
Waktu terus bergulir, dari hari ke hari, hingga tanpa terasa sudah sebulan dari peristiwa itu.
Dimana pertengkaran yang terjadi di ruang rapat telah menyisakan luka untuk banyak orang.
Angin yang berhembus sepoi sepoi, menampar wajah yang kini tengah duduk menyendiri di sebuah bangku taman. Senyumnya mengembang, tatkala melihat seorang gadis kecil sedang bermain ayunan dengan pria yang kini telah memberi warna baru dalam hidupnya.
Iya,,, meski hatinya masih mencintai Reza, namun ia dapat merasakan kasih sayang yang tulus dari Jay untuknya. Perhatian dan pengertian seorang Jay mampu membuatnya nyaman, hingga sedikit demi sedikit ia bisa melupakan sakit hatinya yang masih menganga.
Meski terkadang kerinduannya pada sosok Reza masih membebani hatinya hingga terasa sesak di dadanya.
Namun dengan kehadiran malaikat kecil serta Jay, mampu membuatnya tetap tersenyum melewati hari harinya kini, meski jauh di lubuk hatinya tetap menangis, mengingat kekasih hatinya yang kini telah ia tinggalkan.
Semenjak hari itu, Lili juga Cahya di bawa oleh Jay ke Cina. Dimana menjadi tempat kelahiran Jay serta pusat dari Ceofeng Company.
Disinilah kini Lili berada, meski nampak asing dengan sekitarnya, namun ia merasa bahagia karena dikelilingi orang yang menyayanginya dan ingin melindunginya dari Arsen.
Saat Lili sedang larut dalam lamunannya, tanpa ia sadari ada seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik juga anggun duduk disampingnya. Ikut tersenyum melihat kedekatan antara Jay dan Cahya. Gadis kecil itu nampak bahagia sekali, tertawa lepas saat Jay mengayunkan ayunannya.
"Om,,, lebih cepat lagi Om,,, ha,, ha,, ha,,"
Tawa Cahya terdengar begitu riangnya hingga membuat sapa saja yang mendengarnya ikut tersenyum, terlarut dalam kebahagiaan yang diciptakan oleh gadis itu.
Begitupun dengan Lili juga Bunda Aisyah.
"Ok,,, tapi nanti jangan nangis ya,,,kalau Om ayun kencang sedikit,,"
Senyum licik Jay terbit di bibirnya, ia pun mengayunkan ayunan itu dengan cukup kencang, membuat Cahya ketakutan hingga memegang erat kedua tali ayunannya sambil menutup mata.
"Om,,, Cahya takut,,, sudah Om,,, jangan kencang kencang,,, aaaa,,,,"
Teriak Cahya sambil memeluk erat tali ayunan, ia sangat takut akan terjatuh dari ketinggian.
Jay pun terkekeh melihat ulah Cahya, ia memang suka jahil pada gadis kecil ini juga pada Lili. Ia pun menahan kuat ayunan agar mau berhenti dari udara.
Saat ayunan sudah terhenti, ia pun membantu Cahya untuk turun.
Wajah Cahya nampak pucat pasi, sungguh ia merasa ketakutan dengan ketinggian ayunan tadi.
__ADS_1
"Om jahat,,, sengaja ya mau mencelakai Cahya,,,"
Tutur gadis kecil itu sambil cemberut dan memukul lengan Jay.
"Ha,,, ha,, ha,,, mana ada Om jahat sayang, Om sayang banget sama Cahya, gimana kalau kita berenang,,,"
ajak Jay sambil menggendong tubuh Cahya ke arah kolam renang.
"Ajari Ahya ya Om,,, Ahya tidak bisa berenang,,,"
tuturnya polos sambil memeluk tubuh Jay.
"Iya sayang,,, apa sih yang tidak buat Cahya,,,"
Jay mencubit pelan hidung Cahya membuat gadis kecil itu cemberut, namun Jay malah tertawa terbahak melihatnya. Dipeluknya Cahya dalam gendongannya dengan penuh kasih sayang.
Dan akhirnya mereka pun berenang bersama, kebahagiaan terlihat jelas dari tawa mereka yang asyik bermain air.
"Mereka sungguh dekat kan sayang, seperti Papa dan putrinya saja,,,"
Suara itu pun menyadarkan Lili dari lamunannya. Lalu menoleh kesampingnya.
Lili memeluk wanita paruh baya yang masih terlihat cantik serta pesona keanggunannya.
