
Kepergian Lili yang tiba tiba tanpa menulis pesan apa pun menyisakan duka dihati kedua orang tuanya. Tiap detik bagi mereka begitu
menyiksa bagi keduanya, dua minggu sudah mereka mencari keberadaan Lili yang tak tau rimbanya.
Meski sebuah rekayasa kecelakaan telah tersusun rapi untuk menghilangkan jejak Lili, tapi mereka yakin kalau putri mereka masih hidup, karena jasad yang ditemukan di mobil Reza yang masuk ke dalam jurang dan terbakar itu bukanlah jasad putri mereka setelah tes DNA keluar.
Sejenak mereka merasa lega, karena tak kehilangan putri semata wayang mereka, namun raut kecemasan itupun kembali saat mereka tak dapat menemukan keberadaan Lili saat ini.
Di ruang kerja Presdir Sanjaya kini semuanya berkumpul. Mereka sedang membahas pencarian Lili yang belum juga ada titik terangnya.
"Reza, apa belum ada kabar dari anak buahmu, kenapa begitu lama mencari jejak putriku, aku takut dia kenapa napa di luar sana."
Mama Zahira sudah berderai air mata, mengingat putri tercintanya.
"Mereka sudah menemukan Lili, dan mereka mengawasinya dari jauh, Mama tenang saja, saya sendiri yang akan menjemput Lili dan membawanya kembali pulang."
Reza pun bangkit dari duduknya, hendak melangkah keluar ruangan namun kakinya terhenti karena dihadapannya sekarang sudah berdiri orang yang sangat di benci dan juga di hormatinya.
Mereka saling beradu tatap, sinar kebencian dan juga kerinduan jelas terlihat di mata keduanya.
" Wah, beruntung sekali aku bisa bertemu dengan Tuan Arsen, maaf sebelumnya, ada kepentingan apa Tuan datang kemari, bukankah kita tidak memiliki kerjasama bahkan janji pertemuan."
Papa Sanjaya dan Mama Zahira pun bangkit dari duduknya, mempersilahkan Tuan Arsen untuk duduk di sofa.
" Silahkan duduk jika anda tak tau malu untuk melakukannya."
Tutur Reza dengan menahan geramnya.
" Reza, jaga sikap dan ucapanmu pada yang lebih tua, apa ini hasil didikan dari mereka?Mengecewakan sekali."
Tutur Arsen yang tetap berdiri pada tempatnya semula.
" Ada kepentingan apa anda datang kemari Tuan? Jika hanya membuat keributan disini dengan senang hati saya persilahkan anda keluar dari ruangan ini dan hidup kami."
Dengan tatapan membunuhnya Reza menekankan setiap kata katanya.
" Dasar anak tak tau diri, berani sekali kamu mengusir Deddy kandungmu sendiri."
Dengan nada meninggi Arsen mencengkram jas Reza, dan siap melayangkan bogem mentah kearah wajah putranya itu.
Namun Reza tak takut, justru ia malah menantang Papanya dengan senyum mencibirnya.
"Dari dulu hanya itu yang bisa kau lakukan padaku, kau hanya bisa menyakitiku, untuk apa aku harus hormat padamu, kau yang memisahkan aku dari ibu kandungku, memisahkan aku dari istri yang seharusnya aku jaga dengan sepenuh jiwa ragaku. Apa itu yang disebut Papa?"
__ADS_1
Reza dengan kasar menepis tangan Papanya dari jasnya. Lalu melangkahkan kakinya berniat keluar ruangan itu, namun tertahan oleh ucapan Arsen.
"Kau ingin menemui wanita itu bukan, bukankah sudah kubilang, jauhkan dia dari hidupmu, kalau tidak, akibatnya akan seburuk apa kau tahu itu dengan baik."
Arsen menatap tajam kearah Papa Sanjaya dan Mama Zahira yang juga masih terpaku di tempat mereka masing masing melihat pertengkaran Ayah dan anak itu. Meski sudah tidak asing lagi bagi mereka. Karena sikap keduanya yang sama sama keras kepala dan sama sama arrogant.
"Aku tak mau menyesal sepertimu, tersiksa sepanjang usiamu karena merindukannya, aku pasti menjaga wanitaku meski nyawaku taruhannya, kau pikir bisa menggertakku dengan ancamanmu? Terlalu naif."
Reza tersenyum sinis, melanjutkan langkahnya yang tertahan lagi oleh Alin yang sudah berdiri tepat di depannya.
"Sekali kau melangkah keluar dari ruangan ini, namamu tercoret dari ahli warisku satu satunya, kau sudah tau siapa yang kumau jadi pendampingmu."
Arsen melangkahkan kakinya mendekati Alin lalu memeluk gadis itu.
"Gimana kabarmu sayang, aku sangat merindukanmu, makanya aku datang melihatmu."
