
"Maafkan aku, selalu buat Kakak marah dengan ulahku, tapi aku juga tidak bisa berjanji jika nantinya tidak akan melakukan kesalahan lagi. Tapi dari lubuk hati yang terdalam, aku meminta maaf dan berusaha menjadi lebih baik lagi demi kita, maafkan aku Kak,,,"
Itulah penggalan surat yang ditulis oleh Lili. Setelah melihat Lili meminum kelapa muda yang dipetiknya sendiri, Reza merasa puas dan bahagia bisa mengabulkan keinginan istrinya.
Dia pergi tanpa sepatah kata karena tergesa gesa harus kembali ke kantor pusat. Karena ada masalah yang tak dapat ditunda lagi.
Ia pun tidak sempat berpamitan pada Lili, karena ia tau pasti Lili tidak akan mengijinkan Reza pergi saat tau ia terluka.
Satu satunya cara pergi dalam diam, biar Lili beranggapan kalau dia masih marah. Itu akan menguntungkannya nantinya. Karena Lili pasti akan merasa bersalah terus dan pasti akan memikirkan dia seorang bukan yang lain.
Senyum penuh kemenangan terbit di bibir Reza. Melihat sosok yang sangat dirindukannya yang tersenyum manis di ponselnya. Iya,,, sejak peristiwa kemarin memang mereka terpisah hampir satu bulan. Karena kesibukan masing masing.
Reza yang sibuk dengan perusahaan Sanjaya juga perusahaan Papanya yang kini di alihkan atas namanya. Juga bisnis bawah tanah milik Papanya, membuatnya semakin sibuk harus bolak balik Indo Ausie.
Sedangkan Lili juga sibuk dengan perusahaan baru yang membutuhkannya selalu stay di kantor dengan tender yang di perolehnya. Ia tak ingin mengecewakan investor, selain itu ia ingin tunjukkan dengan kemampuannya sendiri perusahaannya akan berkembang dan tak akan kalah dengan Reza juga Jay yang sudah merajai dunia bisnis sekarang.
Dan hari ini, Lili ada meeting dengan investor yang berasal dari Ausie, seperti yang telah di agendakan, saat jam makan siang mereka akan bertemu di salah satu Resto yang ada di sebuah Mall yang terkenal di kota S.
Di dampingi oleh Erlangi, Lili pun pergi menuju Mall tersebut.
Erlangi memang diberi amanat oleh Mama Aisyah untuk menjaga Lili jika ia melakukan perjalanan bisnis, juga bertemu dengan klien baik di dalam juga luar negeri. Dengan kondisi Lili saat ini, mereka tak tega melepas Lili di luar seorang diri meski selalu saja ada bodyguard yang menjaganya dari jauh. Meski mereka tahu, Lili bisa melindungi dirinya sendiri, karena dia juga jago bela diri. Namun mereka tak mau mengambil resiko sekecil mungkin, hingga Erlangi yang di beri amanat untuk menjaga Lili. Sekalian ia bisa belajar secara langsung tentang dunia bisnis.
Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai di Mall yang di tuju. Setelah memarkir mobil mereka pun memasuki Mall tersebut. Dengan menggunakan lift, dalam sepuluh menit mereka sudah sampai di resto yang dituju.
Mereka pun segera menuju ke ruang VIP yang telah di pesan oleh klien mereka.
Resto yang menyediakan masakan khas Jepang, yang telah di pilih oleh klien mereka.
Meski mulanya Lili menolak karena ia tak suka masakan Jepang. Karena lidahnya lebih cocok dengan masakan asli Indo.
Saat memasuki ruangan tersebut dan mencium bau masakan yang mengutamakan ikan yang masih segar itu, Lili sudah mual dan ingin muntah saja, namun ia tahan karena tak enak dengan klien nya.
"Selamat siang Nona Lili, perkenalkan, saya perwakilan dari Golden Boy Company."
Tutur orang itu sambil mengulurkan tangannya.
__ADS_1
"Senang bisa berkenalan dengan anda, Tuan."
Lili pun membalas uluran tangan kliennya dan mereka saling berjabat tangan.
"Mark,,,"
Ucap pria itu selanjutnya.
