GAME LOVE

GAME LOVE
bab 36 tragedi mansion3


__ADS_3

Lili terkulai lemah jatuh tak sadarkan diri.


Vino pun segera membopong tubuh Lili, memasukkannya ke dalam pesawat yang kini tengah menunggu mereka.


Suara baku hantam tembakan masih terus terdengar antara anak buah Arsen dan anak buah Papa Vino yang dibantu oleh anak buah Aby.


Sedangkan Lili, Vino, Aby dan Papa Vino telah meninggalkan tempat itu, kemudian disusul oleh anak buah mereka dengan pesawat yang lain.


Aby yang melihat keadaan Lili merasakan sakit yang amat dalam, ia mengutuki dirinya sendiri, kenapa dulu pernah melukai Lili dan membuat jurang perpisahan antara mereka, padahal sampai saat ini dia masih mencintai Lili.


Meskipun ia tau Lili sudah berbadan dua. Namun itu tak mengurangi rasa cintanya, yang kini tumbuh semakin dalam dihatinya, meskipun kini ia sudah memiliki Salsa, yang setia dan rela melakukan apa saja untuknya.


Namun di mata Aby, model cantik itu hanyalah pion baginya.


"Lili,,, sadarlah,,, kita sudah aman sekarang,,"


Vino berusaha menyadarkan Lili dari pingsannya, dengan memberinya parfum yang dibawa oleh Papanya.


Namun tetap saja Lili tak membuka matanya, justru air mata yang mengalir dari matanya yang terpejam.


Vino bisa merasakan kehancuran hati Lili saat ini, ia hanya terdiam dan memandang langit langit pesawat. Perlahan ia mengambil nafas dalam dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Aku turut berduka cita atas kematian Om Sanjaya dan Tante Zahira, semua ini sudah takdir, dan kau harus mengikhlaskannya, biarkan beliau beristirahat dengan tenang Lili, jangan membuat langkah mereka berat dengan air matamu."


Vino berusaha untuk menguatkan Lili saat ini, ia tahu betapa hancur hati wanita yang kini ada di depannya. Ia mengutuki dirinya sendiri, kenapa membiarkan Lili masuk ke dalam Mansion tadi saat terjadi baku tembak, andai ia tak membiarkan Lili masuk, mungkin kenyataan pahit itu tak akan dilihat oleh Lili.


Sejenak ia mengingat kejadian beberapa jam yang lalu.

__ADS_1


" Vin,,, kamu tunggu disini sebentar, aku mau membawa suamiku juga keluar dari sini."


Tanpa menunggu jawaban dari Vino, Lili bergegas melangkah ke arah kamar Reza, ia ingin memastikan keadaan suaminya yang terluka tembak karena menyelamatkan dirinya.


Setelah memastikan Vino berada di tempat yang aman, dengan berderai air mata ia membuka pintu kamar suaminya, namun saat pintu kamar itu terbuka, ia melihat hal yang tak pantas untuk dilihat, tubuhnya terasa lemah dan hampir jatuh melihat pemandangan di hadapannya saat ini, hatinya benar benar hancur, dengan gontai ia menutup kembali pintu kamar itu, air mata tak berhenti mengalir dari matanya, ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, namun hatinya terlanjur terluka karenanya,,


Iya,,, dia melihat Reza sedang tidur memeluk Alin dalam keadaan bertelanjang dada dan pakaian mereka berserakan di lantai.


Lili terus melangkah tanpa menghiraukan sekitarnya lagi, bayangan dimana Reza telah mengkhianatinya terus berputar diotaknya.


Tanpa ia sadari, sudah banyak mata yang melihat ke arah nya.


Dan salah satunya adalah Arsen dan Henry, mereka tertawa dengan kerasnya melihat keadaaan Lili saat ini.


" *Ha,, ha,, ha,,,"


Suara tawa Henry menggema diruangan itu.


Dengan angkuhnya dia mencoba menyentuh tubuh Lili.


Namun dengan sigap, Vino menepis tangan Henry. Lili yang seakan larut dalam dunianya sendiri tak menghiraukan sekitarnya hingga,,,


" Kau memang wanita pembawa sial, kenapa kau tak ke neraka saja, kedua orang tuamu meninggal karena ingin menyelamatkanmu, ha,,, ha,, ha,,,"


Arsen dengan angkuh dan sombongnya menatap ke arah Lili dengan penuh kebencian.


Lili yang mendengar ucapan Arsen pun tersadar dari lamunannya, ia menatap tajam ke arah Arsen.

__ADS_1


"Itu tidak mungkin, Papa dan Mama ku masih hidup, kau bohong padaku agar aku jadi terpuruk kan Tuan Arsen yang terhormat,, heh,,, tapi sayang,,, semua tak ada artinya untukku, karena kutau permainanmu, dan aku tak akan masuk kedalamnya."


Tatapan tajam membunuh pun terlempar dari keduanya.


Mereka saling beradu pandang, tak ada salah satu yang ingin mengalah.


" Kau salah Nona,,, Om Arsen tak ada andil dalam kecelakaan pesawat kedua orang tuamu, yang bertanggung jawab untuk semuanya adalah kamu sendiri, mereka menentang cuaca buruk hanya untuk membawamu kembali dari sini, ckckck sungguh ironis bukan?"


Lili pun melempar pandangannya ke arah Henry setelah mendengar perkataan Henry.


"Kau bohong,,, kau pembohong besar,, orang tuaku tidak mungkin meninggal,,, kalian semua pendusta,,, kalian semua brengsek,, aku pasti akan membalas kalian,,,"


Lili yang tersulut emosinya pun berkata dengan lantangnya, hingga semua orang terdiam, hanya bisa melihat kearah Lili yang terhuyung tubuhnya, dengan derai airmata yang jatuh ke lantai.


"Dasar wanita sialan,, sebelum kau membalas kami, maka aku akan mengirimmu pada kedua orang tuamu yang sudah membusuk di neraka."


Arsen mengeluarkan pistolnya dan siap menembak ke arah Lili.


Lili hanya tersenyum tipis," tembak aku sekarang,,, itu lebih baik untukku,, ayo,,, tembak,,,"


"Doorr,,, doorr"


Suara tembakan pun terdengar memenuhi ruangan, Lili terkulai lemah tak sadarkan diri dan di bopong Vino meninggalkan tempat itu.


Karena Papanya dan anak buahnya sudah datang menyelamatkan mereka, dengan bantuan dari Aby dan anak buahnya, baku tembak pun tak dapat dihindari lagi, tak sedikit dari kedua kubu yang terluka, hingga akhirnya mereka bisa keluar dari Mansion Arsen meski diiringi dengan hujan peluru.


"*Bertahanlah Nona,,,"

__ADS_1


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน*


__ADS_2