GAME LOVE

GAME LOVE
bab 41 kehamilan Salsa


__ADS_3

Setelah sehari dirawat di Rumah Sakit, Lili bersikeras ingin pulang kembali ke Indo, ia sudah merindukan semuanya, Bibi May, Zahra juga Bunda Ay. Meskipun semua orang melarangnya karena kondisinya yang belum stabil, namun ia tetap bersikeras kembali, karena pekerjaan juga sedang menunggunya.


Dan disinilah dia sekarang berada, disebuah kamar yang sangat dirindukannya. Kamar kedua orang tuanya.


Setelah mengedarkan pandangannya pada tiap sudut kamar yang memberikan kenangan kedua orang tuanya, kini Lili duduk di sofa sambil memeluk bingkai foto kedua orang tuanya dengan derai airmata yang tak bisa dibendungnya lagi.


Bunda Ay, Zahra, Bibi May dan Reza hanya bisa memandang Lili dari luar kamar, karena mereka tak diijinkan Lili memasuki kamar orang tuanya.


Namun mereka berusaha untuk tetap berada di dekat Lili, karena mereka takut, Lili akan berbuat hal nekat lagi, itulah yang dijaga oleh mereka.


"Sayang, boleh Bunda masuk?"


Suara lembut itu mengejutkan Lili yang terlarut dalam lamunannya.


Lili pun menoleh kearah sumber suara, lalu tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


" Masuklah Bunda,,," ucapnya kemudian.


Bunda Ay pun masuk, lalu duduk disamping Lili.


Dengan manjanya, Lili pun meletakkan kepalanya di pangkuan Bunda Ay, dengan tetesan air mata yang tersisa.


"Kenapa semua pergi meninggalkan aku Bunda, inikah hukuman untuk aku, yang ingin menjauh dari mereka selama ini, dan kini mereka benar benar pergi, Bunda,,,hikss,,hikkss,,,"


"Ikhlaskan mereka sayang, jangan seperti ini lagi, kamu hanya membuat mereka sedih disana melihatmu seperti ini, kamu harus kuat, tegar menghadapi cobaan, mungkin ini yang terbaik untuk mereka juga kita, kamu tak sendiri, ada kami juga Allah selalu bersamamu."


Dengan lembut Bunda Ay mengelus elus rambut Lili, seakan akan meninabobokannya, agar lelahnya hilang.


Lili merasakan begitu damai dalam belaian Bunda Ay, kasih sayang seorang Mama yang sangat dirindukannya kini bisa ia dapatkan.

__ADS_1


Perlahan seperti tersihir ia pun menutup matanya, tak lama kemudian ia pun masuk ke alam bawah sadarnya, hingga ia tak bisa merasakan kalau ada tangan yang sudah memindahkannya dari sofa ke tempat tidurnya.


Semuanya pun meninggalkan kamar itu, kecuali Reza yang menjaganya dengan duduk disamping tempat tidur sambil memandangi wajah lelah dan sembab Lili karena terlalu lama menangis, ia pun membelai rambut dan pipi istrinya dengan perlahan, takut jika ia akan membangunkan Lili.


Namun yang ditakutkan malah berbanding terbalik, Lili justru menarik tangannya hingga ia jatuh menimpa tubuh Lili,


"Ma,, jangan pergi lagi,, aku ingin tidur dalam dekapan Mama,,,"


Ucapnya namun dengan mata terpejam.


Reza hanya tersenyum mendengar istrinya ngigau, dia pun membaringkan tubuhnya lalu memeluk istrinya, membawanya dalam dekapannya.


"Tidurlah yang nyenyak, hilangkan lelah dan letihmu, moga esok jadi hari yang baru untukmu sayang."


Akhirnya Reza pun ikut tertidur, dalam posisi memeluk istrinya.


Sementara itu, disebuah apartemen mewah yang dihuni oleh seorang aktris ternama di negeri ini, nampak seorang pria sedang terbuai dalam mimpinya, ia seakan tak terusik oleh apa pun.


Mungkin karena tubuhnya sudah terlalu lelah setelah kegiatannya semalam. Tanpa henti ia terus mempermainkan tubuh Salsa, sampai mereka bisa memuaskan satu sama lain, hingga lelah mendera mereka lalu tertidur dengan lelapnya.


Pagi nan cerah, Sang Surya menyapa penduduk bumi dengan sinarnya, yang menghangatkan semua makhluk di alam semesta.


Udara yang tadinya terasa dingin, kini mulai terasa hangat karena Sang Surya yang tersenyum bahagia menyapa makhluk diseluruh alam.


Salsa pun turun dari tempat tidurnya setelah pantulan cahaya Surya menyinarinya. Tirai yang terbuka membebaskan cahaya Surya menerpa wajahnya.


Perlahan ia ke kamar mandi karena perutnya terasa diaduk aduk, kepalanya sedikit pusing, ia merasakan mual yang sangat.


Salsa pun memuntahkan semua isi perutnya, yang hanya berupa cairan saja karena memang perutnya kosong belum terisi apa pun juga.

__ADS_1


"Hoeekk,, hooeeekkk"


Tubuhnya terasa lemas, hampir ia terjatuh, untung dia berpegangan pada wastafel dan bersandar di dinding.


Untuk beberapa saat ia memulihkan kondisinya, setelah itu membersihkan dirinya dengan berendam di bathup.


Tiga puluh menit kemudian ia sudah keluar dengan jubah handuknya, nampak Aby sudah menatapnya dengan tajam.


Salsa pun tersenyum, lalu berjalan mendekati Aby dan duduk di sampingnya.


"Gugurkan anak itu, aku tidak mau ada skandal diantara kita sampai terendus keluar media, jika itu terjadi, kau tau apa resikonya untuk kamu."


Aby mencengkram dagu Salsa, menatapnya tajam, sampai Salsa meringis menahan sakit.


Dengan kasar Aby melepas cengkraman tangannya, lalu bangun dari duduknya, meninggalkan Salsa yang kini sedang menangis meratapi nasibnya.


" Aby,,, aku membencimu,," lirih Salsa sambil berderai air mata ia mengusap perutnya yang masih belum terlihat membesar itu, karena usia kehamilannya baru satu bulan.


" Aku bisa mendengar ucapanmu, kau bisa pergi dariku, aku membebaskanmu jika itu yang kau mau."


Aby pun melangkah ke kamar mandi dan membersihkan dirinya.


Salsa hanya bisa berderai air mata," Oh Tuhan,, inikah hukuman darimu untukku, mengkhianati orang yang menyayangiku dengan tulus."


Wajah Reza pun membayang di matanya," Aku akan mendapatkanmu lagi Reza, aku bersumpah akan mendapatkanmu lagi,,"


bisik hati Salsa sambil mencengkram sprei menahan marah dan luka hatinya.


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2