
Mentari pagi pun telah terbangun dari peraduannya, dengan malu malu ia menyinari seluruh alam, entah kenapa hari ini ia bersembunyi di balik awan, yang seakan malu dan enggan untuk menampakkan cahaya sinarnya. Atau mungkin karena ia malu melihat dua sejoli sedang memadu asmara, tak menyisakan sedikit waktu pun untuk tak meluapkan perasaaan mereka, setelah pertengkaran semalam.
Entahlah, mungkin juga ia merasa iri pada kedua insan yang masih berpelukan di bawah selimut mereka.
Semilir sang bayu pun menyelinap di balik rongga rongga jendela, menampar halus wajah cantik yang masih setia dalam tidurnya.
Hawa dingin yang menyeruak, membuatnya semakin meringsek ke dalam kedapan dada bidang yang memeluknya semalaman dengan erat, seakan takut untuk terlepas dan kehilangan lagi.
Senyuman tersungging di bibir Reza, ia pun semakin mengeratkan pelukannya saat Lili menyusupkan kepalanya ke dada bidangnya.
Perlahan dikecupnya kening istrinya," kalau seperti ini kau sangat manis princess manjaku, kenapa tak menurut saja, jadi kita tak perlu bertengkar kan? Toh hasilnya juga akan tetap sama, kau akan tetap menjalankan kewajibanmu, kenapa mesti ada drama terlebih dulu."
Bisiknya dan tersenyum penuh kemenangan teringat semalam saat Lili menolaknya.
"Lepaskan aku,,, kau menyakitiku!"
Lili berusaha melepaskan cengkraman tangan Reza di pundaknya.
"Katakan,, kenapa kau pergi?"
Reza mengangkat lembut dagu Lili hingga mereka saling tatap dalam jarak yang cukup dekat. Lili ingin menghindari tatapan itu dengan melihat ke lain arah, namun Reza malah menjatuhkan bibirnya dam ******* lembut bibir Lili.
Lili berusaha berontak, namun Reza semakin memperdalam ciuman mereka, tangannya merengkuh leher Lili hingga ia tak bisa bergerak, hanya mengikuti kemauan Reza.
Tiba tiba saja Lili menggigit bibir Reza hingga ia melepaskan ciuman mereka.
" Berani kau meng,,, " ucapan Reza terhenti saat melihat Lili memegangi perutnya dengan meringis menahan sakit.
Melihat itu, Reza sangat cemas lalu berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan Lili yang terduduk lemas di kursi tempatnya di ikat tadi.
"Li,,, kau kenapa, apa sakit banget, kita ke rumah Paman sekarang, di sana ada Kean yang bisa bantu kamu."
Tanpa menunggu jawaban dari Lili, Reza pun membopong tubuh Lili dan keluar dari gubuk itu, suasana yang sunyi dan mencekam nampak di sepanjang jalan yang mereka lewati. Karena hari mulai beranjak malam.
Terdengar suara binatang malam yang semakin menambah suasana jadi mencekam.
Lili hanya bisa bersembunyi di balik dada bidang Reza sambil meringis menahan sakitnya.
"Turunkan aku, aku bisa jalan sendiri."
__ADS_1
Tiba tiba suara Lili memecah keheningan yang sedari tadi menyertai mereka.
" Kau cukup diam saja, jangan banyak bergerak, aku masih sanggup untuk menggendongmu, bahkan sampai ke syurga cinta kita."
Bisik Reza tepat ditelinga Lili lalu menggigit kecil telinga itu, membuat Lili menatap horor kearahnya, Reza hanya terkekeh melihat reaksi Lili yang terlihat merah merona di wajahnya. Antara malu dan marahnya.
" Andai saja kau tak sakit, sudah ku hukum kamu sedari tadi, kan kubuat kau tak bisa jalan, agar tak bisa pergi lagi."
Senyuman licik tersungging di bibir Reza. Namun Lili tak menanggapi ucapan Reza,
"Maafkan aku, hanya dengan cara ini aku bisa lepas darimu."
Bisik hati Lili yang merasa bersalah telah membohongi Reza saat ini.
Iya,,, sebenarnya Lili tidak sakit, ia hanya berpura pura sakit untuk menghindari hukuman Reza yang ia sudah tau akhirnya.
Karena ia tak ingin semakin jauh terhanyut dengan perasaannya, maka ia harus menjauhi Reza sebisa mungkin, agar luka hatinya tak semakin dalam nantinya.
