
Suasana ruangan yang mulanya gaduh dengan ulah Reza dan Jay, serta Vino dengan Erlangi , kini mulai hening lagi. Tak ada yang berani bersuara.
Mereka seakan sedang asyik menonton drama Korea secara live. Pandangan Abymana dan Salsa tak pernah lepas dari Reza juga Lili. Mereka menahan amarahnya, api yang membakar hati mereka. Hingga tanpa sadar mereka berdua telah meremas botol air mineral yang tersedia di depan meja mereka. Sungguh pasangan yang serasi bukan? Sehati juga wkwkwk
Reza dan Lili tetap larut dalam pemikiran masing masing. Hingga mereka tak menyadari hadirnya seseorang yang membuat Lili semakin ingin lepas dari Reza.
Iya,,, Alin tanpa permisi segera masuk ke dalam ruangan lalu duduk di samping Arsen. Sebenarnya ia tak suka harus bertemu dengan Henry. Namun karena perintah Arsen, mau tak mau ia harus datang meski dengan hati yang berkecamuk. Ia tak melihat ke arah Henry walau sekilas, baginya Henry tak pernah ada.
Ia tetap fokus melihat Lili dan Reza yang masih saling berpelukan meski hatinya pun sakit melihatnya.
Henry hanya tersenyum melihat kearah Alin yang kini duduk di samping Arsen. Meskipun baru beberapa saat yang lalu mereka berpisah, namun kerinduannya pada sosok wanita yang sangat dicintainya itu sudah tak terbendung. Apa lagi kini ia tau, kalau wanita itu sedang mengandung anaknya.
Namun ia tak mau gegabah dengan perasaannya. Yang bisa membuatnya semakin jauh dari Alin. Hingga ia harus bersabar dan berdamai dengan hatinya sendiri. Untuk mencapai apa yang diinginkannya. Meski itu butuh perjuangan yang extra. Ia tak akan patah semangat dan harapan, selagi masih ada buah hati mereka di rahim Alin, ia akan terus berjuang meluluhkan hati Alin yang sekokoh karang itu.
"Kalian cukup tak tau malu ternyata."
Tiba tiba saja Arsen membuka suaranya, yang membuat semua orang langsung mengarah kepadanya, termasuk Lili dan juga Reza, mereka pun melepas pelukannya
"Dasar wanita murahan, jauh jauh kau dari putraku, sapa yang memberimu hak untuk dekat dengannya, kau sudah menanda tangani surat perceraian itu."
Ucap Arsen lantang hingga menggema diseluruh ruangan.
Semua orang terkejut dengan ucapan Arsen, terlebih Reza yang bagai disambar petir di siang hari mendengar ucapan Papanya barusan. Ia memandang ke arah Lili tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.
__ADS_1
Ia pun mencengkram bahu Lili yang tertunduk dengan memejamkan matanya. Reza menggoyang bahu itu pelan agar Lili menatap ke arahnya.
"Ini tidak benar kan sayang, semua itu bohong kan?"
Ucapnya lembut dengan mengangkat dagu Lili mengarahkan padanya, agar Lili mau menatapnya. Namun Lili tetap diam seribu bahasa, hanya air mata yang terus mengalir dari sudut matanya.
"Sayang,,, ku mohon,,, jawab aku, ini tidak benar kan? Jangan membuatku gila sayang,,,"
Reza sudah mulai meninggikan suaranya, nampak kecemasan dan kekhawatiran di sorot matanya. Apa yang ia takutkan telah terjadi, Lili tak akan bertahan dengan semua ini, ia pasti akan mengalah demi kebahagiaan orang orang yang disayanginya, meski dia sendiri yang terluka.
"Sayang,,, jawab ini semua hanya ulah orang tua itu saja,,, jawab Liliana Az Zahra,,, jawab!"
Reza sudah tak dapat membendung lagi semua perasaannya sekarang, bayangan Lili akan meninggalkannya membuatnya jadi tak bisa mengontrol emosinya, meski dengan suara yang cukup berat dan penuh penekanan, namun semua tau jika dia menahan semua amarahnya yang sudah sampai ke ubun ubun.
