GAME LOVE

GAME LOVE
Bab 55 pertengkaran manis


__ADS_3

Suasana rapat kini seakan mencekam. Tak ada suara yang terlontar dari semua yang mengikuti meeting saat ini. Mereka seakan terhanyut dalam pemikiran masing masing. Reza memandang tajam kearah Lili yang sibuk dengan berkas berkasnya.


Tanpa sengaja kini tatapan mereka tengah bertemu, untuk sesaat Lili terpaku melihat pria yang kini telah berubah seperti semula, dingin seperti kutub es. Namun tatapan itu terputus saat Jay memulai pembicaraannya, setelah berbicara panjang lebar menjelaskan hasil kerjasama mereka, serta produk yang akan dibuat selanjutnya, Jay pun memberikan kesempatan pada semua yang belum paham untuk bertanya, namun semua tak ada yang bertanya, selama kurang lebih satu jam meeting berlangsung akhirnya selesai juga.


Semua orang satu persatu mulai meninggalkan ruang meeting, begitupun dengan Jay dan asistennya, karena mereka akan meninjau pembangunan perusahaan mereka yang baru, yang rencananya akan di pegang dan diurus oleh Lili.


Lili yang dari tadi sibuk dengan berkas berkasnya tak menyadari jika semua orang telah meninggalkan ruang rapat, hanya menyisakan seseorang yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan.


Setelah selesai dengan berkasnya, Lili pun tersenyum, lalu bangkit dari duduknya, berniat melangkahkan kakinya keluar ruangan itu, namun ia terkejut, karena pintu tak bisa dibukanya, segera ia mengulang kembali kode sandi pintu tersebut, namun tetep tak bisa terbuka.


Ia pun mulai jengkel, lalu berusaha menghubungi seseorang, namun ia terkejut ketika bunyi ponsel yang di hubunginya berada di ruangan itu.


Ditatapnya Reza yang masih duduk dikursinya dengan tatapan tajam mengarah kepadanya.


"Buka pintunya sekarang,,,"


Dengan tatapan yang tak kalah tajam dan dingin kearah Reza.


Namun Reza hanya terdiam, tak menghiraukan ucapan serta tatapannya. Ia hanya tersenyum sinis, yang membuat Lili semakin geram menahan marahnya, wajahnya mulai terlihat memerah serta tangannya mengepal menahan marahnya. Segera ia melangkah kearah Reza, lalu tangannya berusaha menekan tombol kontrol yang ada diatas meja Reza, agar pintu bisa terbuka, belum sempat tangannya menyentuh tombol itu, tubuhnya sudah tertarik kearah Reza, ia pun jatuh ke dalam pangkuan Reza, sejenak mereka saling menatap.


Lili berusaha bangkit dari pangkuan Reza yang telah mengunci tubuhnya. Namun semua sia sia justru semakin mendekatkan mereka.


"Lepaskan aku,,,"


Lili masih terus berontak diatas pangkuan Reza, tangan dan kakinya tak bisa bergerak karena Reza sudah menguncinya.


"Diamlah untuk beberapa menit saja, kalau kau terus berontak seperti ini aku tak dapat menahan diriku lagi."


Bisik Reza yang membawa Lili dalam pelukannya, Lili yang mengerti akan maksud dari Reza pun hanya terdiam, ia juga bisa merasakan betapa besarnya kerinduan yang ditanggung mereka berdua. Untuk sesaat keduanya larut dalam perasaan masing masing, kedamaian serta rasa nyaman bisa dirasakan oleh keduanya.


"Kenapa kau tak bilang kalau kau sedang hamil sekarang?"


Tiba tiba saja Reza memecah keheningan yang tercipta. Namun tak melepas pelukannya dari Lili.


"Untuk apa aku bilang, kalau kami tak ada tempat di sini, bahkan dihatimu."

__ADS_1


Ucap Lili lirih dengan menahan kesedihan yang tiba tiba hadir dalam hatinya. Ia pun tersenyum getir.


"Dasar bodoh,,, sapa yang bilang kalian tak penting dalam hidupku."


Reza semakin mengeratkan pelukannya, membuat Lili susah untuk bernafas.


