
Malam ini nampak kilat menyambar nyambar di angkasa, awan yang hitam pekat serta derasnya hujan menambah suasana semakin mencekam. Di ruang yang hanya diterangi lampu yang temaram nampak seorang pria sedang memandangi sebuah foto yang sangat dibencinya. Diambilnya sebilah belati kecil yang sangat tajam lalu di lemparkan hingga mengenai kening foto tersebut. Darahnya mendidih saat mengingat kejadian 25 tahun yang lalu.
Peristiwa yang mengubah hidupnya menjadi pria yang benar benar tak punya hati. Dimana ia menyaksikan sendiri adik tersayangnya harus dilarikan ke rumah sakit jiwa saat mengetahui pria yang sangat dicintainya menikah dengan orang lain, saat itu ia habis melahirkan seorang putra, benih dari pria yang dicintainya. Meski dengan cara yang menjijikkan, yaitu menjebak pria tersebut dengan obat perangsang. Hingga terjadilah peristiwa yang mengubah hidup masing masing.
"Sanjaya,,, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakan dendam ini, kau harus membayar semua derita adikku setiap menitnya." geram Arsen sambil melempar kembali pisau itu ke dinding, tepatnya ke foto Sanjaya.
Meskipun berita kematian Sanjaya telah diterimanya, namun ia tidak percaya jika Sanjaya dan Zahira benar benar sudah tiada. Ia terus mencari tahu tentang keberadaan berita tersebut.
Setelah menguasai Sanjaya Group yang kini menjadi milik Reza. Arsen ingin menghancurkan Ceofeng, pria yang telah berani memperistri wanita yang sangat dicintainya.
"Kalian berdua tidak akan pernah aku lepaskan." geramnya dengan dada yang sudah kembang kempis menahan bara amarahnya.
"Tuan,,,"
__ADS_1
Tiba tiba saja ada anak buahnya yang datang melapor padanya. Nampaknya ada berita penting hingga anak buah itu terlihat tergopoh gopoh menghadap padanya.
"Maafkan saya Tuan,,, sudah berani lancang mengusik ketenangan Tuan, tapi anak buah kita yang berada di China mengabarkan jika Ceofeng sedang mengumpulkan kekuatan untuk menyerang kita, setelah kabar penyanderaan Nyonya Aisyah terdengar di telinganya." Dengan sedikit gemetaran bodyguard tersebut menyampaikan informasi yang sudah di dapatkannya.
"Siapkan semua orang orang kita, pilih yang terbaik, kita hancurkan klan Ceofeng sampai ke akarnya." Mata Arsen nampak memerah memancarkan kebencian yang teramat dalam.
"Baik Tuan,, saya mohon diri." Jawab bodyguard tersebut yang menundukkan kepalanya memberi hormat pada bos besar mereka.
Ares pun melangkahkan kakinya menuju kamar di mana kini Mama Aisyah berada. Tanpa disadari oleh Arsen, ternyata Mama Aisyah sudah sadar sejak Arsen menitikkan air mata dan menumpahkan semua beban yang ada di dadanya, membuat Mama Aisyah juga merasakan hal sama. Luka namun tidak berdarah, namun terasa jauh lebih menyakitkan. Sepeninggal Arsen, ia pun menangis sejadi jadinya meluapkan semua rasa yang menghimpit kalbunya selama ini.
Mama Aisyah berhenti menangis saat ada langkah kaki yang berjalan mendekat kearah kamar yang ia tempati. Saat pintu terbuka, ia bisa melihat Papa dari putranya yang pertama sedang berjalan kearahnya. Ia sedikit gugup lalu menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Kau sudah bangun sayang,,," Pertanyaan Arsen tidak mendapatkan jawaban dari Mama Aisyah. Ia masih bersembunyi di bawah selimutnya. Arsen hanya tersenyum melihat kelakuan Mama Aisyah yang dianggapnya seperti anak kecil itu. Ia pun semakin mendekati ranjang tersebut lalu duduk di tepinya.
__ADS_1
"Jangan menguji kesabaran ku Ais,,, aku tahu kamu sudah sadar, bukalah selimutmu, aku ingin bicara."
Namun sekali lagi Mama Aisyah tidak menuruti perkataan Arsen membuat pria itu semakin naik darahnya sampai ubun.ubun.
"Kau tidak mendengarkan ku Ais,,," kini selimut penutup Mama Aisyah sudah beralih tempat ke lantai. Memperlihatkan Mama Aisyah yang berwajah pucat melihat mantan suaminya yang sudah menatapnya seperti singa kelaparan yang siap untuk memakannya hidup hidup.
"Ma,, maafkan aku mas,,, bu,,, bukan maksud ku untuk menentang Mas,,," ucapnya dengan tubuh gemetaran.
Arsen tersenyum dingin menatap pada Mama Aisyah. " Aku sangat merindukanmu Ais,,," tiba tiba saja Arsen sudah mengukung Mama Aisyah di bawah tubuhnya
"Jangan Mas,,, aakkhhh,,," teriak Mama Aisyah.
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1