GAME LOVE

GAME LOVE
bab 71 penyamaran


__ADS_3

Hari yang cerah, namun tak secerah raut wajah Reza saat ini. Karena semalam ia harus menuntaskan hasratnya sendiri. Ingin rasanya ia marah, namun apa ada, Lili sudah memasang wajah memelas semaleman. Membuatnya tak berkutik hingga harus bersolo untuk hasratnya yang telah memuncak.


Lili yang melihat raut wajah Reza pagi ini hanya menahan senyumnya. Dengan sedikit menggigit bibir bawahnya ia melirik ke arah Reza yang sedang menyantap sarapannya.


"Kak,,, hari ini aku akan meninjau ke tempat proyek, setelah itu akan ke kantor Mark. Rencananya meeting akan dilakukan disana, karena Presdir mereka yang akan memimpin langsung meeting nanti. Jadi,,, mungkin aku akan terlambat pulang."


Ucap Lili sambil meminum susu hamilnya.


Reza hanya terdiam tanpa menjawab kata Lili, membuat Lili cemberut karena merasa di abaikan.


"Kak,,, dengarkan kataku?"


Dengan sedikit manja Lili menggenggam dan menggoyang tangan Reza pelan.


Reza hanya melirik sekilas ke arah Lili, lalu melanjutkan sarapannya. Membuat Lili semakin jengkel dan berdiri dari duduknya, hendak meninggalkan ruang makan tersebut. Namun baru saja kakinya melangkah, saat ia tepat berjalan di samping Reza, tangan kekar itu sudah menarik pinggangnya lembut hingga harus jatuh di pangkuan Reza.


Tatapan mereka saling beradu, dan Reza sudah memeluk tubuh Lili dan menguncinya. Tanpa sepatah kata apa pun Reza segera mencium bibir istrinya itu dengan lembut dan menuntut. Untuk beberapa saat mereka saling larut dalam suasana hingga.


"Ekhemmm,,,"


Suara itu menyadarkan mereka, lalu menyudahi ritual pagi yang biasanya mereka lakukan.


"Tolonglah Kak,,, hargai kami yang masih jomblo ini, emang kurang apa semalam hingga harus beradu akting di meja makan?"


Ucap Erlangi yang menyembunyikan tawanya dibalik wajah cemberutnya. Ia sungguh senang sekali bisa mengerjai Kakak dan Kakak Iparnya.


Lili pun memerah wajahnya, karena merasa malu adik iparnya memergoki ulah mereka.


"Kak,,, lepaskan aku!"


Bisik Lili sambil melirik kearah Erlangi yang mulai menyantap sarapannya. Disusul oleh Vino yang dari tadi hanya terdiam melihat adegan drama korea secara live.


"Ini pelajaran buat kamu, jika melupakan tugas pagimu, mungkin sekarang cuma ada mereka, tapi jika kamu pura pura lagi, mungkin di hadapan rekan bisnismu aku akan melakukannya, ingat itu!"


Tutur Reza sambil membelai rambut Lili lembut lalu membopong tubuh istrinya itu keluar rumah dan menuju mobil yang sudah di sediakan oleh sopir pribadinya.


Sedang Vino dan Erlangi yang tadinya masih asyik menikmati sarapan mereka, harus rela meninggalkan makanan mereka dan berlari menyusul Lili juga Reza naik ke dalam mobil yang sama.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang tercipta, Reza fokus dengan laptopnya begitu juga dengan Lili. Hanya Erlangi dan Vino yang memandang keluar jendela mobil.


Dalam hati mereka mengumpat Reza yang membuat mereka meninggalkan sarapan pagi yang belum habis tadinya.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, tepatlah mereka di depan sebuah gedung pencakar langit. Mobil segera memasuki parkiran khusus buat CEO mereka.


Lili yang masih asyik dengan laptopnya tak menyadari jika ia telah memasuki kandang harimau.


"Vin, selesaikan semua yang kubilang semalam bersama Erlangi."