"Yang bodoh kamu atau aku, jelas jelas aku dengar dihatimu hanya ada Alin dan tak akan tergantikan oleh sapa pun, lalu untuk apa aku ada disini jika tak ada arti hadirku. Satu lagi, kau ingin membunuhku perlahan dengan pelukanmu."


Kini Lili sudah meninggikan suaranya, meluapkan semua rasa sakit yang ada di hatinya, tak terasa air mata pun jatuh membasahi pipinya, dan segera ditepisnya, ia tak mau Reza melihatnya.


Reza yang mendengar perkataan Lili pun terkejut lalu melepaskan pelukannya.


"Sejak kapan kau berada di luar ruanganku?"


Dengan tatapan penuh selidik kearah Lili.


"Itu tak penting Tuan Reza yang terhormat, yang terpenting sekarang, ijinkan aku keluar dari ruangan ini dan hidupmu selamanya,,,"


Ucap Lili penuh penekanan, sambil mendorong tubuh Reza menjauh darinya, karena tangannya sudah terlepas dari cengkraman Reza.


"Apa maumu sebenarnya, kau sudah mengacaukan hidupku, kuminta padamu biarkan aku keluar dari sini, waktuku sudah terbuang percuma sekarang, di luar sana Jay sedang menungguku."


Ucap Lili dengan mengatupkan kedua tangannya, seakan memohon pada Reza untuk mengeluarkannya sekarang.


Reza hanya tersenyum getir mendengar ucapan Lili, ia tak menyangka jika Jay lebih penting darinya saat ini.


Ia pun menarik kasar pinggang Lili hingga mereka tak berjarak.


"Sepenting itukah Jay dimatamu sekarang, hingga bersamaku saja kau bilang membuang waktumu?"


Reza mendekatkan wajah mereka hingga kening keduanya saling beradu.


Lili ingin menjauhkan wajahnya, namun tertahan tangan Reza yang telah mencengkram tengkuknya. Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya, ia tahu jika marah Reza sudah sampai ubun ubun sekarang.


"Mampus aku jika balok es ini bener bener marah,,,," gumamnya dalam hati.

__ADS_1


" Jawab Liliana Az Zahra kenapa kau hanya diam!"


Reza semakin mendekatkan wajah mereka, hingga kini hidung mereka pun saling bersentuhan.


"Aku ada meeting di luar dengan Jay, ada klien dari Australia, dan itu kurang satu jam lagi, aku sudah terlambat, tolong mengertilah Kak,,,"


Lili berucap selembut mungkin, agar Reza tersentuh hatinya dan mau melepaskannya.


"Jadi harta lebih penting bagimu sekarang dari pada aku?"


Kini Reza sudah menyatukan bibir mereka, membuat Lili semakin ciut nyalinya, karena ia tau akhir dari semuanya, otaknya berpikir keras untuk lepas dari Reza sekarang.


Ia pun berakting seakan kehabisan nafas, sambil memegang perutnya seakan kesakitan. Membuat Reza melepas ciumannya dan berganti mengusap perut Lili.


Dengan tatapan penuh tanya pada Lili,"apa perutmu sakit?"


Lili hanya menganggukkan kepalanya, Reza yang tau jika setiap kali mengandung Lili sering mengalami kram di perutnya pun dengan mudahnya percaya akan akal bulus Lili. Ia pun menggendong Lili keluar dari ruangan meeting.


Dalam hati Lili bersorak gembira karena bisa keluar dari ruangan laknat itu menurut Lili.


Namun kegembiraan hatinya sirna, saat Reza membawanya ke ruang kerja Reza.


"Kak,, kenapa kau bawa aku kemari, aku butuh ke rumah sakit Kak, bukan kemari,,,"


Wajahnya mulai pias saat ia menyadari Reza tersenyum licik.


"Sayang,,, kau pikir aku tak tau dengan akal bulusmu itu, debay tak membutuhkan Dokter, tapi dia merindukan Papanya, tentu saja aku harus menengoknya."


Bisiknya lembut disertai senyum penuh kemenangan.


Mendengar itu Lili terkejut, ia berusaha turun dari gendongan Reza, namun semua terlambat, Reza sudah membawanya ke kamar pribadinya, dan ,,,


"Ahhhh,,,,"


Silahkan berimajinasi tentang apa yang terjadi,, author lagi baik hati wkwkwk

__ADS_1


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2