Sambil melepas pelukan mereka.
"Kapan Papa datang, kenapa tak memberitahu ku, kan aku bisa memberikan sambutan spesial tuk Papa."
Dengan manjanya Alin bergelayut di lengan Arsen, membuat pria paruh baya ini tersenyum dan membelai rambut Alin.
"Ini yang aku rindukan, sikap manjamu, menantu Papa yang terbaik."
"Pa,,, Eza sudah menikah, jangan memperkeruh suasana lagi, aku ikhlas Pa."
Alin pun memberi kode pada Reza agar cepat keluar dari ruangan itu dengan mata dan jarinya, sedang ia berusaha untuk melunakkan dan menyenangkan hati Papa angkatnya.
"Pa,, aku kangen makan bersama, ayo kita ke resto favorit Papa, perutku sudah lapar, tega Papa membiarkanku kelaparan."
Dengan bibir sedikit dimajukan, membuat Arsen tertawa dan melangkah keluar bersama Alin yang bergelayut manja di lengan Arsen.
Tanpa menghiraukan Papa Sanjaya dan Mama Zahira yang sudah menahan amarahnya dari tadi, sejak debat Arsen dengan Reza tadi.
" Semoga putri kita baik baik saja."
"Kita susul mereka saja Pa, aku sudah tak tahan lagi berdiam diri terus seperti ini."
Mama Zahira menangis lagi di pelukan suaminya.
"Bersabarlah, Reza pasti bisa membujuknya untuk pulang, biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka dulu."
Papa Sanjaya pun membawa masuk Mama Zahira ke kamar khusus peristirahatannya, dan menenangkan istrinya.
__ADS_1
********
Di gubuk tua tengah perkebunan, Lili yang tangannya terikat berusaha untuk melepaskan tali yang mengikatnya. Namun usahanya sia sia, karena tali itu terlalu kencang mengikatnya. Ia hanya bisa berdoa saat anak rentenir itu akan menjamah tubuhnya.
Matanya terpejam saat jemari itu menjamah wajahnya, dan ia terkejut saat membuka matanya, karena yang dihadapannya kini bukanlah anak rentenir itu, melainkan Reza.
"Mau apa kamu kesini, pergi,,, aku tak butuh bantuanmu."
Lili membuang wajahnya ke samping hingga tangan Reza terlepas dari wajahnya.
Namun Reza tak menghiraukan ucapan Lili. Ia justru mendekatkan wajahnya ke arah Lili.
Lalu berbisik tepat di telinganya,"tunggu saja hukuman dariku setelah kubereskan cecunguk itu."
Lili memandang Reza tajam, mencoba menyelami dalamnya hati Reza lewat matanya, nampak terlihat jelas pancaran kerinduan dan amarah disana, membuat Lili terdiam dan hanya bisa memandangi tingkah laku suaminya meski ia ingin menolak ikatan itu. Namun kenyataannya memang mereka sudah sah secara hukum dan agama.
Reza berjalan kearah kelima berandalan yang sudah dibekap mulutnya oleh Vino dan anak buah Reza yang lain.
"Vin, bereskan semua, dan urus juga wanita itu, kalian tunggu di rumah Paman, aku akan membereskan wanitaku."
Vino yang mengerti maksud dari Bosnya pun melaksanakan semua perintahnya, membawa kelima orang itu dan juga Zahra yang kini sudah membuka ikatan Lili.
"Ana,,, aku tak mau pergi,, aku ingin denganmu, aku tak mau ada apa apa sama kandunganmu."
Zahra memegang tangan Lili agar mereka tak terpisah.
Reza juga Vino yang mendengar ucapan Zahra pun terkejut dan diam seribu bahasa, nampak kebahagiaan terpancar jelas di raut wajah mereka.
"Vin,," suara Reza yang memecah keheningan saat itu, menyadarkan Vino lalu menarik lembut tangan Zahra hingga terlepas dari tangan Lili.
"Ana,,, aku tak mau pergi,,"
Dengan senyum menghiasi bibirnya, Lili pun mengangguk dan berkata,"pergilah,,, aku akan baik baik saja,, mereka orang baik,,, bilang sama Bunda Ay,, kalau aku tak pulang berarti suamiku sedang menculikku."
Ucap Lili seraya melirik ke arah Reza yang tersenyum tipis mendengar ucapannya.
Zahra pun tersenyum dan mengangguk, lalu mengikuti Vino meninggalkan tempat itu.
Kini tinggallah mereka berdua yang saling pandang, menanti apa yang selanjutnya akan terjadi pada diri mereka masing masing.
Lili berinisiatif untuk pergi dari tempat itu, namun langkahnya terhenti oleh Reza yang telah memeluknya dan membawa tubuh Lili ke dinding gubuk itu dan menghimpitnya.
"Kita mulai hukumanmu saat ini."
__ADS_1
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น