"Tentu saja kau tak menyadari kehadiranku sayang,,, kau asyik dengan lamunanmu, apa kau sedang merindukan putra Bibi sayang?"
Tuturnya lembut sambil membelai rambut dan punggung Lili.
Lilipun melepas pelukannya, tersenyum tipis lalu mengangguk pelan pada Bibinya.
"Bersabarlah sayang,,,Bibi yakin ia juga merindukanmu,,,meski kini ada wanita lain disampingnya. Bibi yakin suatu saat kalian akan bersama lagi."
Ucapnya sambil menakupkan kedua tangannya di pipi Lili lalu mencium keningnya.
"Aku sudah mengikhlaskannya Bibi, aku tak ingin merebut kebahagiaan wanita lain.Sekarang pun aku cukup bahagia bersama kalian."
Lili menyandarkan kepalanya di bahu Nyonya Aisyah. Beliau pun membelai rambut Lili dengan lembut.
__ADS_1
"Terima kasih sayang,,, untuk semua pengorbananmu selama ini, maafkan Bibi menjadi penyebab masalahmu."
Tuturnya lirih, tanpa terasa buliran bening pun menetes dari pelupuk matanya. Membuat Lili mengangkat kepalanya, dengan lembut Lili menghapus buliran bening itu sambil menggelengkan kepalanya pelan, senyuman tipis terbit dibibirnya.
"Ini bukan salah Bibi, karena disini Bibi juga korban dari pria itu, dia yang ingin menghancurkan keluarga kami, karena Papa lah yang jadi penyebabnya. Meski itupun bukan murni kesalahan Papa, karena wanita itu yang menjebaknya. Namun karena peristiwa itu kita harus menanggung semua masalah ini Bibi,,, maafkan Papa."
Kini justru Lili yang berderai airmata, mengingat semua yang telah terjadi, namun inilah takdir kehidupan yang harus dijalaninya, terpisah dari orang yang sangat dicintainya.
"Kita berjuang bersama ya sayang, mengambil kembali kebahagiaan kita yang telah lama kita rindukan."
Bibi Aisyah pun memeluk Lili, mereka saling berpelukan sambil meneteskan air mata, saling meluapkan sesak yang ada di dada mereka.
Hingga ada teriakan dari arah kolam renang yang membuat mereka melepas pelukannya, bergegas lari kearah kolam renang.
" Cahyaaaaa,,,,"
teriak Lili yang melihat Cahya sudah mengapung di kolam renang, tanpa berpikir panjang ia pun terjun ke kolam renang meraih tubuh Cahya lalu membawanya ketepian.
Dibantu Bibi Aisyah ia menaikkan tubuh Cahya ke tepi kolam renang. Segera ia melakukan penyelamatan pertama, dipompanya dada Cahya berusaha mengeluarkan air yang telah masuk kedalam tubuh Cahya, ia pun melakukan itu berulang kali sambil memberikan nafas buatan pada gadis kecilnya. Namun Cahya tetap nyaman dalam diamnya, hanya sedikit demi sedikit air mulai keluar dari mulutnya.
"Cepat panggilkan Dokter keluarga kita,,,"
Teriak Bibi Aisyah pada asisten rumah tangganya. Ia pun cemas melihat keadaan Cahya.
Asisten rumah tangga yang mendengar teriakan Nyonya Aisyah segera menelpon Dokter keluarga itu.
"Sayang,,, ku mohon sadarlah,, jangan menakutiku sayang,,, Cahya,,, bangun sayang,, jangan tinggalin Kakak juga,,, kamu penerang hidupku sekarang,,, kumohon sayang,,, bukalah matamu,,, Cahyaa,,,,"
kecemasan Lili membuatnya tak dapat mengontrol nada bicaranya, ia berteriak sambil terus memompa dada Cahya dan memberikan nafas buatan dari mulut ke mulut.
Kegaduhan yang terjadi terdengar oleh Jay, ia pun segera berlari ke kolam renang.
"Apa yang terjadi dengan Cahya,,,?"
Jay pun segera mengangkat tubuh gadis kecil itu masuk ke dalam rumah, merebahkannya di ruang tamu, sedang Bibi Aisyah berlari ke kamar Cahya mengambil baju gantinya.
Lili hanya bisa menangis sambil mengusap tangan Cahya membuatnya tetap hangat. Ia pun menatap tajam ke arah Jay.
__ADS_1
" *Jika terjadi apa apa dengan Cahya,,, aku tidak akan pernah memaafkanmu,,,"
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*