GAME LOVE

GAME LOVE
bab 34 tragedi di Mansion


__ADS_3

Dengan cepat berita tentang kecelakaan pesawat yang ditumpangi oleh Papa Sanjaya dan Mama Zahira pun tersebar luas di media cetak dan online.


Menjadi berita terhangat dan trending topik dikalangan pengusaha.


Mereka banyak yang bersedih telah kehilangan partner bisnis yang cukup diperhitungkan dalam dunia bisnis mereka, namun tak sedikit juga yang merasa senang karena saingan bisnis mereka telah lenyap tanpa harus bersusah susah untuk menghabisinya.


Di dalam sebuah ruang kerja yang cukup besar, nampak seorang pria muda sedang bergelud dengan berkas berkas yang ada di mejanya.


Semenjak peristiwa di Villa itu ia jadi semakin giat bekerja, dia harus bisa mengalahkan Lili dan juga Reza, tender besar dengan Ceofeng harus dia dapatkan, bagaimana pun caranya.


"Drrrtt,,drrttt,,"


Suara ponselnya yang bergetar, pertanda ada panggilan yang masuk. Aby pun segera mengangkat tlp tersebut.


"Apa,,,???


Raut wajah Aby berubah jadi merah menahan marahnya setelah mendengar apa yang baru saja disampaikan oleh anak buahnya.


Mulanya ia tak percaya kalau Sanjaya dan istrinya telah meninggal.


Terlebih setelah ia mendengar jika Lili telah diculik, dan ada pihak yang ingin membunuh bayinya.


"Siapa pun mereka yang menculikmu, aku tak akan tinggal diam, selamanya kamu akan jadi milikku."


Aby pun mengambil jas nya yang berada di kursi kebesarannya, memakainya lalu keluar dari ruangannya.


"Siapkan anak buah kita, dan tunggu perintahku."


Aby menelpon asistennya, masuk dalam lift hingga sampai lantai dasar dari kantornya.


Di depan sudah menunggu asisten pribadinya dengan beberapa anak buah pilihan terbaiknya.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil masing masing, lalu melesat memecah kepadatan jalan raya saat itu.


"Tunggu aku Lili,,, jika dia tidak bisa melindungimu, maka akan kuambil kau kembali."

__ADS_1


Bisik hati Aby sambil bersandar di kursi, menatap keluar jendela mobil.


Mobil mereka berjalan beriringan menuju tempat yang akan mereka tuju, yaitu dimana Lili sekarang berada.


*********


Sementara itu di Mansion Arsen, nampak sepasang suami istri sedang terlelap dalam tidur mereka. Tanpa mereka sadari telah terjadi kehebohan di luar kamar mereka.


Semua anak buah Arsen sudah berhasil melumpuhkan anak buah Reza yang berjaga semalaman di luar kamar Reza.


Sedangkan Vino pun disekap oleh Henry di ruang bawah tanah tempat penyiksaan para pengkhianat.


"Tunggu saja hari kematianmu disini, pasti sungguh menyakitkan bukan, orang yang kau bela tak menghiraukanmu dan malah asyik bercinta dengan wanitanya, sedang kau disini menjemput ajalmu,,, ha,,, ha,, ha,,"


Suara Henry menggema diruangan itu.


Dengan mencibir Vino pun membalas ucapan Henry, meskipun tubuhnya sudah penuh dengan luka dan darah mengalir dari luka luka itu, namun ia masih terlihat bugar dan tetap bersemangat.


" Kau salah Henry, kaulah yang patut dikasihani, mencintai wanita yang jelas jelas tak bisa kau miliki hatinya, sungguh tragis,, mencintai begitu lama namun harus memendamnya, ckckck,,,sungguh ironis jadi budak cinta."


"Diiiaaammm,,,plakkkk"


Henry sudah menjatuhkan bogem mentah di wajah Vino, hingga lebam dan darah mengalir dari bibir dan hidungnya.


"Kau pikir siksaan ini berarti untukku,, cih,, kau salah,, justru aku semakin bersemangat untuk membullymu,, dasar brengsek,,,pria yang hanya berani sembunyi di belakang wanita apa sebutan yang pantas untuk itu,,, selain pria lunak,,, ha,,, ha,, ha,,,"


Vino dengan arogannya menatap tajam ke arah Henry yang sudah bersiap untuk memukulnya lagi.


Siksaan demi siksaan sudah di terima oleh Vino, dan darahpun semakin banyak yang keluar, membuat mata Vino sedikit berkunang kunang dan kabur.


"Ucapkan selamat tinggal untuk dunia ini,, brengsek,,"


Henry sudah bersiap untuk menembak ke arah jantung Vino, namun tak membuatnya takut dan gentar menghadapi kematian.


"Ha,,, ha,, ha,, aku bukan pengecut seperti kamu Henry,, justru aku bangga bisa meninggal karena membantu sahabat juga atasanku, karena nyawa ini sudah melayang sepuluh tahun yang lalu jika tanpa pertolongannya, nyawaku ini untuknya."

__ADS_1


Dengan tatapan yang membunuh Vino menatap kearah Henry. Ia tak bisa berbuat apa apa karena tangannya telah terikat ke atas dan di gantung ke atas.


Sedang tubuhnya terasa tak bertenaga setelah mendapat suntikan obat dari Henry.


Tanpa menunggu lama Henry pun menekan pelatuk senapannya.


" Doorrr,,"


"Aaarrgghhhh,,,,"


"Aliiinnn"


Teriak Henry saat tau sapa yang justru terkena tembakannya. Dia pun segera berlari menangkap tubuh Alin yang terkulai lemah, dengan darah yang mengalir dari bahunya.


" Bertahanlah,, akan kupanggil Dokter keluarga kita, bertahanlah,, kenapa kau bodoh sekali, apa yang ingin kau buktikan,, maafkan aku sayang,,, kumohon bertahanlah."


Henry segera mengangkat tubuh Alin yang sedang pingsan keluar dari ruangan itu, membawanya ke dalam kamar Alin lalu menghubungi Dokter keluarga mereka, menyuruh beberapa bodyguardnya menyiapkan pesawat dan menjemput Dokter itu.


Suara tembakan itu pun terdengar di telinga Arsen, Lili juga Reza.


Segera mereka bangun dan membenahi diri mereka. Lili pun turun dari tempat tidurnya berlari kecil ke kamar mandi membersihkan dirinya disusul oleh Reza, secepat kilat mereka pun sudah rapi lalu turun ke bawah melihat apa yang terjadi.


Nampak Arsen sedang memukul Henry karena kecerobohannya.


Dan ia semakin marah saat melihat Lili yang berada di samping Reza, menatapnya tanpa rasa takut.


"Wanita sialan,, ini semua karena kamu, maka pergilah ke neraka sekarang."


Arsen yang sedang dikendalikan oleh amarahnya pun mengambil pistol dari salah satu anak buahnya, dan,,,


"*Doorrr,,,"


"Lili,,,"


bersambung,, 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*

__ADS_1


__ADS_2