GAME LOVE

GAME LOVE
bab 57 benci atau cinta


__ADS_3

Siang yang semakin terik serta udara yang semakin panas tak menyurutkan para wartawan untuk mencari berita terhangat dan terbaru. Mereka rela berdesak desakan demi mendapatkan posisi terbaik saat melakukan wawancara dengan target mereka.


Kini, di depan gedung Sanjaya Group sudah berkerumun para wartawan yang haus akan berita tentang skandal yang dilakukan oleh Presdir yang terkenal dingin dalam membereskan saingan bisnisnya.


Vino nampak menahan geram pada para wartawan itu, karena mereka berani menjelek jelekkan sahabatnya atas apa yang menimpa Alin.


Ia mencoba menghubungi ponsel Reza, namun tak ada jawaban dari empunya ponsel. Membuat Vino semakin marah, ia mondar mandir di depan ruang kerja Reza yang masih terkunci.


"Inilah yang buatku jengkel, kalau sudah bertemu dengan Lili, pasti lupa akan waktu."


Geram Vino yang tak menyadari ada gadis sedang berdiri di belakangnya.


"Ekheemmm,,"


Gadis itu berdehem pelan sambil menatap tajam ke arah Vino.


Vino yang menyadari ada orang dibelakangnya pun segera melihatnya. Dan ia terkejut sudah mendapati Erlangi ada di belakangnya.


"Sejak kapan kau membuntutiku,,"


tanya nya sambil memandang Erlangi dengan penuh selidik.


"Aku tak perlu menjawab pertanyaanmu, nggak penting bagiku, aku hanya ingin menjemput Kakak Ipar,,,"


Balasnya dengan angkuh, sambil berjalan menabrakkan bahunya dengan lengan Vino karena menghalangi jalannya. Otomatis membuat Vino memundurkan tubuhnya.


"Dasar gadis gila,,,"


ucapnya lirih sambil memandang ke lain arah, namun bisa di dengar oleh Erlangi.


"Apa kau bilang? Ucap sekali lagi kalau tak ingin sepatu ini mendarat di wajahmu."


Erlang sudah bersedekap memandang tajam.dan sinis ke arah Vino.


"Dasar beruang kutub, kenapa punya adik seperti singa betina, apa memang mereka keluarga dari golongan hewan, heran aku."


Gumam Vino dalam hati sambil mempersilahkan Erlangi membuka pintu ruangan Reza dengan isyarat tangannya. Ia tak mau bersitegang dengan Erlangi lagi karena ada urusan yang lebih penting.


Karena Vino hanya diam dan memberinya isyarat untuk membuka pintu, maka Erlangi pun membuka pintu ruang Reza dengan memecahkan kodenya, membuat Vino memelototkan matanya tak percaya, jika gadis itu menemukan kode sandinya hanya dalam hitungan menit.

__ADS_1


"Kenapa kau dengan mudah bisa membuka pintu ini, aku hampir satu jam mencobanya namun tidak bisa."


Ucap Vino sambil memegang kode pintu ruangan Reza.


"Karena kamu bodoh, coba kalau kamu pintar, pasti da kebuka,,, ha,,, ha,, ha,,"


Erlangi tertawa sambil senyum mengejek kearah Vino, membuatnya ingin sekali membalas wanita menyebalkan di depannya saat ini.


"Untung kamu adiknya Bos, kalau tidak,,,"ucapan Vino terputus karena Erlangi mematahkannya.


"Kalau tidak apa?? Kau mau membalasku, coba saja kalau berani, meski tanpa kedua Kakak ku, dengan mudah aku akan mengalahkanmu, dasar bodoh,,"


Erlangi mencibirkan bibirnya seakan meremehkan Vino. Membuat pria itu hanya bisa mengepalkan tangannya dengan erat. Giginya saling beradu, rahangnya sudah mengeras, wajahnya nampak merah padam menahan marahnya.


Namun Erlangi tak menghiraukannya, ia segera masuk ke ruangan Reza diikuti Vino dibelakangnya.


"Kakak Ipar,,, cepat keluar, ,,,dasar tukang buat masalah,,, ternyata benar kamu itu pembawa sial, dan aku selalu sial jika berurusan denganmu,,ayo cepet keluar,,,!"


Suara Erlangi menggema di ruangan kerja Reza. Dia terus berteriak memanggil nama Lili.


