GAME LOVE

GAME LOVE
Bab 43 luka hati


__ADS_3

Sementara itu di Mansion Arsen, nampak seorang wanita sedang menangis setelah mengirim pesan ke ponsel Lili. Ia merasa bersalah pada Lili.


Ingin rasanya ia berlari keluar dari Mansion, lalu menceritakan semua kebenaran pada Lili, namun apa daya, ia tak kuasa untuk melakukannya.


Hanya airmata yang menemaninya tiap hari. Kerinduan Alin pada sosok yang dicintainya, membuat Alin semakin tak berdaya dengan situasi ini.


Ia tau, jika janin yang ada di dalam kandungannya sekarang bukanlah anak Reza, melainkan benih yang ditanam oleh Henry di dalam rahimnya.


Sesaat ia teringat malam itu, saat ia tak sadar karena luka tembaknya.


Meskipun ia berada di alam bawah sadarnya, namun ia bisa merasakan apa yang terjadi dengan tubuhnya.


Seakan ada yang sedang mempermainkan tubuhnya.


Ingin rasanya ia berteriak, namun apa daya, ia tak bisa berbuat apa apa hingga semuanya terjadi.


Dan dia baru tau jika pria itu adalah Henry, orang yang selama ini dianggap Kakak olehnya.


Kini semuanya terasa hancur bagi Alin, impian hidup bersama dengan Reza, mengarungi indahnya bahtera cinta, pupus hilang diterpa ombak prahara.


Sungguh saat ini ia sangat membenci sosok Henry. Pria yang sudah dianggapnya seperti seorang Kakak, yang selama ini menjadi tumpuan dia berbagi semua suka dukanya, yang tau serta mengerti akan perasaannya, justru telah menodai kesuciannya, serta hubungan persaudaraan mereka.


Kini ia hanya bisa menangis meratapi semua yang telah terjadi. Luka hati dan ketidak berdayaan membuatnya mengambil langkah salah ini. Mengatakan pada Lili bahwa ia mengandung anak Reza.


Karena ia tak mau hidup dengan pria yang sangat dibencinya sekarang.


Apalagi ia tau jika semua ini rencana Arsen, untuk memisahkan Lili dengan Reza. Hingga penjebakan itu terjadi. Saat Lili masuk ke dalam kamar Reza, ia melihat dengan mata kepalanya sendiri, jika suaminya telah tidur dengan wanita yang lain.


"Maafkan aku Lili, karena keegoisanku telah melukaimu sedalam ini, maafkan atas ketidak berdayaanku, aku hanya ingin hidup dengan pria yang sangat kucintai, meski itu harus mengorbankan perasaan kita, karena ku yakin engkau akan berlapang dada menerima semua ini, maafkan aku Lili,,,"


Buliran bening terus mengalir dari pelupuk matanya, membasahi bantal yang ada di pangkuannya, menjadi saksi betapa hancur hatinya saat ini.

__ADS_1


Tanpa disadari Alin, seorang pria telah mendengar semua perkataannya. Hatinya terasa hancur, melihat orang yang dicintainya justru membencinya dan ingin hidup bersama dengan pria yang lain. Namun senyum penuh kemenangan serta kelicikan tersungging di bibirnya.


"Lakukan apa yang ingin kau lakukan sayang,,,tapi aku juga tidak akan menyerah dengan cintaku, apa lagi aku memiliki harta yang paling berharga di rahimmu."


Tuturnya lirih kemudian meninggalkan kamar Alin.


Selang beberapa saat ia kembali dengan membawa nampan makanan juga obat serta vitamin untuk Alin.


Iya pil penguat kandungan dan penghilang rasa mual, karena Alin sering mual serta merasakan pusing.


Setelah insiden Alin ingin mengakhiri hidupnya kemarin, maka Henry lah yang menjaga serta merawatnya.


" Alin sayang,,,makan dulu dan minum obatmu!"


Ucanya seraya ingin menyuapi Alin. Namun tangannya ditepis oleh Alin.


"Pergi! Aku tak butuh bantuanmu! Jauhi kami, kalau tidak aku akan nekat mengakhiri hidupku lagi, aku tak ingin melihatmu, aku membencimu, pergi!!!"


" Baiklah aku pergi, tapi kamu harus makan, jangan egois, pikirkan juga calon bayi kita."


" Pergiiii,,!!!!"


Usirnya pada Henry, dengan terpaksa serta menahan marahnya Henry meninggalkan Alin yang kembali berderai air mata.


******


Sementara itu, Lili tak kuasa menahan luka hatinya, dadanya terasa sesak, tiba tiba semua menjadi kabur dan gelap, ia pun jatuh pingsan dalam pelukan Reza.


" Sayang sadarlah,,, Lili,, kumohon sadarlah sayang,,,"


Reza menepuk nepuk pipi Lili, berusaha menyadarkannya, namun Lili tetap tak membuka matanya.

__ADS_1


" Cahya, bantu Om membuka pintu mobil ya sayang,,,"


Ucapnya seraya membopong tubuh Lili ke dalam mobil.


Cahya yang juga merasa cemas dengan keadaan Lili pun segera berlari mengikuti langkah Reza yang terlalu cepat baginya. Segera ia membuka pintu mobil.


Kini mereka dalam perjalanan ke Rumah Sakit, dengan kecepatan penuh Reza melajukan mobilnya membuat Cahya takut dan berteriak.


"Om pelan pelan, Cahya takut om,,hikss,,, hikkss,,,"


Suara tangisan Cahya yang menggema di mobil membuat Reza semakin panik.


" Iya sayang, maafkan Om jika membuat Cahya takut, Om mencemaskan Kakak Lili."


Tuturnya lembut sambil mengusap rambut cahya, berusaha menenangkan gadis cilik itu agar berhenti menangis.


Namun Cahya tidak kunjung berhenti nangisnya, membuat Reza kalang kabut dibuatnya, ia bingung antara fokus mengemudi dengan menenangkan Cahya agar berhenti menangis.


Tanpa mereka sadari Lili tersenyum melihat adegan itu. Meskipun tubuhnya terasa lemah, dan hatinya hancur berkeping keping, namun ia tetap tersenyum dihadapan Cahya.


Dengan lembutnya Lili membelai rambut Cahya, menariknya pelan agar duduk di sampingnya, Reza yang melihat Lili sudah tersadar merasa lega hatinya, meskipun ia tau apa yang akan terjadi selanjutnya nanti. Dan ia harus bisa menerima kenyataan meskipun itu pahit.


"Sayang,, jangan menangis lagi ya,,, Kakak terbangun mendengar suara tangismu."


Cahya mengangguk lalu berlindung dalam pelukan Lili yang menghapus air matanya.


" Andai kau masih mengandung sayang,, itu akan menyatukan kita selamanya, Ya Allah,,, inikah ujian cinta kami,,,"


Reza hanya menatap Lili penuh ketakutan dan kecemasan, ia takut jika Lili tak bisa bertahan dan menyerah dengan hatinya.


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2