
Siang yang panas menjadi semakin panas, bahkan untuk bernafas saja terasa sesak bagi Lili. Disini,,, di ruang khusus VVIP resto itu. Sudah berkumpul 4 orang pria juga 3 orang wanita. Tatapan mereka semua tertuju pada Lili yang sekarang merawat luka dari seorang wanita. Iya,,, wanita yang tadi telah ditabrak olehnya.
Sambil mengobati luka di bibir wanita itu ia mengingat kejadian yang baru saja dialaminya.
Wanita itu mendorong tubuh Lili hingga hampir terjatuh. Untung saja tubuh Lili telah di tahan oleh sepasang tangan kekar yang sangat di kenali oleh Lili.
"Tuan,,, dia ingin mengotori gaunku, makanya aku mendorongnya agar tak mengotorinya dengan tangan miskinnya itu."
Dengan manja wanita itu bergelayut di lengan pria yang telah menahan tubuh Lili setelah Lili menjauh darinya.
Sedang Lili hanya bisa terpana melihat pemandangan di depannya.
"Kakak,,,"
Tuturnya lirih.
Namun Reza hanya terdiam mendengar Lili memanggilnya, ia justru pergi begitu saja dengan wanita yang bergelayut manja di lengannya itu. Membuat Lili geram menahan marahnya.
Sungguh ia tak mempercayai apa yang baru saja dilihatnya, apa mungkin suaminya adalah kekasih yang dimaksud oleh wanita tadi, tapi itu tak mungkin.
Dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya, Lili segera ke toilet dan memuntahkan semua yang ada di dalam perutnya. Setelah membersihkan dirinya ia pun segera keluar, berjalan menuju ruang VIP tempat nya meeting tadi.
Saat kakinya melangkah, tanpa sengaja ia melihat pemandangan yang membuat darahnya mendidih. Hilang sudah kesabaran di hatinya, tubuhnya yang semula lemah habis muntah muntah, kini bagai ada kekuatan seribu ekor gajah yang mengisinya. Dengan cepat ia berjalan menuju ruang VVIP itu.
Di mana suaminya sedang bersama dengan wanita tadi dan terlihat begitu intim. Karena kerinduannya pada suaminya yang sudah menggunung, serta pemandangan yang membakar api cemburunya, tanpa basa basi lagi Lili pun masuk lalu menarik tangan wanita itu hingga terlepas dari tangan Reza. Dengan cepat dan keras ia menampar kedua pipi wanita tersebut.
Wanita itu hanya bisa menangis sambil memegangi kedua pipinya yang telah di tampar oleh Lili. Karena gelap mata karena dibakar rasa cemburunya, Lili tak berhenti begitu saja. Ia segera menarik rambut wanita itu. Membuatnya meringis menahan sakit. Tapi saat ini dia tidak hanya diam, ia membalas dan hampir saja menarik rambut Lili kalau sepasang tangan tak menariknya dengan keras.
"Sudah hentikan!!"
Reza menarik agak kasar tubuh Lili, sedang Vino menarik kasar tubuh wanita itu.
Hingga ia terduduk di tempatnya, sedang Lili berada dalam kendali Reza.
"Lepaskan aku!"
Teriak Lili sambil berusaha berontak dari dekapan Reza. Namun ia kalah tenaga dari suaminya itu.
__ADS_1
"Sayang,,, kau kenapa,,, apa salah dari Natasya, hingga kau menampar dia?"
Tanya Reza sambil berusaha menenangkan istrinya yang sudah di rasuki rasa cemburunya.
Mendengar Reza yang lebih membeli wanita yang diketahuinya bernama Natasya itupun membuat Lili semakin naik pitam. Ia pun berbalik menatap horor ke arah Reza.
"Kau bilang apa Kak,,, kenapa aku menampar wanita murahan itu,,, harusnya aku yang bertanya,,, kenapa Kakak begitu mesra dengan dia, bahkan nyuekin aku gitu aja?"
Dengan nada tinggi dan penuh penekanan, ia meluapkan semua rasa yang membebaninya saat ini, tanpa terasa buliran bening pun mengalir membasahi pipinya.
Reza pun mengusap air mata Lili lalu tersenyum tipis sambil memeluk istrinya.
"Kau cemburu dengan dia? Apa kamu tak ingat siapa dia, sayang?"
Bisiknya di telinga Lili lirih namun bisa di dengar oleh semuanya.
"Dia adik sepupu Vino bukan, yang dulu pernah main ke rumah kita."
