GAME LOVE

GAME LOVE
bab 31 kekejaman Arsen


__ADS_3

Cahaya surya telah menerangi bumi, membangunkan semua makhluk dengan kehangatan sinarnya. Begitu juga dengan gadis cantik ini, setelah pingsan semalaman akhirnya ia pun tersadar dari alam mimpinya.


Perlahan dikerjabkan matanya, nampak ruangan serba putih terlihat olehnya, tangannya terasa nyeri karena terpasang infus, dan disampingnya kini sudah ada orang yang sangat dihormatinya, disayanginya melebihi apa pun, iya dia adalah Bunda Ay.


Perlahan Zahra bangun dari tidurnya, dengan hati hati ia bersandar pada kepala brankar menggunakan bantalnya sebagai penyangga punggungnya. Ditatapnya sayu wajah yang nampak lelah dan letih itu.


Tak terasa butiran bening pun keluar dari pelupuk matanya.


"Bunda,,, maafkan aku,,,selalu saja membuat Bunda khawatir, andai aku turuti kata Bunda, pasti ini semua nggak akan terjadi."


Bisiknya dalam hati sambil menggigit punggung tangannya agar isaknya tak terdengar oleh Bunda Ay.


Tanpa disadari Zha, seorang pria memandanginya dari sofa diruangan itu, posisinya yang seakan tertidur, menyamarkannya untuk melihat semua yang terjadi. Dalam hatinya ada rasa bersalah atas apa yang menimpa pada gadis di depannya sekarang.


" Maafkan aku, jika kau tak meminum minuman itu, pasti tak akan ada kejadian ini, maafkan aku, kamu yang harus menanggung akibatnya seumur hidupmu, dan aku pasti bertanggung jawab untuk semua itu."


Bisiknya dalam hati sambil menatap Zha yang masih mengusap tangan Bunda Ay sambil berlinang air mata.


Kean jadi teringat saat Dokter memeriksa kondisi Zha, ia tak menyangka akan ada orang yang sekejam itu di dunia ini.


Menggunakan obat untuk menggugurkan kandungan.


"Gimana kondisinya, Dok?"


"Dokter Kean pasti juga bisa memeriksanya sendiri, jika apa yang saya katakan mungkin terlalu menyakitkan."


Dokter itu pun menghela nafasnya sekejap, kemudian memberikan lembaran hasil lap yang ada di tangannya.


"Dokter Kean liat sendiri, inilah yang terjadi pada gadis itu."

__ADS_1


Kean pun mengambil hasil tes lab yang ada di tangan Dokter tadi dan memeriksa hasilnya.


Matanya membulat sempurna saat tau hasil dari laporan tes lab tersebut.


"Dok, tolong jangan kasih tau pada Zha tentang semua ini, ini bisa menghancurkan dia, juga Bunda Ay pasti akan bersedih jika tau apa yang menimpa putri tersayang nya, aku akan mencari alternatif lain untuk kesembuhannya."


Namun belum sempat Dokter itu menjawab dari balik pintu sudah terdengar suara yang mereka kenal.


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan putri Bunda, Nak Kean? Separah apa pun kondisinya, Bunda berhak tau, Nak. Katakan saja semuanya, insya Allah,,, aku ikhlas dengan cobaan ini."


Bunda Ay pun melangkah masuk dan duduk di samping Kean setelah dipersilahkan oleh Dokter yang memeriksa Zha.


" Bunda,,, aku minta maaf,,, ini semua memang salahku, seharusnya yang menanggung semua bukan Zha melainkan Lili, obat itu diperuntukkan ke Lili, tapi aku malah memberikannya pada Zha, aku akan bertanggung jawab untuk ini semua Bunda, maafkan kesalahan saya, Bunda."


Kean duduk bersimpuh di depan Bunda Ay dengan tangannya menggenggam tangan beliau.


"Nak Kean duduk dan ceritakan ke Bunda, semuanya Nak, jangan ada yang ditutupi, dia putri Bunda, dan Bunda berhak tau kondisinya."


Akhirnya Bunda Ay pun mengeluarkan ketegasannya meskipun dengan ucapan dan suara yang lembut, membuat Kean mengikuti perkataannya.