Namun Lili tetap diam seribu bahasa, hanya bisa menangis dan terus menangis.
"Kenapa kau tega sekali padaku Lili,,,, kenapa kau sekejam ini menghukumku,,, kenapa kau tak mau percaya sama aku sayang,,,, kenapa???"
Reza membentak Lili hingga ia terlonjak dari tempatnya berdiri. Lili bisa merasakan betapa hancurnya hati Reza sekarang. Namun ia tak bisa berbuat apa apa lagi, ia harus rela berpisah dengan Reza demi menjaga perusahaan yang ditinggalkan padanya oleh Papanya, ia tak mau perusahaan itu jatuh pada orang lain, jika ia menuruti kata Arsen, maka perusahaan itu sepenuhnya adalah milik Reza, dan Lili tau, Reza berhak atas perusahaan itu, karena dialah selama ini yang mengurus perusahaan Papanya.
Apa lagi ia memang harus pergi karena Alin lebih berhak atas Reza karena adanya anak mereka. Padahal ia tau jika ini juga jebakan dari Arsen. Namun ia tetap memilih pergi karena ada hal yang membuatnya harus pergi dari hidup Reza jika ingin hidupnya tak terusik oleh Arsen.
Rahasia besar yang disimpan oleh orang tuanya, yang baru diketahuinya setelah Bibi May memberikan kotak yang ditinggalkan Papanya padanya sebelum beliau dan Mamanya naik pesawat untuk menjemputnya.
__ADS_1
Lili hanya menarik nafasnya dengan berat lalu menghembuskannya dengan berat pula. Ia pun menghapus air matanya. Kemudian menakupkan kedua tangannya di pipi Reza. Memandang lekat dan penuh kasih pada suami yang akan ia tinggalkan. Sedikit senyuman tersungging di bibirnya yang terasa kelu.
"Kak,,,, ini yang terbaik untuk kita, hidup adalah pilihan, dan aku sudah memutuskannya, aku yakin, Kakak akan bahagia dengannya, dan aku tak mau jadi penghalang kebahagiaan kalian, ikhlaskan aku pergi, Kak."
Senyum menghiasi bibirnya disetiap ucapan yang terlontar dari bibirnya, meski air mata itu pun harus mengalir lagi tanpa permisi terjun bebas membasahi pipinya.
Reza menatap tajam kearah Lili dengan mencengkram pundak Lili.
"Apa kau mencintaiku? Apa pernah aku dalam hatimu meski hanya sesaat,,,apa aku menempati ruang dihatimu sekarang,,, jawablah dengan jujur,,,"
Reza mengangkat dagu Lili hingga mereka saling menatap satu sama lain, menyelami dalamnya tatapan itu, mencari kebenaran di sana.
"Kau tahu sendiri kan Kak, gimana sikapku padamu selama ini, anggap saja apa yang kita lewati berdua hanya secuil kenangan hidup kita, maaf jika aku bohong selami ini padamu, karena jujur sampai saat ini kau belum bisa menempati ruang dihatiku, selama ini aku hanya melaksanakan tugasku sebagai seorang istri, maafkan aku,,,"
Lilipun menepis tangan Reza hingga melepaskannya. Lalu ia berbalik dan melangkah pergi, hatinya terasa hancur mengatakan itu semua, padahal ia telah berbohong akan perasaannya, yang jelas jelas telah mencintai Reza sepenuh hatinya, hingga tak ada ruang kosong lagi untuk yang lain disana.
"Aarrgghhh,,, begg,, begg"
Teriakan Reza melepas amarahnya dengan memukulkan tangannya ke tembok hingga darah mengalir dari tangannya.
Ia pun memandang punggung Lili yang berjalan menjauh tanpa menoleh ke belakang lagi, tatapan mata membunuh itu akhirnya terlihat lagi dari kedua mata elang nya.
"Kau sudah salah mempermainkanku sayang,,, maka jangan salahkan aku jika kau harus membayar semua ini."
__ADS_1
Bisik hati Reza yang terus menatap kepergian Lili hingga ia tak terlihat dan hilang di balik pintu ruangan.
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น