Dengan tersenyum ramah Lili pun berkata,"Tuan Mark,,,"
Akhirnya mereka pun mulai membicarakan tentang bisnis. Pandangan Mark tak pernah lepas dari Lili yang sibuk membaca berkas berkas kerjasama mereka. Nampak jelas di matanya ada ketertarikan pada wanita di depannya sekarang. Dan itu tak lepas dari tatapan elang seorang Erlangi.
"Maaf Tuan Mark, tolong jaga pandangan mata anda, karena saya tidak menyukainya."
Tiba tiba saja kata kata itu terucap dari bibir Erlangi yang menatap Mark dengan tajam.
Membuat Mark dan asistennya serta Lili terkejut dan langsung menoleh ke arah Erlangi.
Namun gadis itu tak mengubah pandangannya meski ada tatapan tak suka terarah kepadanya.
"Nona,,, apa saya telah menyinggung Nona?"
Tanya Mark yang sedikit menggeser tempat duduknya agar bisa menatap Erlang dalam posisi yang sempurna.
"Anda sangat menyinggung saya dengan tatapan anda pada kakak ipar saya, diharamkan untuk pria manapun menatapnya seperti itu, karena dia hanya milik kakak saya, anda mengerti Tuan Mark yang terhormat, jadi selain urusan bisnis lebih baik anda tak menjerumuskan diri sendiri."
Kata kata Erlangi begitu tegas dan penuh dengan penekanan. Sesaat Mark mengernyitkan dahinya, lalu ia melirik ke arah Lili yang seakan cuek dengan kata kata Erlangi barusan. Ia tetap fokus dengan berkas berkasnya.
" Maaf kan saya jika berlaku tak pantas pada Nyonya Lili, karena saya beranggapan kalau dia masih singgle, belum menikah, maaf untuk ketidak tahuan saya."
Sanggah Mark yang ditanggapi malas oleh Erlangi.
"Tak apa Tuan Mark, maafkan atas sikap adik saya, tapi saya bangga padanya, bisa menjalankan tugasnya dengan baik untuk menjaga saya."
Lili tersenyum penuh arti kearah Erlangi, namun gadis itu makin cemberut dengan ulah Lili.
__ADS_1
"Apaan Kak Lili, ngapain minta maaf sama si brengsek itu, awas saja, kalau sampai Kak Ezza tau, pasti kamu tidak akan bisa keluar rumah meski selangkah kaki pun, baru tahu rasa kamu Kak,,,"
Gumam Erlangi yang merasa jengkel karena Lili seakan lebih membela kliennya dan menyalahkan dirinya.
Andai ia tak berjanji pada Mama dan kakak kakaknya, mungkin sekarang ia akan langsung keluar dari ruangan itu.
Namun ia harus hilangkan angan angan itu karena janjinya.
Lili yang melihat Erlangi cemberut hanya bisa tersenyum. Lalu fokus kembali pada kliennya.
"Tuan, gimana dengan proposal kami, apa anda setuju bekerja sama dengan kami, menanamkan saham anda pada proyek kami?"
Tutur Lili dengan santun.
"Sebelumnya kami sudah mempelajari semua, dan kami putuskan untuk menanamkan modal kami di perusahaan anda Nyonya Lili, mulai sekarang kita jadi rekan bisnis."
Mark pun menandatangani kontrak perjanjian. Lalu menyerahkannya pada Lili, setelah Lili ikut menanda tangani berkas perjanjian itu lalu menyerahkan bagian Mark sambil tersenyum.
"Senang bisa bekerja sama dengan anda Nyonya Lili, moga kita bisa jadi rekan bisnis yang saling menguntungkan."
Diiringi dengan senyuman yang tak bisa diartikan, Mark pun memberi isyarat pada pelayan resto untuk menyiapkan makan siang mereka.
Tak lama, hidangan pun tersedia di meja makan.
Lili yang mencium bau yang membuatnya mual pun tak bisa menahan perutnya yang terasa teraduk aduk mau keluar seluruh isinya.
Segera ia pamit ke toilet sebentar, dengan langkah yang tergesa gesa ia tak menyadari jika ia telah menabrak seorang wanita yang baru saja dari toilet wanita.
"Matamu kamu taruh dimana hah,,, kau sudah mengotori gaunku, pasti kekasihku akan jijik jika melihat gaunku yang terkena bau miskinmu itu."
Ejek wanita itu sambil mendorong tubuh Lili menjauh darinya. Hampir saja Lili terjatuh kalau tidak ada tangan yang menyangganya.
" *Tuan ,,,"
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*
__ADS_1