GAME LOVE

GAME LOVE
bab 25 hitam diatas putih


__ADS_3

Di dalam mobil angkutan pedesaan nampak seorang wanita cantik sedang duduk di sebelah jendela, wajahnya nampak sayu, letih dan tersirat kesedihan yang mendalam dari tatapan matanya.


Setelah menempuh perjalanan yang begitu lama dari pusat kota ke desa terpencil itu akhirnya angkutan itu sampai di terminalnya.


Wanita ini pun turun dengan membawa tas ransel kecilnya, sejenak ia memandang sekelilingnya, lalu membayar ongkos kendaraan tadi.


"Berapa Pak?"


Tanyanya pelan sambil menatap kearah sopir yang berada dalam kendaraannya.


"60 rb Mbak."


Jawab sopir itu sambil tersenyum kearah wanita itu.


" Ini Pak, kembaliannya buat Bapak saja."


Seraya memberikan selembaran uang seratus ribuan gadis itu tersenyum lalu melangkah pergi.


" Terima kasih banyak Mbak, moga Allah yang membalas kebaikan Mbak, moga selalu dalam lindungan Nya."


Kata sopir itu meski tak di dengar oleh wanita ini karena sudah pergi meninggalkan tempat itu.


Tanpa arah tujuan yang pasti ia terus melangkahkan kakinya menyusuri jalanan yang semakin lama terasa makin sepi dari terminal bus tadi.


" Maafkan aku Ma,, Pa,,,dan kau Reza, mungkin ini yang terbaik untuk kita, aku tak mau melihat kehancuran kalian, cukup aku saja yang hancur."


Air mata Lili tiba tiba saja sudah menggenangi pipinya dan terjun bebas jatuh membasahi bumi.


Semua terasa menyakitkan, mengingat orang orang yang disayanginya.


"Ma,,,Pa,,, Bibi May,, Reza,,, jaga diri kalian, hiduplah dengan baik tanpa aku."


Dadanya terasa sesak, sakit itu begitu menghujam hati nya saat ini.


" Arsen, sampai aku mati pun tak akan kubiarkan kau menyakiti kedua orang tuaku."

__ADS_1


Lili pun mengingat semua ancaman yang diberikan oleh Arsen, jika ia tak bisa membawa kembali wanita yang dicintainya, maka keluarganya akan dihancurkan oleh pria itu, pria yang tak lain adalah Papa kandung Reza, yang juga tega menyakiti perasaan putranya sendiri untuk mencapai tujuannya.


Semua perkataan Arsen masih terngiang di telinganya.


" Dasar gadis bodoh, kau kira aku tak tau dengan permainanmu, kau mencoba menyerahkan dirimu ke Ceofeng agar ditukar dengan kekasihku, gadis yang naif, kau pikir bisa menang dalam tender itu, meskipun putraku akan membelamu mati matian, tapi kehancuran keluargamu itu yang kumau, bagaimana rasanya terpisah dengan orang yang kalian sayangi, dan itu hanya dengan kematian salah satu dari kalian, yang pasti itu adalah Sanjaya, jika kau tak ingin Papa mu meninggalkan dunia ini lebih cepat, maka kau yang harus pergi dari kehidupan mereka, terutama putraku, karena kutak sudi melihatmu bersamanya, kau tak pantas untuknya, jika kau tetap bersikeras disampingnya, maka kupastikan kehancuran keluarga Sanjaya, dan kau cukup pintar untuk mengerti akan resikonya,, ha,,, ha,, ha,,,"


Suara tertawa Arsen masih menggema di gendang telinganya, hingga ia pun mengepalkan tangannya menahan semua marah dan sakit hatinya.


Lili terus saja berjalan tanpa tahu harus kemana, udara sejuk di pedesaan itu tak bisa membuat pikirannya menjadi jernih.


Sesekali ia menyeka airmatanya, dan langkah kakinya terhenti saat dia mendengar teriakan minta tolong dari sungai yang tak jauh darinya berdiri sekarang. Teriakan itu semakin jelas terdengar saat ia sudah mendekati sungai yang penuh dengan bebatuan besar itu. Dan matanya membulat sempurna menyaksikan apa yang ada di hadapannya sekarang.


Seorang pemuda ingin menodai seorang gadis yang menangis ketakutan di bawah kungkungannya.