Lanjut Reza sambil membelai lembut rambut Lili.
Mendengar perkataan Reza membuat Lili menatapnya tak percaya, ia berbalik dan menatap ke arah Vino juga Natasya yang kini memegang bibirnya yang mengeluarkan darah akibat tamparan Lili tadi.
"Maafkan aku, sungguh aku tak mengenalimu, maafkan aku, kau bole menamparku sekarang, agar kita impas."
Ucap Lili menatap Natasya penuh penyesalan.
Dengan senyum yang mengembang di bibirnya, Natasya pun berkata,"Kak Lili memang salah tapi aku lah yang memulainya, aku ingin tau apakah Kak Lili benar benar mencintai Kak Reza, secara kalian dulu seperti anjing dengan kucing, tak pernah akur, makanya ku minta Kak Reza berakting seperti tadi, maafkan aku Kak,,, ini pantas kudapatkan karena membuat singa betina Kak Reza marah,,, "
Natasya pun bangkit dari duduknya lalu memeluk Lili yang juga membalas pelukannya dengan senyum penuh arti di bibirnya.
"Kenapa kamu memiliki ide gila seperti ini, andai tadi aku langsung menghabisimu gimana, dasar bodoh."
Ucap Lili sambil mencubit pelan hidung Natasya, yang membuat dia tersenyum nyengir.
"Kakak selalu saja gitu, emang tak ada bagian tubuhku yang bisa menarikmu untuk mencubitnya, kenapa mesti hidung sih,, kan merah kan,,,"
Ucap Natasya sambil cemberut menatap kearah Lili yang tersenyum penuh kemenangan, karena sukses membuat Natasya ngambek. Karena ia paling tak suka jika ada orang yang menyentuh hidungnya.
__ADS_1
Lili pun beralih menatap kearah Vino, memberi isyarat dengan matanya, Vino pun keluar dari ruangan itu.
Lili pun menuntun Natasya duduk di tempatnya.
Ia pun membersihkan sisa darah yang ada di sudut bibir Natasya dengan tissu, ternyata bibir gadis itu sedikit sobek karena tamparannya tadi. Membuatnya merasa sangat bersalah karena kecerobohannya.
"Maafkan aku Nat,,, "
Lili menatap Natasya sendu dengan rasa bersalah terpancar di matanya.
Tak lama datanglah Vino dengan membawa kotak P3K, bersama Erlangi, Mark dan asistennya. Vino pun menyerahkan kotak itu ke Lili, dengan cekatan Lili pun membersihkan dan mengobati luka Natasya.
"Beb,,, kamu disini juga?"
Natasya terkejut karena melihat Mark datang bersama Vino dan yang lain.
Sedang Mark hanya mengangguk sambil tersenyum dipaksakan.
"Kamu kenapa Beb,,,?"
Mark pun duduk disamping Natasya serta memperhatikan Lili yang merawat luka Natasya. Tatapan Mark yang mengundang Reza untuk segera bertindak.
"Sudah sayang,,, biarkan kekasih Nat yang merawatnya, kita masih ada urusan yang lain."
Reza menarik lembut tubuh Lili agar mengikutinya berdiri dari duduknya. Lili pun mengikuti langkah Reza tanpa harus membantahnya, karena ia tahu telah membuat kesalahan lagi. Makanya ia tak mau berdebat dengan suaminya seperti biasanya.
" Vin,,, antar Erlangi pulang,,, aku urus masalahku sekarang!"
Vino yang mendengar perkataan sahabatnya juga sekaligus Bosnya hanya bisa terdiam, namun melakukan tugas yang diembankan padanya.
Segera ia mempersilahkan gadis manja keluarga Ceofeng itu untuk mengikuti langkah Reza dan Lili, yaitu meninggalkan resto itu, menyisakan Natasya dan Mark yang memandang kepergian mereka sampai mobil masing masing keluar dari area Mall.
Setelah setengah jam perjalanan, akhirnya Reza juga Lili sampai di apartemen Reza. Tanpa berbasa basi Reza segera keluar mobil lalu mengangkat tubuh Lili dan berjalan menuju apartemennya.
Setelah sampai di apartemen, tanpa menunggu persetujuan Lili ia pun membawa istrinya ke dalam kamarnya lalu merebahkan Lili di tempat tidurnya.
"Arrghh,, Lili,,,,"
__ADS_1
teriak Reza yang dikerjai oleh istrinya,, apa itu,,, tunggu aja,,,, wkwkwk
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น