Bagaimanapun mereka tidak akan bisa bersama, dan mengingat akan hal itu membuat hati Lili hancur berkeping keping. Namun disela sela kesedihannya, ia masih bisa tersenyum, karena di dalam rahimnya ada kehidupan yang harus ia jaga sekarang, setidaknya hanya ia yang dimiliki Lili saat ini.
Menjadi semangat dan motivasinya untuk bertahan hidup nantinya, menjadi tumpuannya untuk masa depan, disaat ia harus jauh dari orang orang yang dicintainya.
" Sayang,, baik baiklah di rahim Bunda, kelahiranmu sangat Bunda nantikan."
Setelah perjalanan sekitar kurang lebih satu jam, akhirnya mereka sampai disebuah rumah kuno yang besar, mirip rumah pembesar kerajaan pada zaman dulu, pekarangan yang luas, nampak asri dengan aneka tanaman bunga di sana yang tertata rapi, dan aneka buah serta sayur, yang mengelilingi rumah itu.
Nampak seorang pria paruh baya keluar dari dalam rumah melihat Reza datang dengan membopong Lili.
" Nak Lili kenapa Reza?"
Tampak kecemasan dalam kata katanya yang terucap serta di raut wajahnya.
"Perutnya sakit Paman, di mana Kean?"
Reza membawa Lili ke kamar tamu yang telah disiapkan untuknya tadi, saat pertama kali datang berkunjung.
Paman Abimanyu yang mengekor di belakang mereka pun memanggil Kean yang sedang berada di ruang kerjanya.
"Kean,,, Lili sakit, ada di kamar Reza sekarang."
__ADS_1
Mendengar itu Kean segera berlari ke kamar Reza tanpa banyak bertanya pada Papanya.
"Kau apakan adikku? Minggir biar kuperiksa dia!"
Kean yang sudah berdiri di samping tempat tidur Lili pun menggeser tubuh Reza agar menjauh dari Lili. Dengan cekatan Kean segera memeriksa Lili, dan dia terdiam sejenak sambil menatap wajah sendu di depannya.
Entah untuk berapa lama mereka saling berpandangan, seakan berkomunikasi lewat tatapan mata mereka.
Dan itu bisa ditangkap oleh Reza, dan akhirnya ia mengerti semua, kalau ini akal akalan licik istrinya yang ingin mengerjai dia, dengan menghela nafas berat, ia pun mengikuti alur permainan Lili.
" Bagaimana kondisi Lili, dia dan janinnya baik baik saja kan?"
Reza sudah duduk di samping tempat tidur di depan Kean duduk sekarang.
Kean menatap kearah Lili yang masih menatap kearahnya.
" Lili hanya kecapekan saja, dia butuh istirahat, jangan ganggu dia, jika kamu menyayangi keduanya."
Kean pun mengajak Reza keluar dari kamar, dan membawanya ke taman samping rumahnya. Disana mereka pun berbincang bincang di sana.
Lili perlahan keluar dari kamar, dengan mengendap endap dia menuju pintu utama. Dirasa cukup aman, ia pun membuka pintu dan keluar dari rumah itu.
Setelah melewati halaman saat akan membuka gerbang utama, ada tangan yang sudah mencekalnya, Lili hanya bisa memejamkan matanya, karena ia tau siapa yang melakukannya.
" Kau ingin bermain main denganku, baiklah,,, aku ikuti keinginanmu sayang,,,"
Bisik Reza lalu mengangkat tubuh Lili ke dalam rumah dan berakhirlah mereka di atas tempat tidur, meski Lili berusaha berontak namun Reza benar benar tak memberinya ruang untuk bergerak bahkan untuk mengatur pernafasannya.
Reza benar benar menghukum istrinya dengan hukuman yang tak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. Meskipun ia melakukannya dengan lembut karena takut terjadi apa apa dengan buah hati mereka, namun itu bisa membuat Lili benar benar tak berdaya menghadapi suaminya yang di kendalikan amarah dan nafsunya.
Lili pun tertidur setelah kelelahan melayani suaminya, sedangkan Reza tersenyum penuh kemenangan.
"Kamu dan buah hati kitalah yang terpenting dalam hidupku, meski aku harus kehilangan semuanya."
Reza pun mencium kening dan perut rata istrinya, lalu ke kamar mandi membersihkan dirinya, selepas itu ia pun tidur disamping istrinya dengan membawanya dalam pelukan Reza.
"Lihat saja sayang,,, hukumanmu besok masih harus kau terima, beraninya mempermainkanku."
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1