
Reza dan Vino yang sudah tiba di kantor pun segera memasuki lift khusus. Karyawan yang berpapasan dengan keduanya pun menunduk hormat saat bertemu dengan mereka.
Dulu sikap ramah yang ditunjukkan oleh Reza pada karyawannya. Namun kini sikapnya begitu dingin dan tak berbelas kasih lagi. Jika ada yang melanggar peraturan meski pun itu hal yang remeh, ia tak segan segan untuk memecatnya.
Suasana kantor yang tadinya hangat, kini berubah menjadi dingin setelah Presdir mereka berubah menjadi orang yang tak berperasaan.
"Bos, hari ini kita akan kedatangan perwakilan dari Ceofeng,,,"
Ucap Vino saat mereka memasuki lift yang menuju ke lantai atas dimana kantor mereka berada.
"Aku tau,,, siapkan semuanya untuk rapat,,"
Balas Reza di sela sela kaki mereka melangkah ke ruang kantor setelah keluar dari liftnya.
Sesampainya dalam ruang kerjanya, Reza segera bergelud dengan berkas berkas yang sudah menumpuk di mejanya.
Hingga jam menunjukkan pukul 12.00 WIB.
Jam makan siang bagi para pekerja di kantornya, dari luar terdengar bunyi pintu diketuk.
Reza pun melihat dari cctv sapa yang berada di luar ruangannya sekarang. Dan ia terkejut melihat Alin yang datang ke kantornya sambil membawa bekal makan siang. Mulanya ia enggan untuk membuka pintu ruangannya, namun terbersit rasa kasihan di hatinya, juga perasaan bersalah sudah mendiamkan Alin selama ini, karena ia tau pasti alasan Alin melakukan semuanya, hingga ia harus terpisah dengan Lili.
Setelah mengambil nafas dalam dalam lalu membuangnya dengan kasar, dengan berat hati ia pun membuka pintu ruangannya dengan remote control di atas mejanya. Pintu perlahan terbuka, dengan senyum menghiasi bibirnya Alin pun masuk ke ruangan Reza.
"Maaf jika aku mengganggu kamu, aku bawakan makan siang, pasti kamu lapar kan?Ayo kita makan bersama."
Dengan sedikit kegugupan dalam hatinya Alin berusaha setenang mungkin berbicara dengan pria yang ada dihadapannya sekarang.
Reza yang sengaja menyibukkan dirinya hanya terdiam tanpa membalas ucapan Alin.
__ADS_1
Nampak raut kesedihan di wajah Alin saat ini, ia tak menyangka jika rumor yang didengarnya tadi mengenai Reza yang sudah berubah sedingin es membeku bagai salju ternyata benar adanya, dan ia dapat merasakan sendiri perlakuan itu.
Hatinya terasa sakit melihat semuanya, hampir saja air matanya jatuh namun segera di usapnya. Senyuman pun tersungging di bibirnya, ia berpura pura ceria di depan Reza.
"Eza,,, apa kamu masih ingat saat ulang tahunku yang kita rayakan sebelum aku pindah bersama orag tuaku?"
Alin berhenti sejenak sambil menatap pria di depannya sekarang, ia ingin tau reaksi dari Reza mendengar kenangan saat itu. Ia berharap Reza mengingatnya dan mau berbicara dengannya. Namun semua hanya sia sia saja, bibirnya seakan dilem perekat yang tak bisa dibukanya.
Dengan senyum getir Alin melanjutkan ucapannya.
" Hari itu aku sangat bahagia hingga tak mungkin ku lupakan seumur hidupku, saat orang yang kucintai menyatakan perasaannya yang sama sepertiku, dunia seakan hanya milik kita saat itu, dan aku berjanji dalam hatiku, hanya kaulah pria yang kucintai sampai sisa umurku, namun kini,,,"
Ucapan Alin sudah terhenti, berganti dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya, dadanya terasa sesak hingga ia tak dapat lagi menahan air matanya yang tanpa permisi telah membanjiri pipinya.
