
"Mama,,," teriak ketiganya saat pisau itu sudah berada di leher Mama Aisyah. Langkah kaki mereka terhenti saat ada perintah untuk menghentikan gerakan mereka.
"Berhenti kalian, kalau tidak maka pisau ini akan dengan senang hati menyayat leher Mama kalian." Pria paruh baya itu sudah mengunci tubuh Mama Aisyah membuatnya sulit untuk bergerak juga bernafas.
Reza, Lili juga Erlangi sontak menghentikan langkah mereka. Wajah ketiganya nampak pucat pasi melihat pria gila itu sudah menyandera Mama mereka.
"Pa,,,hentikan kegilaan ini, aku tidak akan memaafkanmu jika Mama kenapa napa, itu sumpahku." Reza dengan geram mengepalkan tangannya kuat menahan amarahnya. Matanya sudah memerah dengan tatapan tajam terhunus kearah Papanya.
"Ku mohon Pa,,, lepaskan Bunda Aisyah, jika Papa ingin membalaskan semua sakit hati Papa di masa lalu, lampiaskan semua padaku, aku putri orang yang menyebabkan luka hati Papa bukan Bunda Aisyah,,, hikkss,, hiikkss,, lepaskan Bunda aku mohon Pa,,," Lili mengatupkan kedua tangannya di dada dengan derai air mata yang sudah mengalir deras dari pelupuk matanya
"Kamu wanita bodoh,,, kamu anggap akan terbebas dari aku jika wanita sialan ini jatuh ke tangan ku. Kalian berdua akan membayar semua sakit hati atas kehancuran keluargaku. Dan kau Reza,,, anak durhaka, lebih memilih keluarga yang menghancurkan keluarga kita dari pada Papamu sendiri. Banyak wanita cantik yang selevel dengan kita, kenapa kamu malah jatuh hati pada wanita tak berguna itu, hah,,," bentak Arsen pada putranya yang hanya terdiam mencari kelengahan Arsen dan merebut Mamanya kembali.
"Lepaskan Mamaku brengsek,,," teriak Erlangi tak mau kalah dengan kakak juga kakak iparnya. Meskipun ia juga gemetaran melawan rasa takutnya jika Arsen benar benar melukai Mama Aisyah.
__ADS_1
"Diam kau gadis brengsek,,, aku belum membikin perhitungan denganmu berani menghabisi nyawa anak buahku." Bentak Arsen dengan nada tinggi membuat wajah Mama Aisyah terlihat pucat. Nada bicara ini, amarah ini sangat ia kenali.
"Lepaskan anak anak, mereka tidak tahu apa apa, mereka tidak bersalah Mas,,," tuturnya lembut meski ada getaran di setiap katanya, karena merasa takut ketiga anak itu akan dalam bahaya saat ini, apa lagi Lili yang sedang mengandung cucunya, ia tak mau hal buruk terjadi pada keduanya. Ia percaya jika Reza juga Erlangi bisa menjaga diri mereka jika ada baku hantam dengan Arsen, tapi Lili,, ia tidak mungkin bisa melawan anak buah Arsen, begitu pikiran Bunda Aisyah saat ini, makanya ia hanya menuruti perkataan Arsen, pria yang sampai detik ini pun masih ada di bagian hatinya yang lain, yang ditutup rapat oleh Mama Aisyah.
Arsen sedikit tertegun mendengar ucapan Mama Aisyah, suara yang dulu selalu menenangkannya juga membuatnya tergila gila dengan sapaan yang sama, andai waktu bisa di putar lagi, ia pasti akan menghentikan kegilaan ini demi istri juga putranya. Namun semua terlambat, karena dendam membaranya ia telah kehilangan mereka berdua sejak 25 tahun yang lalu, kini hanya tersisa puing puing hati yang tak mungkin bisa kembali lagi. Menyisakan kehancuran hati yang teramat pedih untuknya. Meskipun ia pria yang kejam, menyakiti wanita yang sangat dicintainya pun ia tidak akan tega, apa lagi untuk membunuhnya. Namun cara ini terpaksa ia lakukan untuk mendapatkan Lili agar ikut dengannya. Bukannya ia tidak tahu jika Lili sedang hamil, karena kehamilannya itulah mengubah rencana awal Arsen dengan rencana yang baru.
"Lepaskan Mama Pa,,, " teriak Reza frustasi karena kini Mamanya ditarik Arsen sedikit demi sedikit melangkah menjauhi ruangan Reza, namun ketiganya masih tetap mengikuti Arsen dengan jarak yang mereka rasa aman.
"Mas kau sudah gila,,, kenapa terus menjadikan Lili alat balas dendam mu, aku yang bersalah telah meninggalkanmu, bukan Lili yang tak tau apa apa, biarkan mereka bahagia Mas,,, aku mohon jangan ganggu kehidupan mereka lagi, apa lagi sekarang, cucu kita akan lahir, apa kamu tidak merasa bahagia, yang lalu tidak akan bisa kembali lagi, maafkan Sanjaya dan keluarga nya, bukan sepenuhnya salah mereka jika adikmu harus kehilangan nyawanya saat melahirkan Henri. Aku mohon, biarkan mereka bahagia Mas,,, hikkss,,, hikkss,," ucapan Mama Aisyah terdengar begitu pilu di telinga, disertai isakan tangisnya yang semakin membuat hati merasa miris mendengar nya.
"Tentu saja kau juga harus bertanggung jawab akan apa yang terjadi di masa lalu, kamu pikir aku akan melepaskanmu, jangan mimpi,,," lirih Arsen yang hanya bisa di dengar oleh Mama Reza. Ia pun semakin gemetaran dengan wajah yang pucat pasi.
"Bagaimana anak bodoh, apa kamu sudah bisa memilih antara Mama mu dengan wanita sialan itu, waktuku tidak banyak,,,"
__ADS_1
Setelah Arsen menyelesaikan katanya, nampak lah Henry dan beberapa bodyguard mendekat kearah mereka.
"Aku akan ikut Papa, tapi lepaskan Bunda,,," dengan lantangnya Lili bersuara sambil melangkah mendekati Arsen juga Bunda Aisyah.
"Lili,,,, tidak,,,jangan sayang,,," teriak Bunda Aisyah sangat kencang lalu terkulai tak sadarkan diri.
"Henri,, amankan wanita sialan itu."
"Baik Om,,," Henri segera menembak kearah Reza juga Erlangi yang disusul dengan jatuhnya kedua orang itu ke lantai.
"Tidak,,,"teriak Lili yang langsung jatuh setelah ada jarum yang menusuk di pundaknya.
bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹
__ADS_1