Kean pun menceritakan semuanya tanpa terkecuali hingga sampai Lili pun diculik, Bunda Ay pun terkejut mendengar Lili diculik, nampak raut kesedihan dan kecemasan diwajahnya, namun ia tak memotong ucapan Kean, dan masih seksama mendengarkan penjelasan Dokter tampan itu.Hingga Kean harus berhenti dan memandang penuh rasa bersalah padanya.


" Bunda efek obat itu, selamanya Zha tidak akan bisa memiliki keturunan lagi, karena kandungannya telah kering dan bermasalah, jika obat itu terminum oleh Lili maka dipastikan Lili akan kehilangan janin nya dan iapun akan bernasib sama seperti Zha, tapi Bunda tak perlu khawatir, aku akan memberikan Zha pengobatan hingga kesuburan kandungannya kembali."


Bunda Ay hanya bisa meneteskan airmatanya, ia tak menyangka jika semua itu akan menimpa pada putrinya dan juga Lili. Ingin sekali ia marah dan mengutuk pelaku yang memberi minuman itu, namun teringat kondisi Zha dan Lili, ia justru berdoa untuk kebaikan pelaku tadi agar dibukakan pintu hidayah dan rahmad oleh sang Khalik.


*****


Di sebuah ruangan yang sedikit gelap, nampak seorang wanita sedang tergeletak dilantai tanpa beralaskan apa pun. Ruangan itu sungguh pengap dan berbau. Banyak sekali debu yang menempel di ruangan itu. Yang membuat ruangan itu sedikit terang karena adanya ventilasi dari jendela dan atap yang terbuat dari kaca, hingga bila malam dapat terlihat bintang dan bulan dengan.jelas dari ruangan itu. Dan bila siang nampak matahari dengan cahaya panasnya yang masuk menerobos dari kaca.

__ADS_1


Setelah sekian lama tak sadarkan diri akhirnya ia pun mulai mengerjabkan matanya.


Setelah kesadarannya mulai pulih, ia pun terdiam sambil memandangi langit malam yang kini di penuhi oleh bintang dan cahaya bulan. Air mata tanpa sadar telah membasahi pipinya.


" Ma,,, Pa,,, aku rindu kalian,,, semoga kita bisa bertemu kembali, maafkan putrimu ini, tenang saja, aku akan berjuang hidup demi anakku, aku takkan menyerah, Ma,, Pa,,, tunggulah kembaliku."


Lili pun menghapus airmatanya, perlahan bangun meskipun tubuhnya masih terasa lemah, dia berjalan ke arah pintu, dan berusaha untuk membuka kode pintu itu. Berulang kali ia mencoba menemukan sandi pintu itu dan akhirnya,,,


" Alhamdulilah,, ternyata orang tua itu begitu mencintai bibiku,, hingga tak melupakan tanggal lahir bibiku,, he,, he,,he,,"


Lili terkekeh pelan, mengingat betapa cerobohnya Arsen tak mengganti kata sandi pintunya.


Saat pintu sedikit terbuka, Lili bisa melihat ada lima orang bodyguard, tapi mereka seperti dari luar dan bahasa mereka juga menggunakan bahasa asing.


Sejenak Lili menguping pembicaraan mereka, dan ia pun terdiam terpaku setelah mengetahui semuanya.


"Kau ingin melenyapkan keturunanku, jangan harap aku akan diam saja, kita lihat, jika sedikit saja kau sentuh janinku, maka selamanya kau takkan bisa bertemu dengan bibiku."


Senyuman penuh misteri muncul di balik bibir yang terlihat pucat itu. Lili pun segera menutup pintu dan menguncinya kembali saat ia mendengar suara Arsen.


Saat pintu itu terbuka, nampak Lili yang tergeletak tak berdaya dalam pingsannya.


" Dasar wanita lemah,, kita lihat,, sampai sejauh mana kau bisa bertahan, nikmati hari harimu di neraka ini."


Setelah itu Arsen keluar setelah memberikan suntikan pada anak buahnya.


" *Kau tahu harus apa jika dia bangun."


bersambung*,,,

__ADS_1


__ADS_2