GAME LOVE

GAME LOVE
bab 64 ngidam kelapa muda


__ADS_3

"Lili,,,,"


Teriak Reza yang melihat Lili sedang mencoba memanjat pohon kelapa. Mendengar ada suara yang memanggilnya Lili pun menoleh ke arah sumber suara itu. Dan ia terkejut mendapati Reza yang sudah berlari ke arahnya diikuti oleh Vino juga Erlangi.


"Cepat turun,,,!"


Reza berteriak dengan nada kekhawatiran juga mata yang memerah menandakan ia sedang marah besar sekarang. Lili yang menangkap kemarahan di mata suaminya pun perlahan turun. Untung ia manjat baru dapat tiga panjatan. Namun karena tak hati hati kakinya terpeleset dan hampir jatuh kalau Reza tak menangkapnya.


Lili segera memasang wajah bersalahnya, sambil tangannya bergelayut manja di leher suaminya.


"Apa yang ada dalam pikiran kamu, tau akibat yang akan kamu alami dari semua kebodohanmu?"


Reza yang selama ini tak pernah berkata kasar, akhirnya mengeluarkan kata kata yang menyakiti hati Lili.


Membuat Lili cemberut, dan berontak minta turun dari gendongan suaminya.


"Aku memang bodoh, sudah jatuh cinta sama orang yang tak punya hati seperti kamu."


Ucapnya sambil menatap Reza tajam penuh kekesalan, lalu berbalik berjalan menjauh dari Reza.


"Sudah salah tidak minta maaf malah berani ngambek, dasar manja."


Tutur Reza lirih namun bisa di dengar oleh semuanya termasuk Lili. Membuatnya membalikkan badan menatap lekat kearah Reza.


"Jangan ikuti aku, pulang sana, aku tak butuh bantuanmu, aku bisa menjaga diriku sendiri."


Tutur Lili lalu berbalik dan melangkah menjauhi Reza menuju tepian pantai, deburan ombak yang menghempas kakinya serta angin pantai yang bertiup menerpa tubuhnya tak bisa mengobati kekesalannya saat ini.


"Suami macam apa tidak peka dengan kemauan istrinya, malah bilang bodoh lagi, aku memang bodoh mau menjadi istrimu, dan mau menuruti semua kemauanmu."


Lili terus menggerutu sepanjang menyusuri pantai itu, hingga ia tak sadar kalau kakinya menginjak karang yang tajam. Alhasil, darah pun mengalir dari kakinya. Dan ia pun meringis karena merasakan nyeri di kakinya.


Segera ia mengangkat kakinya, dan melihat ada darah yang mengalir dari kakinya, tiba tiba saja matanya berkunang kunang melihat darah itu.


Saat ia hilang keseimbangan dan hampir jatuh, Reza sudah menangkap tubuhnya.


Tanpa sepatah kata, ia segera mengangkat tubuh Lili ke arah gubuk kecil yang ada di pinggiran pantai itu. Sedang Vino juga Erlangi mengikutinya dari belakang.

__ADS_1


Lili pun direbahkan di kursi panjang yang terbuat dari bambu yang bagian kepalanya sedikit di tinggikan. Dengan telaten ia pun membersihkan darah yang ada di kaki Lili, lalu menyobek bajunya dan membalut luka Lili.


"Apa dia tadi belum sarapan?"


Reza menatap kearah erlangi yang berdiri tak jauh dari Vino. Mereka sudah bisa merasakan aura membunuh dari tatapan Reza.


"Tadi Kak Lili memang belum sarapan Kak,,,"


Erlangi menjawab pertanyaan Reza dengan menunduk, tak berani memandang tatapan tajam yang mengarah kepadanya.


Reza menatap ke arah Vino yang juga menundukkan wajahnya.


"Kalian ini benar benar ya,,,kenapa mau di ajak keluar kalau dia belum sarapan."


Reza hanya menghembuskan nafasnya kasar sambil menatap ke arah Lili yang masih pingsan.


Ia pun kemudian mengangkat tubuh Lili dan membawanya kembali ke Mansion meskipun jaraknya lumayan jauh dari tempat mereka sekarang.


"Semua ini karena kamu, anak manja, kalau kamu tidak mendesak Lili untuk ikut, pasti ini tidak akan terjadi."


"Kau bilang salah aku? Salahkan dirimu yang takut ketinggian, kalau saja kamu yang memanjat kelapa itu, Kak Lili tidak akan manjat kelapa dan Kak Eza tidak akan marah padanya, dan Kak Lili tidak mungkin terluka kakinya."


