GAME LOVE

GAME LOVE
bab 38 perginya debay


__ADS_3

Lili tetap bersimpuh meskipun sudah berjam jam, dia tak beranjak dari tempatnya, matanya fokus menatap kearah taman. Semilir angin menerpa wajahnya yang sembab karena menangis, mengibarkan anak rambutnya yang tak beraturan sekarang.


Tiba tiba saja datang seorang pelayan membawakan makanan dan minuman untuknya.


"Non,, ini makanannya, tolong dimakan kalau tidak saya akan dipecat oleh Den Vino, tolong saya Non, anak saya masih kecil kecil,,,


Iba asisten rumah tangga itu sambil menyerahkan tampan makanannya pada Lili.


Lili pun memandang lekat pada wanita paruh baya di depannya, sekilas ia teringat pada Bibi May, dengan senyum getir ia pun menerima nampan itu.


" Nanti akan saya makan, tinggalkan saja disini, Bibi boleh kembali, kalau Vino memecat Bibi, nanti saya yang akan menggaji Bibi, jadi tak perlu takut ya,,"


Dengan nada yang halus dan sebuah senyuman manis yang menghiasi bibirnya, Lili memandang ke arah wanita itu.


"Terima kasih Non untuk tawarannya,, tapi saya sudah menyayangi keluarga ini, dan banyak berutang budi pada Tuan Dell, jadi saya tidak akan meninggalkan keluarga ini."


Ucap wanita itu sambil mengangguk hormat lalu pergi meninggalkan Lili yang melihat kepergiannya dengan senyum tipis menghiasi bibirnya.


"Kamu beruntung Vin, dikelilingi orang yang sayang dan setia padamu,, kenapa takdir terasa tak adil untukku."


Gumam Lili pelan sambil tersenyum getir memandang ke arah taman setelah meletakkan nampan makanan itu di meja, lalu duduk di sofa yang ada di balkon itu.


Airmatanya pun menetes untuk kesekian kalinya, mengingat kedua orang tuanya, dan bayang bayang Reza tidur seranjang dengan Alin selalu berputar diotaknya.


" Cukup sudah, aku tak mau melihat kamu menyiksa dirimu lagi,, ada debay yang harus kau jaga, jika aku bersalah aku minta maaf,, tapi tuduhanmu tadi sungguh keterlaluan, aku tak pernah mengkhianatimu, apa yang kau katakan itu tidak benar, aku tak pernah selingkuh dengan Alin."

__ADS_1


Tanpa sepengetahuan Lili, Reza sudah berdiri di depannya, lalu mengangkat dagu Lili mengarahkan pandangan Lili yang tadinya fokus taman, kini beralih menatap ke arahnya.


Hingga mereka saling beradu pandang.


" Cari semua kebenarannya di mataku, kau pasti tau itu."


Reza memandang istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


Lili hanya tersenyum tipis, kemudian melepas tangan Reza yang memegangi dagunya.


" Pergilah,, kalau kamu tidak mau pergi maka aku yang akan pergi."


Lili bangkit dari duduknya lalu melangkah ke dalam kamarnya diikuti oleh Reza.


Perlahan ia membuka pintu kamarnya namun dihalangi oleh Reza.


Reza menatap tajam kearah Lili dengan bersedekap di depan pintu kamar, menghalangi Lili biar tak bisa keluar.


Lili pun menatap suaminya itu dengan jengah, ia lelah dengan semuanya, hatinya benar benar terluka tak ingin mengingatnya lagi, namun apa mau dikata semua telah terjadi, dan kini dia hanya menerima takdir yang di tuliskan untuknya.


Tanpa berkata apa apa Lili menarik pelan tubuh suaminya agar bergeser dan ia bisa membuka pintu lalu keluar. Namun Reza tak mau mengalah, ia tetap menghalangi langkah Lili.


Ia tau kalau saat ini istrinya itu sedang marah.


Perlahan ia menarik lembut tubuh Lili dan memeluknya, meski Lili berusaha melepaskan dirinya, namun Reza semakin erat memeluknya.

__ADS_1


"Jangan ada prasangka diantara kita, yang akan membuat kita semakin terluka, aku tak pernah mengkhianati hubungan kita sayang, apa pun yang kamu lihat pasti rencana dari Papa, kamu pasti tau itu."


Reza mempererat pelukannya seakan tak ingin kehilangan wanita yang kini akan memberikannya penerus untuk kedua keluarga itu.


Namun Lili bersikeras untuk melepas pelukan suaminya.


"Lepaskan aku sekarang, kalau tidak,," ucapan Lili terhenti karena Reza sudah menutupnya dengan bibir yang kini ******* lembut bibir istrinya itu.


Untuk sesaat Lili terbawa akan suasana yang diciptakan oleh suaminya, hingga ia harus menggigit lembut bibir Reza agar menyudahi semuanya.


"Lepaskan aku, maka kau pun akan kulepaskan, raih bahagiamu, karena bahagiamu bukan aku."


Lili pun membuka pintu dan melangkah keluar, dengan sedikit berjalan cepat ia menuruni anak tangga yang menghubungkan kamarnya dengan lantai bawah, dengan air mata yang berderai, hatinya terasa sakit telah mengucapkan kata kata itu, tapi inilah yang harus ia lakukan demi anaknya, membuat Reza menjauh darinya, agar Arsen tak mengganggunya lagi, bukan karena dia takut, tapi keselamatan debay yang utama sekarang.


Karena airmata yang terus membanjiri pelupuk matanya membuatnya tak melihat jika tangga itu licin habis dibersihkan dan dipel oleh ART Vino, dan dia menginjaknya lalu terpleset.


" Aaarghh"


Teriakan Lili membuat semua orang dirumah itu kaget dan berlari ke arah Lili dari tempat mereka beraktifitas masing masing.


Reza yang masih tertegun memikirkan kata kata Lili tadi pun berlari ke arah tangga.


" Lili,,,"


Teriak semua orang dirumah itu seraya berbarengan melihat kondisi Lili yang sudah tergeletak di bawah tangga dengan darah mengalir dari selangkanya.

__ADS_1


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2