"Kakak Ipar,,, cepet keluar,,, kalau tidak,,, "


Belum sempat Erlangi menyelesaikan kalimatnya Vino sudah berdiri tegap di depannya dengan bersedekap.


"Kalau tidak apa, kau ingin mendobrak pintu kamar mereka, oh,,, aku lupa ,,, kalau kau itu jenius soal membobol kode, silahkan,,, buka saja,,, pasti kau akan malu sendiri,,, ayo lakukan!"


Dengan senyum mengejeknya Vino nampak puas melihat wajah Erlangi yang berubah menjadi kemerahan menahan malunya.


"Dasar adik sama Kakak sama saja, untung cantik,,,kalau tidak,,,"


gumam Vino lirih namun bisa di dengar oleh Erlangi.


"Kau bilang apa barusan? Kau ingin aku membunuhmu ya?"


Suara Erlangi sudah meninggi lagi, naik beberapa oktaf dari sebelumnya, membuat Vino menutup telinganya yang terasa sakit karena teriakan Erlangi.


"Nona, apa kau tak malu jika dirimu sendiri, apa seperti itu ucapan dari seorang wanita yang terpelajar, tak ubahnya seperti preman pasar ,,,"


Vino melirik kearah Erlangi yang kini sudah berkacak pinggang ke arahnya.

__ADS_1


Raut wajahnya sudah merah padam, tak ada seorang pun yang berani mengatainya selama ini, bahkan kedua orang tuanya juga Jay sangat menyayanginya, apa pun maunya pasti dituruti.


Tapi sekarang, hanya seorang asisten saja berani mengatainya, ia sungguh geram menatap ke arah Vino. Dengan amarah yang membara di dadanya ia pun berdiri tepat di depan Vino.


Tinjunya segera dilayangkan kearah wajah Vino, namun dengan cepat Vino menghindarinya.


"Ufhhh,, untung saja tidak kena,,,"


senyum mengejek pun terbit di bibir Vino, membuat Erlangi semakin bertambah marahnya.


Sejurus kemudian mereka saling menunjukkan keahlian bela diri masing masing, entah untuk berapa lama mereka saling memberi dan menerima pukulan dan tendangan diantara keduanya, namun meskipun begitu tak ada yg terluka diantara mereka.


Meski Vino jengkel serta marah sama Erlangi, ia masih bisa menjaga agar adik dari Bos dan sahabatnya itu tidak terluka. Berbeda dengan Erlangi yang bernafsu sekali bisa menghabisi pria di depannya saat ini.


Hingga saat ia hendak mengayunkan tinjunya namun menemui ruang kosong, saat itu posisinya sudah tidak stabil namun tetap memaksakan dirinya untuk melakukan pukulan dan tendangan, al hasil justru dia sendiri yang kehilangan keseimbangan dan hampir jatuh.


Untung Vino segera menangkap tubuhnya. Dengan posisi tangan Vino yang kiri menahan tubuh Erlangi dan yang kanan menggenggam tangan Erlangi. Tatapan keduanya pun saling bertemu, tanpa mereka sadari entah berapa lama mereka dalam posisi itu, saling menyelami dalamnya manik mata keduanya, seakan mencari sesuatu di sana. Hingga,,,


"Ekheemm,,,"


Suara deheman itu membuyarkan lamunan mereka.


"Mau sampe kapan kalian bermesraan seperti itu?"


Senyuman tipis menghiasi bibir yang merah merona itu.


Karena terkejut mendengar ucapan Lili, dengan refleks Vino melepas pelukannya, membuat Erlangi jatuh ke lantai.


Tanpa rasa bersalah Vino dengan santainya melangkah menjauh dari Erlang menuju ke meja kerja Reza, yang kini sudah di duduki oleh empunya.


Lili yang melihat Erlangi meringis menahan sakit di pinggangnya pun membantu gadis itu untuk berdiri. Mereka pun melangkah ke arah sofa yang tak jauh dari tempat Erlangi terjatuh tadi.


"Dasar pria menyebalkan, awas saja akan ku buat perhitungan denganmu nanti."


geramnya lirih namun bisa di dengar oleh Lili.


Senyuman menggoda pun terbit di bibirnya untuk adik iparnya itu.


"Ingat Er,,,, benci bisa jadi cinta,,, jangan terlalu membenci ataupun mencintai,,, karena kita tak tahu kapan benci jadi cinta,, dan kapan cinta bisa menjadi benci,,,"

__ADS_1


Lili pun melirik kearah Reza yang juga sedang menatapnya dengan intens.


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2