Segera Lili berlari kearah mereka dan menarik tubuh pria itu dan menendang perutnya. Tak berhenti di situ saja, Lili pun secara membabi buta memukul dan menendang pria itu hingga tak berdaya. Amarah Lili sudah mencapai puncaknya, ia tak sadar dengan apa yang telah di lakukannya, meskipun pria itu sudah tak berdaya dan hampir pingsan oleh ulah Lili namun karena amarahnya masih di ubun ubun, membuat Lili tak melepaskannya, dan ia membenamkan kepala pemuda itu ke sungai sebentar lalu mengangkatnya.


" Beraninya kau ingin memperkosa seorang gadis yang masih polos, ini hukuman untukmu!"


Katanya meninggi dan terus membenamkan dan mengangkat kepala pemuda itu ke dalam air.


Lili pun membalikkan tubuhnya dan melihat seorang pria tampan sudah berada dibelakangnya, dari raut wajahnya ia terkejut saat melihat pria ini, bergegas ia bangkit dari jongkoknya dan melepaskan pria itu.


" Kenapa kau mengikutiku? Pulang sana, aku tak butuh dirimu!"


Lili menatap tajam ke arah pria yang kini ada di depannya.


Namun bukannya pergi pria itu justru tersenyum dan menoleh kearah gadis yang akan diperkosa oleh pria tadi.


Gadis itu masih menangis dengan memeluk lututnya dan membenamkan wajahnya di lengannya yang bertumpu pada lututnya.


Atasan bajunya yang sudah robek dapat terlihat dengan jelas dada bagian atasnya.


Lili pun menghampiri gadis ini dan duduk disampingnya.


" Jangan takut lagi, kamu sudah aman sekarang, siapa namamu?"

__ADS_1


Lili pun memberikan jaket yang dia pakai pada gadis itu.


" Aku Zahra, terima kasih sudah menolongku, aku tak tau apa yang terjadi denganku jika kau tak menolongku."


Dengan derai airmata Zahra mulai menceritakan semua kenyataan yang menimpanya pada Lili. Dengan seksama Lili mendengarkan semua cerita Zahra.


Lili hanya bisa membuang nafasnya dengan berat mendengar cerita Zahra.


" Jadi dia anak rentenir di desa ini, dan keluargamu berhutang sama mereka, dan ia ingin kamu yang membayar hutang orang tuamu dengan melayaninya, kurang ajar sekali dia, ingin rasanya kukebiri dia, biar tak seenaknya jidatnya sendiri."


Lili menatap tajam kearah pria itu yang sudah dalam kendali Jay.


" Ayo kita pergi dari tempat ini dan serahkan si brengsek ini ke kantor polisi."


Jay mendorong tubuh pria itu agar berjalan lebih dulu di depan, dengan tangannya di tarik kebelakang punggungnya oleh Jay.


Lili dan Zahra pun mengikuti dari belakang.


Sepanjang perjalanan pria itu meminta ampun dan minta tidak di serahkan kepada polisi, sebagai gantinya ia akan menganggap lunas semua hutang orang tua Zahra.


Akhirnya mereka sepakat membawa pria itu ke rumah Zahra dan membuat perjanjian hitam di atas putih. Membebaskan semua hutang keluarga Zahra dan berjanji tidak akan menyulitkan keluarga itu lagi.


" Dasar anak bodoh, karena kecerobohanmu aku rugi besar."


Ayah dari pria itu pun marah marah sambil membawa anaknya pulang dengan menjewer telinganya sepanjang jalan setelah menandatangani surat perjanjian utang piutang itu.


Zahra dan ibunya sangat berterima kasih pada Lili dan juga Jay yang telah menolong mereka dari cengkraman rentenir jahat itu.


" Nak Lili dan Nak Jay tinggal saja dengan ibu dan Zahra disini, jika kalian tak tahu harus kemana, kami hanya tinggal berdua semenjak kepergian Ayah Zahra."


Tutur Ibu Zahra tersenyum dengan tatapan penuh kasih dan harap pada keduanya.


" Jay menyerahkan keputusan itu pada Lili, Bu."


Jay memandang kearah Lili yang masih sibuk dengan dunianya sendiri, yaitu melamunkan seseorang yang disana, entah mengapa ia jadi merindukan pria itu.

__ADS_1


Bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2