Ucapan Reza kini menyadarka Lili, hingga ia pun menutup laptopnya dan terkejut dimana sekarang ia berada. Namun Reza sudah keluar dari mobil dan mengulurkan tangannya agar Lili juga keluar.


"Kak,,, tapi aku mau ke tempat proyek."


Bantah Lili yang bersikeras tak mau turun dari mobil.


"Kak Ipar ikuti saja perintah Kakak, soal proyek aku dan Vino yang selesaikan semua. Semalem Kak Reza sudah memberitahu kami, ini bukan di Indo Kak,,, keselamatan Kak Lili yang utama sekarang."


Mendengar penuturan Erlangi, Lili pun terdiam sejenak.


"Kak Lili jangan membuat Kak Reza marah lagi, ingat ini tempat kekuasaan Papa Arsen."


Namun belum sempat Lili turun dari mobil. Reza sudah mengangkat tubuhnya, membawanya masuk ke gedung yang menjadi saksi bisu perjalanan cinta Arsen dan Mama Aisyah. Ya,,, Golden Company.


Reza tak perduli dengan pasang mata yang terarah kepadanya juga Lili. Ia terus melangkahkan kakinya menuju lift khusus milik CEO mereka. Sedang Lili hanya bisa menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya.


Setelah memastikan keduanya masuk ke dalam kantor mereka. Vino bersama Erlangi pun meluncur ke tempat proyek yang akan dikunjungi oleh Lili.


"Pastikan semua aman nantinya."


Ucap Erlangi pada Vino yang fokus dengan kemudinya.


"Semua aman jika kamu mau berakting dengan baik, pastikan dirimu dulu."


Balas Vino yang tak mau kalah dengan sindiran Erlangi. Membuat gadis itu geram dan ingin sekali menendang wajah Vino seperti saat pertama kali mereka bertemu. Namun ia mencoba untuk menahan marahnya. Demi semua rencana yang tersusun semalam.


Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.

__ADS_1


Keduanya pun segera turun dari mobil, melangkah ke tempat proyek yang sudah disambut oleh Mark disana.


"Selamat datang Nyonya Reza."


Sapa Mark yang disertai dengan jabatan tangan dengan Lili.


Lili membalas jabatan tangan Mark, disertai senyum yang mengembang dibibirnya.


Mereka pun segera meninjau proyek yang sedang dikerjakan. Para pekerja mengangguk hormat pada keduanya saat mereka berpapasan.


Setelah dirasa cukup dengan tinjauannya. Lili dan Mark pun meninggalkan tempat proyek.


Namun saat berada di bawah gedung, tanpa disadari oleh Erlangi ada balok besar yang terjatuh dari atas dan tepat di atas kepala Erlangi.


"Aaa,,,"


Teriaknya sambil memejamkan matanya, karena ia tak sempat menghindar. Namun tubuhnya terasa ada yang menarik hingga mereka pun terjatuh bersama.


Untuk sekian lama mereka saling beradu pandang. Dengan posisi Erlangi berada diatas tubuh Vino, hingga mereka tersadar dan segera bangkit dari posisinya mereka.


"Lili,,, kamu tidak apa apa?'"


Mark membantu Erlangi yang kini sedang menyamar menjadi Lili. Tanpa dicurigai oleh siapa pun.


"Aku baik baik saja Tuan Mark, terima kasih."


Tutur Erlangi yang melirik kearah Vino, terlihat jelas jika ia sedang menahan rasa sakit di bahunya.


Tak lama datanglah penanggung jawab proyek yang segera menemui keduanya setelah Mark memanggilnya.


"Maafkan atas keteledoran anak buah kami, Tuan. Saya akan mengurus semuanya."


Dengan kata yang bergetar pria itu berbicara pada Mark.


"Aku tak mau tau, sapa pun yang berani menyakiti wanitaku, mereka harus menghilang selamanya."


Semua orang yang mendengar penuturan Mark terkejut dengan apa yang baru saja dikatakannya, begitu juga dengan Erlangi namun tidak dengan Vino yang kini menyamar menjadi seorang bodyguard, hingga Mark sendiri pun tak mengenalinya.

__ADS_1


bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2