
Lili hanya bisa terkulai di lantai, tanpa bisa berbuat apa apa, buliran bening terus saja mengalir dari pelupuk matanya.
Ia seakan kehilangan tenaga untuk menopang tubuhnya sendiri.
Dinginnya ruang bawah tanah itu seakan tiada dirasa olehnya.
Dengan sisa tenaga yang dimilikinya ia pun berusaha bangkit dan berjalan ke pintu, dengan susah payah ia berusaha membuka pintu itu, sampai tangannya terluka dan darah mengalir dari sana, Lili mencoba untuk bertahan agar tak pingsan melihat darahnya sendiri.
"Keluarkan aku dari sini,, aku ingin melihat suamiku,,, buka pintunya,, kumohon,,, buka pintunya,, hiksss,, hikksss,,,"
Air mata terus mengalir tiada hentinya, tubuhnya yang lemah tak membuatnya putus asa untuk membuka pintu penjara bawah tanah itu.
Sesaat ia teringat akan Reza yang sampai sekarang pun belum diketahui nasibnya, ia hanya tau kalau suaminya masih hidup meski kritis keadaannya saat ini.
Ia teringat saat Arsen menembakkan pistol kearahnya. Namun justru pistol itu mengenai Reza yang menghadangnya dan tepat mengenai punggung Reza.
"Lili,,,"
Dengan menahan sakitnya Reza sempat membawa Lili keluar dari Mansion, namun karena darah nya terlalu banyak yang keluar ia pun lemah dan tak sanggup menghadapi puluhan anak buah Arsen.
Meskipun Lili telah membantunya.
Mereka pun harus terpisah lagi, Reza dibawa ke kamarnya dan dirawat oleh Dokter keluarga mereka. Sedangkan Lili berakhir di penjara bawah tanah ini.
Sekeras apa pun usaha Lili untuk membuka pintu itu namun sia sia. Dengan derai air mata ia terduduk bersandarkan pada dinding pintu penjara.
Tangannya terus memukul mukul pintu itu, hingga darah semakin banyak yang mengalir keluar dari lukanya.
"Kumohon, biarkan aku pergi, aku ingin bertemu suamiku, oh Tuhan,,, ijinkan aku bertemu dengannya,,, aku ingin merawat dia,,, hikss,, hikss,,"
__ADS_1
Tangis Lili semakin menjadi, dadanya terasa sesak, sakit, tak berdaya dengan keadaan, membuatnya semakin putus asa.
Vino yang mendengar tangisan Lili pun tersadar dari pingsannya. Perlahan ia membuka matanya, melihat keadaan Lili yang sangat memprihatinkan. Ia pun menitikkan air matanya, tak kuasa melihat orang yang sangat disayangi oleh sahabatnya dalam keadaan seperti itu, terlebih ia sudah tau jika Sanjaya dan istrinya telah tiada, lewat Henry yang menyiksanya tadi.
"Nona Lili,,,"
Panggilnya pelan, namun bisa terdengar oleh Lili, karena suaranya menggema di ruangan itu, meskipun mereka tak seruangan.
Lili pun menghapus airmatanya, menoleh ke arah suara yang memanggilnya.
"Vino,,,"
Ucapnya lirih, lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekati Vino.
"Vino,, kamu masih kuat kan? Kita pasti akan keluar dari sini aku janji padamu, kau harus bertahan, maafkan kami telah membuatmu seperti ini."
Dengan tatapan penuh penyesalan Lili mengatupkan kedua tangannya di dada, meminta maaf pada Vino, sungguh ia merasa bersalah pada sahabat suaminya itu.
Dengan mata yang berkaca kaca Lili pun meninggalkan Vino yang menatapnya sendu.
" Aku tidak akan pergi, kalianlah keluargaku sekarang, suka duka akan kita hadapi bersama."
Teriak Vino yang membuat langkah kaki Lili pun terhenti, sejenak ia menoleh ke arah Vino sambil tersenyum penuh arti, membuat Vino tau akan arti senyuman Lili.
Ia pun membalas senyuman Lili dan mengedipkan sebelah matanya.
"Dasar playboy,,, " Ucap Lili lirih namun terdengar oleh Vino, membuat pria yang bermandikan keringat dan darah yang mulai mengering itu pun tertawa terbahak bahak, membuat anak buah Henry mau tak mau harus masuk ke ruang bawah tanah itu, memastikan keadaan tawanannya.
Kesempatan itu pun digunakan Lili dengan baik, ia pun berpura pura sakit dengan memegangi perutnya.
__ADS_1
"Aww,,, aduh,,, sakit,,, sakit sekali,,, tolong sapa saja bawa aku ke Rumah Sakit, aku tidak tahan,,, sakit sekali,,, rasanya bayiku ingin keluar,, aww,,, sakit,,,"
Dengan nada yang menyayat hati, Lili mulai beracting.
Membuat bodyguard itu terketuk hatinya, karena ia juga punya istri yang sedang hamil, hingga ia tau penderitaan Lili, setelah mengambil air minum di gelas, ia pun membuka pintu penjara Lili dan memberikan air itu pada Lili.
"Minumlah,,, setidaknya ini bisa membuat tubuhmu lebih segar, dan ini,,,makanlah, kasihan bayimu kelaparan."
Pria itu menyodorkan sepotong roti yang dibawanya. Dengan tersenyum Lili menerima air dan roti itu.
" Terima kasih, kau orang baik, kenapa ikut pak tua itu, harusnya kau bisa hidup lebih baik dari ini."
Pancing Lili namun pria itu hanya tersenyum tipis.
"Aku baik karena istriku juga sedang hamil Nona, makanya aku tau penderitaan Nona."
Ucap pria itu hendak berlalu pergi. Namun belum sempat pria ini meninggalkan tempat itu , Lili sudah berhasil melumpuhkannya, dengan satu gerakan.
," Maaf,, tapi ini harus aku lakukan, demi keselamatan kami, tenang saja aku akan membalas budi baikmu nanti."
Lili pun segera melangkah keluar dan menghampiri Vino yang masih terikat, segera ia membebaskan Vino, kemudian keduanya melangkah keluar dari ruang bawah tanah itu.setelah melumpuhkan anak buah Arsen.
Dengan mengendap endap mereka menghindari CCTV yang terpasang di setiap sudut ruang dan jalan keluar.
Dengan hati hati sekali akhirnya mereka berhasil kabur dari Mansion Arsen. Namun belum sempat mereka pergi jauh dari Mansion itu terdengar suara tembakan.
"Doorr,,doorr,,,"
Lili terkulai lemah jatuh tak sadarkan diri.
__ADS_1
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น