Reza yang melihatnya pun tak kuasa menahan ibanya lagi. Ia juga merasakan sakit yang sama, saat melihat air mata Alin ia juga merasakan sakit itu, namun ia juga tak bisa membohongi hatinya sendiri, jika disana juga ada Lili. Dan saat ini hanya Lili yang menguasai hatinya, meski tempat Alin tak pernah tergantikan oleh sapa pun, karena mereka mempunyai tempat tersendiri di hati Reza.
Melihat Alin yang terus terisak dalam tangisnya, ia segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan menghampiri Alin. Di usapnya air mata Alin lalu dibawanya kepala Alin dalam dekapannya. Ia berusaha untuk menenangkan Alin.
Reza membelai rambut serta punggung Alin agar dia lebih tenang lalu menghentikan tangisnya. Sedangkan Alin semakin mengeratkan pelukannya. Ia merasa tenang juga damai dalam pelukan pria yang selama ini dirindukannya.
"Ezza,, apa aku masih ada dihatimu saat ini?"
Dengan suara yang bergetar Alin ingin memastikan kebenaran yang ingin di dengarnya.
" Kau akan selalu ada di ruang tertentu dalam hatiku, dan tak akan ada yang bisa menggantikannya sampai kapan pun itu, dan semua kenangan kita juga selalu tersimpan rapat dalam lubuk hati terdalamku, tapi,,,"
Belum sempat Reza menyelesaikan ucapannya, Vino sudah berbincang dengan seseorang.
Sontak itu membuat Reza dan Alin terkejut lalu menoleh kearah sumber suara.
__ADS_1
"Nona, kenapa hanya mematung di luar, ayo masuk,,,"
Tanya Vino yang masih terlihat bingung saat mendapati Lili yang hanya berdiri di luar pintu ruang kerja Reza.
Sedang Lili yang kepergok oleh Vino hanya bisa tersenyum tipis,
"Nanti saja aku kembali Vino, waktunya tidak tepat, aku tidak ingin mengganggu sepasang kekasih yang sedang berbahagia, aku hanya ingin menyerahkan ini saja, tolong kasihkan sama dia, makasih ya Vino,,,"
Ucap Lili sambil memberikan sebuah kartu undangan pernikahan yang tertera nama Jay disana.
Ia ingin melangkah pergi namun tangannya sudah tercekal oleh Vino.
"Apa maksud semua ini, tak bisakah semua dipikirkan kembali, kenapa berakhir seperti ini, dalam rahimmu juga ada kehidupan baru bukan?"
Vino menatap tajam kearah Lili, ia sudah tak memikirkan lagi jika ia akan dapat amukan dari seorang Liliana karena berani menghalangi langkahnya.
"Tuan Vino yang terhormat, tolong lepaskan tangan anda, karena kita bukan muhrim, dan anda tak berhak ikut campur dengan keputusan saya, karena anda bukan siapa siapa saya, jadi tolong, jangan halangi langkah saya."
Lili menatap tajam ke arah Vino, sebenarnya ia ingin sekali cepat pergi dari tempat itu karena sudah tak tahan lagi dengan sakit hatinya yang mendengar serta melihat Reza bersama Alin sedang berpelukan. Air matanya hampir jatuh namun sekuat tenaga di tahannya. Ia ingin secepatnya menumpahkan air mata itu di dalam kantornya hingga tak seorang pun yang dapat melihat luka hatinya.
"Kau tak dengar pintanya, lepaskan dia, biarkan dia pergi, toh disini juga tak ada tempat untuknya lagi."
Bagai disambar petir disiang hari, Lili mendengar ucapan itu, ucapan dari bibir seseorang yang sangat dirindukannya, dan ia berharap bisa memberitahukan kabar gembira untuk Reza, namun setelah mendengar ucapan Reza, ia pun mengurungkan niatnya, lalu tersenyum getir dan pergi dari tempat itu tanpa menoleh ke belakang dan diam seribu bahasa.
"Dasar bodoh,,, kau melewatkan kesempatan terakhirmu dengannya, ia sedang mengandung anakmu, jadi maafkan aku jika harus mengambilnya darimu."
Tiba tiba saja Jay sudah berdiri di belakang Reza.
"Sialll,,,"
__ADS_1
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น