GAME LOVE

GAME LOVE
bab 69 malam pertunangan


__ADS_3

🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Seakan jantung ini berhenti berdetak


Saat kau ucap kata itu


Kau ingin akhiri


Ternyata hatimu tlah kau beri tuk dia


Dan kini kau jemu padaku


Sudah tak berarti


Indah ucapan manis bibirmu


Tak sebanding dengan hati dan lakumu


Dan kini kau pergi tinggalkan aku


Di saat ku mulai tulus mencintamu


Hancurkan impian


Dan semua harapanku


Kau hempaskan cintaku demi dia


Tak kau perdulikan sakit yang kurasa


Mudahnya dirimu


Hapuskan semua cerita kita


Ternyata hatimu tlah kau beri tuk dia


Dan kini kau jemu padaku


Sudah tak berarti


Indah ucapan manis bibirmu

__ADS_1


Tak sebanding dengan hati dan lakumu


Dan kini kau pergi tinggalkan aku


Disaat ku mulai tulus mencintamu


Hancurkan impian


Dan semua harapanku


Kau hempaskan cintaku demi dia


Tak kau pedulikan sakit yang ku rasa


Mudahnya dirimu


Hapuskan semua cerita kita


🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶🎶


Suara tepuk tangan mengiringi langkah Lili yang turun dari panggung pentas, tempat para musisi menghibur tamu undangan yang hadir saat itu.


Banyak pasang mata yang tertuju padanya, namun ia seakan cuek dengan sekelilingnya, bahkan teguran Mark pun tak dihiraukannya.


"Kak Lili tak apa apa kan?"


Tanya Erlangi saat Lili sudah memasuki mobilnya.


"Bohong kalau aku baik baik saja Er, tapi demi kebahagiaan semua aku harus ikhlas dan sabar jalani ini semua."


Balas Lili sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi mobil.


Ia pun memandang lurus ke depan. Seakan ia larut dalam pemikirannya sendiri, membuat Erlangi hanya bisa mengambil nafas berat dan menghembuskannya perlahan. Ia pun hanya bisa terdiam sambil melepaskan pandangannya ke luar jendela mobil. Ia ingin sekali menikmati pemandangan yang disuguhkan oleh kota ini, namun semua hanya sia sia saja, karena hatinya sekarang pun tak tenang dengan apa yang menimpa Kakak dan Kakak Iparnya.


"Kenapa takdir begitu mempermainkan keduanya, moga kalian bisa bertahan dengan cobaan ini."


Bisik hati Erlangi sambil melirik sekilas ke arah Lili, yang kini sedang memejamkan matanya.


Nampak jelas rona kelelahan di wajah yang terlihat cantik alami itu, meski tanpa riasan ia menghadiri acara pertunangan suaminya dengan wanita yang lain.


Iya,,, kini mereka sedang berada di Ausie, seminggu setelah mereka bersama di apartemen Reza, mereka harus berpisah lagi karena ulah Arsen yang semakin menjadi.

__ADS_1


Reza dan Lili pun sepakat untuk bersandiwara di depan Arsen seta menuruti semua rencana Arsen. Hingga mereka menemukan apa yang menjadi tujuan mereka.


Akhirnya, setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam, akhirnya mobil mereka memasuki halaman sebuah rumah mewah yang dijaga oleh puluhan bodyguard. Iya,,, mereka semua anak buah Dell Marvino juga Reza yang ditugaskan untuk menjaga keselamatan Lili selama ada di Ausie.


Karena kota ini adalah daerah kekuasaan Arsen, namun kini beralih ke tangan putra semata wayangnya.


Setelah mobil Lili terparkir di garasi mobil, nampak dua mobil lainnya turut memasuki halaman rumah yang sangat luas itu, iya mereka adalah Vino dan anak buahnya.


Reza tak mau kecolongan saat acara pertunangannya berlangsung, Arsen sang Papa akan melancarkan aksinya pada Lili. Makanya ia menyuruh Vino yang menjaga istri dan adik tirinya secara langsung dengan bodyguard yang terpilih kesetiaannya dan kemampuannya.


Lili dan Erlangi pun turun dari mobil mereka di ikuti oleh Vino dan.yang lain. Mereka pun segera masuk ke dalam rumah, sedangkan anak buahnya kembali pada posisi mereka masing masing.


Lili dan Erlangi pun memasuki kamar mereka sendiri sendiri, begitu juga dengan Vino karena memang sudah terlalu larut malam. Hingga mereka terbuai dalam buai mimpi mereka.


********


Sementara itu, di sebuah kamar hotel tempat acara pertunangan berlangsung, nampak Alin baru selesai mandi dengan rambut yang masih basah, ia keluar dari kamar mandi dengan jubah handuknya serta handuk kecil yang melilit rambutnya.


Perlahan ia berjalan mendekati Reza yang sibuk dengan laptopnya. Ia pun duduk di samping Reza.


"Istirahat dulu, pasti kamu capek kan?"


Seraya menutup laptop Reza dan memberikan segelas jus pada Reza.


Mulanya Reza ingin marah, namun melihat senyum tulus dari Alin, membuatnya mengurungkan niatnya. Lalu menerima jus itu dan segera meminumnya tanpa rasa curiga. Karena tak mungkin Alin akan macam macam dengannya.


Namun, selang beberapa menit, ia merasakan pusing yang teramat hingga ia pun memegangi kepalanya, dan menggelengkannya pelan, berusaha mengusir rasa itu dari kepalanya.


"Kau kenapa Eza, apa ada yang salah dengan minumanmu?"


Alin mulai panik saat ia menyadari tatapan liar sudah tertuju padanya.


Ia pun segera bangkit dari duduknya dan berusaha menjauhi tubuh Reza, namun sayang, gerakannya terlalu lamban hingga Reza pun menarik tubuhnya ke dalam pelukan Reza.


"Aku sangat merindukanmu, aku sangat mencintaimu, jangan pergi lagi."


Alin yang mendengar perkataan Reza hanya bisa diam terpaku, untuk sesaat ia hanyut dalam rasanya selama ini, ia sungguh merasa damai dalam dekapan pria yang sangat dicintainya dulu. Hingga ia tersadar saat Reza telah mengangkat tubuhnya dan membawanya ke tempat tidur lalu merebahkannya.


"Eza, apa yang kau lakukan,,, ingat Lili,,,"


Namun ucapan Alin tak dihiraukan oleh Reza. Ia pun mulai mendekatkan wajahnya pada tubuh Alin.

__ADS_1


"*Jangan,,,"


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*


__ADS_2