
"Vin, kau tak apa apa kan?"
Erlangi merasa tak enak dan khawatir pada keadaan Vino saat ini, meskipun ia sering bertengkar dengan Vino, namun ia tak dapat pungkiri kenyataan bahwa pria yang di bencinya justru yang menyelamatkan hidupnya tadi.
"Aku baik baik saja, jangan khawatir, balok itu takkan bisa membunuhku."
Jawab Vino sambil menatap keluar jendela mobil yang membawa mereka pergi dari tempat proyek.
Namun untuk kali ini Erlangi tak mau berdebat dengan Vino. Ia justru memilih diam, karena ia tak habis fikir, kenapa ada balok kayu sebesar itu yang jatuh dari atas padahal tadinya baik baik saja tak ada masalah saat ia turun langsung ke lapangan.
"Vin, menurutmu apa kecelakaan tadi itu sudah direncanakan?'
Tiba tiba saja pertanyaan Erlangi memecah keheningan di dalam mobil tersebut.
"Aku sudah tahu ini bakal terjadi, makanya aku dan Reza sudah mengantisipasinya dari semalam saat kau disuruh menyamar sebagai Lili."
"Jadi kalian sengaja ingin mencelakaiku, jahat banget sih kalian."
Erlangi menatap tajam ke arah Vino yang kini juga menatapnya tak kalah dengan dirinya.
"Bukannya sudah kami jelaskan ke kamu tadi malam, dan kamu bersedia meski membahayakan dirimu, kenapa sekarang kau protes bila tahu akhirnya."
Mendengar jawaban Vino, Erlangi hanya bisa terdiam, lalu memindahkan pandangannya keluar jendela mobil.
" Aku pikir tak sampai segitunya, ingin kematian Kak Lili."
Gumam Erlangi yang bisa di dengar oleh Vino.
"Kau belum kenal sapa itu Tuan Arsen, meski dia tahu Lili adalah hidup Reza, tapi demi dendam kesumatnya ia tega menyakiti orang yang disayanginya. Termasuk juga Mama Aisyah, wanita yang paling di cintainya melebihi hidupnya sendiri, makanya ia bertekad menghancurkan keluarga Sanjaya juga Ceofeng yang telah merebut wanitanya."
Erlangi yang mendengar penuturan Vino pun terkejut, karena ia baru tahu kenyataan yang sebenernya.
__ADS_1
"Sebegitu bencikah Papa Kak Reza pada keluarganya sendiri. Sangat di sayangkan, padahal mereka sangat menyayangi Om Arsen. Sedangkan Mama juga sudah memaafkan semua kesalahannya, andai saja Om Arsen bisa berdamai dengan hatinya sendiri, mungkin keluarga kami, pasti jadi keluarga yang terbahagia."
Vino yang mendengar penuturan Erlangi pun tersenyum penuh arti. Dibalik sikap kekanakan itu ternyata mempunyai hati yang lembut juga hangat.
Erlangi yang sadar akan tatapan Vino hanya meliriknya sekilas, lalu menatap kembali ke luar jendela mobil.
"Kau jangan memandangku seperti itu, nanti kau akan jatuh hati padaku."
Vino yang mendengar kata kata itu hanya tersenyum penuh arti dan membuang penglihatannya kearah spion mobil.
Ia pun tersenyum sinis saat menyadari ada mobil yang mengikuti mereka.
"Nona Erlangi, persiapkan dirimu."
Erlangi yang mendengar ucapan Vino pun ikut melihat kearah belakan mobil mereka. Dan dia pun tersenyum penuh arti.
"Kalian mau main main denganku, jangan harap aku akan membiarkan kalian hidup."
Saat mobil mereka melalui jalan yang sepi, dari arah belakang nampak dua buah mobil melaju dengan kecepatan tinggi dan berusaha untuk menabrak mobil mereka. Namun sopir mereka yang merupakan orang kepercayaan dari Tuan Dell Marvino, dengan sigap menghindari mobil tersebut. Kejar kejaran pun terjadi diantara ketiga mobil tersebut.
Dengan kelihaiannya yang juga telah menguasai daerah tersebut, dengan mudah sopir kepercayaan Papa Vino itu membawa Tuan Mudanya lolos dari incaran anak buah Arsen. Namun itu semua belum berakhir.
Karena tak dapat membuat mobil Vino mengalami kecelakaan, mereka pun berusaha menembaki mobil Vino, beruntung mobil itu anti peluru.
Erlangi dan Vino yang sudah hilang kesabaran mereka pun mulai turun tangan .
"Mereka harus diberi pelajaran yang setimpal, kalian ingin nyawaku bukan, sekarang sayangi nyawa kalian sendiri."
Gumam Erlangi yang bisa di dengar oleh Vino.
Segera ia mengambil pistol yang ada di dashboard mobil. Lalu membuka membuka mobil bagian atasnya.
__ADS_1
"Er,,, kau jangan gila, aku tak mau kau terluka."
Cegah Vino namun tak di anggap oleh Erlangi. Membuat Vino mau tak mau mengambil senjatanya juga.
"Kita liat, aku atau kalian yang binasa,,,,"
Erlangi pun mengarahkan senjatanya kearah pengemudi mobil yang sedang menembaki mereka, sedangkan Vino mengarahkan senjatanya pada pengemudi mobil yang satunya. Tepat jarak mereka kurang dari 10 meter, Erlangi segera menembakkan senjatanya pada pengemudi mobil itu dan jitu tepat mengenai kening sang pengemudi. Membuat mobil hilang haluan dan menabrak pembatas jalan dan masuk ke dalam jurang.
"Duuuuaaarrrrrr"
Suara mobil meledak dan terbakar di bawah sana.
Erlangi pun tersenyum penuh kemenangan.
Kini giliran Vino yang menembakkan senjatanya pada pengemudi mobil yang satunya. Dan tembakan ini diarahkan pada ban mobil mereka, dan tepat sasaran. Mobil hilang kendali dan menabrak bukit kecil yang ada di sepanjang jalan, membuat mobil terbalik dan akhirnya.
"Duuuaaarrr"
Bunyi ledakan dari mobil itu. Vino meraih kepala Erlangi agar merunduk ke dalam mobil, agar tak terkena ledakan mobil tersebut.
Untuk sesaat mereka saling beradu pandang. Hingga mereka pun tersadar lalu tertawa bersama dan melakukan tos berdua.
Mobil pun dikembalikan ke posisi semua yang penutup atasnya telah terpasang. Dan tetap melaju dengan kecepatan penuh menuju Arsen Global Company.
Sekilas Vino melirik kearah Erlangi yang bermain game dengan ponselnya.
"Keahlian apa lagi yang kamu sembunyikan gadis manja,,,?"
Bisiknya dalam hati sambil tersenyum penuh arti.
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1