Sengit Erlangi yang tak mau kalah dengan Vino.


Akhirnya mereka pun beradu mulut lagi tanpa sadar kalau Reza juga mendengar percakapan mereka. Lalu ia berbalik dan menatap kearah Erlangi.


"Maksudnya kamu yang mendesak Lili untuk jalan jalan di luar gitu?"


Erlang pun dengan gugup akhirnya menceritakan semuanya.


"Kak Lili awalnya tak mau keluar kalau tidak sama Kakak, ia mau sarapan , namun aku yang mendesaknya untuk menemaniku jalan jalan melihat indahnya matahari terbit di laut Kak,,, maafkan aku."


Erlang pun menjeda kata katanya, lalu melanjutkannya lagi.


"Tapi saat kami sudah tiba di pantai, matahari sudah mulai meninggi Kak,, dan Kak Lili melihat kelapa muda itu, dia bilang ingin kelapa itu dan menyuruh Vino untuk mengambilkannya, tapi Vino phobia dengan ketinggian, membuat kami beradu mulut, tanpa sadar Kak Lili sudah memanjat pohon kelapa tadi."


Lanjut Erlangi masih dalam posisi menunduk. Reza ingin sekali marah saat itu, namun ia teringat akan Lili yang masih pingsan. Apa lagi sebab Lili pingsan ia tahu benar, bukan karena belum sarapan tapi melihat darah yang mengalir dari kakinya.

__ADS_1


Reza pun mempercepat langkahnya, hingga dua puluh menit kemudian mereka sampai di Mansion Sanjaya.


Semua terkejut melihat Reza yang membopong tubuh Lili. Tanpa menghiraukan tatapan yang lain, ia segera membawa Lili ke kamar mereka dan merebahkan istrinya itu ditempat tidur.


Sedangkan Erlangi yang merasa bersalah dan takut kena marah Reza segera berhambur ke arah Mamanya, ia pun menangis di pelukan Mamanya. Dengan lembut Mama Aisyah membelai rambut Erlangi, ia bisa menebak apa yang terjadi.


Sementara Mama Zahira, Papa Sanjaya juga Cahya masuk ke kamar Reza juga Lili. Mereka sibuk membuat Lili tersadar dari pingsannya.


Mama Zahira mengambil kotak P3K.


Dengan telaten ia membuka kain penutup luka Lili, lalu memberinya obat luka dan membalutnya dengan perban. Lalu ia memberi minyak kayu putih di hidung Lili untuk menyadarkannya.


Setelah menghirup aroma minyak kayu putih, Lili mulai sadar dari pingsannya. Orang pertama yang dilihatnya adalah Mamanya. Ia pun langsung memeluk Mamanya sambil menangis.


Mama Zahira pun membelai rambut putrinya itu berusaha untuk menenangkannya.


"Semua baik baik saja sayang, jangan takut lagi."


Lili pun mengangguk dan menghapus air matanya lalu melepas pelukannya. Papa Sanjaya pun membelai rambut putrinya itu. Lalu melangkah keluar.


Senyum Lili pun mengembang melihat Cahya yang masuk bersama dengan Reza yang membawa sarapan buat Lili.


Mulanya Lili menolak saat Reza menyuapinya, namun karena ada tangan mungil yang menggantikan menyuapinya, akhirnya ia pun menerima suapan dari Cahya.


Senyumnya semakin mengembang tatkala ia melihat Mama Aisyah masuk dengan membawa kelapa muda di tangannya. Lalu memberikan kelapa itu biar di minum oleh Lili dari tangan Mama Aisyah. Lili pun tersenyum sambil meminum air kelapa itu.


"Makasih ya Ma,,,moga mitos itu benar,,, nanti anak Lili akan bersih kulitnya serta tampan atau cantik."


Mama Aisyah pun tersenyum sambil membelai rambut Lili, lalu menaruh kelapa itu di nakas.


"Berterima kasihlah pada suamimu, karena dia yang rela memanjatnya sendiri dan memetik kelapa ini untukmu. Meski sempat terjatuh karena terpeleset tadi di tempat yang sama denganmu saat terpeleset."


Lili pun memandang Reza dengan rasa bersalah.,,"Kakak,,," ucapnya lirih.


Namun Reza justru berpaling dan keluar dari kamar tanpa sepatah kata pun.


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน

__ADS_1


__ADS_2