GAME LOVE

GAME LOVE
bab 73 salah waktu


__ADS_3

Dengan kecepatan tinggi mobil yang ditumpangi Vino dan Erlangi meninggalkan tempat kejadian menuju kantor Reza sekarang.


Vino pun mengambil ponselnya lalu menghubungi Reza.


"Semua sudah beres, tinggal yang ada di kantor sekarang."


Sebelum mendapat jawaban Reza, Vino sudah menutup sambungan tlpnya. Erlangi yang mendengar kata Vino pun membulatkan matanya.


"Apa maksudmu dengan yang dikantor Vin, apa disana juga ada yang ingin mencelakai Kak Lili?"


Vino hanya tersenyum mendengar perkataan Erlangi.


"Dimana pun Lili berada, dia selalu jadi target Tuan Arsen, sebelum dia mencapai semua tujuannya. Kehancuran keluarga Sanjaya."


Vino pun menghempaskan tubuhnya kasar ke sandaran kursi mobil. Tatapannya lurus ke depan, kemudian ia mendesah menandakan betapa lelahnya ia dengan semua ini.


Erlangi yang mendengar dan melihat tingkah Vino pun mengerti. Ia pun ikut terlarut dalam pemikirannya sendiri.


Sementara itu di kantor Reza, nampak Lili sedang duduk di sofa sambil cemberut dan memainkan ponselnya. Reza yang melirik ke arah istrinya berada sekarang hanya bisa menahan tawanya.


Dia sadar jika Lili sekarang sangat marah padanya. Karena tak mengizinkan untuk pergi sendiri meninjau lokasi proyek yang sedang di jalankan.


Senyuman pun tersungging di bibir Reza, perlahan ia pun mendekati istrinya lalu duduk di samping Lili. Namun tak dihiraukan oleh Lili.


"Sayang,,, udah dong ngambeknya, kasihan debay ntar juga lelah kalau Bundanya marah marah terus, kan seharusnya aku yang marah , gak dapet jatah semalem."


Reza mencoba merayu Lili dengan membelai lembut rambutnya dan merengkuh kepala Lili biar bersandar di dada bidangnya sekarang.


Namun Lili tetap keras kepala dengan diam seribu bahasanya. Dia tetap sibuk dengan ponselnya.


"Sayang,,, aku ingin memperlihatkan sesuatu padamu."


Reza kemudian mengambil ponselnya di balik saku belakang jasnya. Membuka layar lalu mengaktifkan cctv dari ponselnya dan memperlihatkan kecelakaan yang terjadi di proyek.


Lili yang melihat semuanya pun terkejut, ia pun mengambil alih ponsel Reza lalu bangkit dari sandarannya, menatap lekat kearah suaminya itu.

__ADS_1


"Apa maksud dari semua ini Kak, siapa wanita yang menggantikan posisiku disana, dan siapa pria yang menyelamatkannya?"


Reza pun tersenyum lalu membelai pipi istrinya.


"Coba tebak siapa mereka?"


Lili pun membuang nafasnya kasar sambil memanyunkan bibirnya. Dia nampak kesal dengan balasan dari Reza.


"Kak,,, bilang kenapa sih, malah main tebak tebakan, udah tahu aku lagi bete juga, kenapa ditambah bete lagi. Ya udah aku pergi saja nyari tahu sendiri."


Lili bangkit dari duduknya berniat hendak melangkahkan kaki meninggalkan ruangan Reza, namun tangannya telah tertahan oleh Reza yang menariknya lembut, hingga ia pun terjatuh di pangkuan Reza.


"Kamu mau kemana sayang,,, tempatmu hanya disini, tak akan kubiarkan kau jauh dariku selangkah pun sekarang. Kau harus bertanggung jawab dengan perbuatanmu semalem juga pagi ini."


Dengan senyum menggoda serta menaik turunkan alisnya, Reza pun merengkuh leher Lili kearahnya. Sedang tangan yang satunya sudah mengunci tubuh Lili.


"Ok,,, aku mau mengikuti semua mau Kakak, tapi katakan padaku dulu siapa wanita itu."


Lili berusaha menghindari ciuman Reza dengan menutup bibirnya dengan punggung tangannya.


Bisik Reza di telinga Lili yang begitu dekat, hingga desah nafasnya terasa hangat di leher Lili. Dan dia hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan sensasi yang Reza berikan, kini bekas kissmark sudah menghiasi leher Lili.


Ia pun hanya bisa pasrah saat Reza mulai bermain di daerah favoritnya. Kedua gundukan yang selalu membuatnya haus akan dahaga kasih sayang.


Reza semakin tak bisa mengontrol lagi hasratnya. Ia pun segera membuka kancing bagian atas baju Lili dan melepaskan penghalang yang membungkus gunung kembar itu. Hingga nampak apa yang menjadi candunya. Dengan lembut ia mulai memainkan dengan lidahnya dan tangan yang satunya juga beraksi dengan memberikan sentuhan sentuhan didaerah sensitif istrinya.


Lili hanya bisa mengikuti permainan suaminya meski hatinya masih jengkel. Hingga ia merasakan daerah intinya telah bersatu dengan suaminya.


"Kak,,, yakin dengan posisi ini, aku takut debay,,,ahhh,,,,"


Ucapan Lili terputus karena Reza sudah memberikan kenikmatan yang selalu ingin mereka rasakan bersama.


"Tak apa sayang,, aku akan melakukannya dengan pelan, sesekali kita bercinta dengan posisi ini."


Lili hanya mengangguk menjawab perkataan Reza. Mereka pun mulai terhanyut dengan permainan yang membuat mereka lupa akan segalanya.

__ADS_1


Hingga ,,,," Tok,,, tok,, tokk,,,"


bunyi ketukan pintu ruangan Reza terdengar. Membuat mereka harus mengakhiri permainan.


"Kak,, buka dulu, kita lanjutkan nanti."


Tutur Lili yang tahu jika suaminya tinggal sedikit lagi mencapai puncaknya namun terhenti karena bunyi ketukan itu.


"Tidak,,, tuntaskan dulu sayang,,, biarkan mereka."


Namun bunyi ketukan semakin nyaring dan semakin sering terdengar. Membuat Reza mau tak mau harus menyudahi permainannya.


"Sial,,, siapa yang berani menggangguku, akan ku kuliti dia hidup hidup."


Cerca Reza sambil membenahi pakaiannya. Lili yang mendengarnya hanya bisa menahan tawanya sambil membenahi baju dan juga penampilannya.


Pintu pun terbuka dan masuklah Vino serta Erlangi dengan wajah penuh kemenangan.


"Kaliaaannnn,,,"


Geram Reza sambil mengepalkan tangannya, lalu melototkan matanya kearah keduanya.


"Er,,, kita datang di waktu yang tidak tepat, sebaiknya kita pergi sebelum singa di depan kita itu marah tingkat dewa."


Bisik Vino pada Erlangi yang justru tak mengerti maksud dari ucapan Vino.


"Untuk apa Kak Reza marah sama kita, harusnya dia berterima kasih pada kita dan memberi hadiah karena menjalankan misi dengan baik, benarkan Kak Ipar?"


Erlangi berlari kearah Lili yang tersenyum padanya sambil menganggukkan kepalanya.


"Oh Tuhan,,, gadis ini,,, "


Batin Vino yang sudah menatap takut dengan tatapan Reza yang tajam penuh amarah pada keduanya.


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2