
Malam telah berlalu dari peraduannya, berganti dengan sinar Surya yang menghangatkan semesta alam. Suara burung yang saling bersahutan bagaikan alunan melodi yang terdengar merdu di telinga. Tetesan embun pagi terasa menyejukkan. Diiringi hembusan sang bayu yang menampar pelan wajahnya.
Disinilah sekarang ia berada, di sebuah bangku taman tempatnya menenangkan diri. Lili hanya mematung dalam diam, sambil menatap air danau yang tenang. Orang yang berlalu lalang dengan aktivitas mereka, tidak bisa menarik simpatinya. Ia terhanyut dalam lamunannya yang makin dalam. Hingga ia mendengar tangis anak kecil yang membuyarkan semua lamunannya.
Perlahan Lili mengedarkan pandangannya mencari sumber suara itu. Dan tatapannya jatuh pada seorang gadis kecil yang sedang menangis sambil berjongkok mengambil ice cream nya yang terjatuh.
Lili pun berdiri dari duduknya lalu menghampiri gadis kecil itu.
"Kamu kenapa sayang,,,mengapa menangis?"
Dengan berjongkok, Lili mengusap rambut gadis cilik itu.
"Ice cream saya jatuh Kak, aku tak punya uang lagi untuk membelinya,,,"
suaranya tersendat karena tangisnya.
"Sudah, jangan menangis lagi, kita beli yang baru yuk, biar Kakak yang bayar,,"
Anak itu melihat kearah Lili seakan tak percaya.
Lili hanya tersenyum melihatnya lalu mengelus rambut serta mengusap air mata anak itu.
Namun reaksi anak itu justru mundur menjauhi Lili.
" Kakak jangan dekat dekat sama aku, nanti Kakak akan sial, aku ini anak pembawa sial, bahkan orang tuaku saja tak mau merawatku Kak,,"
dengan derai airmata anak itupun menceritakan semua kisah hidupnya.
Lili yang mendengarkan pun tersentuh hatinya, ia memeluk anak itu sambil berlinang air mata, merasakan semua penderitaan yang dialami gadis kecil itu, dalam hatinya ia masih bersyukur ada yang masih menyayanginya, ia tak bisa bayangkan jika dirinya bernasib sama seperti anak itu, kini matanya telah terbuka begitupun dengan hatinya, dan berangsur angsur semangat hidupnya kembali lagi.
" Siapa namamu sayang?"
"*Cahya Kak,,"
" Mulai sekarang Cahya akan tinggal dengan Kakak, mau kan*?"
Gadis kecil itu hanya mengangguk mengiyakan ucapan Lili.
__ADS_1
" Apa Kakak tak takut aku membawa sial untuk hidup Kakak,,"
tanyanya polos sambil menatap Lili dengan penuh tanya.
"Cahya bukan anak pembawa sial, mereka saja yang tidak mau merawat Cahya, karena Cahya bukan anak kandung mereka, yang diinginkan orang itu hanya harta orang tua Cahya saja, makanya mereka membuang Cahya dari rumah, mulai saat ini Kakak yang akan melindungi Cahya dari mereka yang ingin mencelakakan Cahya,,,"
Lili pun membelai rambut Cahya, menarik tangannya lembut agar mau berdiri, lalu mengajaknya membeli ice cream yang tak jauh dari tempat itu.
"*Mau rasa apa, sayang,,"
" Coklat, vanilla sama stroberry Kak*,,,"
Ucapnya bersemangat dengan mata yang berbinar melihat ice cream di depannya.
Lili hanya tersenyum melihat tingkah laku bocah itu.
" Pak, tolong kasih kami 2 cup ice cream dengan rasa tadi ya,,,"
Lili memberikan selembar uang seratus ribuan kepada penjual ice cream.
Penjual ice cream pun memberikan 2 cup kepada Lili.
" Kembaliannya buat Bapak saja*,,"
Balas Lili seraya tersenyum meninggalkan penjual ice cream itu yang mengucap syukur dan mendoakan Lili.
Kini mereka berdua sedang asyik menikmati ice cream di bangku taman. Sesekali mereka tertawa karena melihat ada sisa ice cream di bibir mereka. Yang melihatnya tak akan percaya jika baru beberapa menit yang lalu mereka saling kenal, karena Lili terlihat begitu menyayangi gadis kecil itu.
Tanpa mereka sadari ada pria yang menghampiri mereka, tanpa permisi ia langsung menggenggam tangan Lili yang ingin makan ice cream, mengarahkan tangan Lili kearah mulutnya, lalu memakan ice cream itu.
Sekilas Lili nampak kesal, namun kemudian ia mengambil ice cream lagi dan menyuapkan pada Reza.
Dengan tersenyum Reza pun membuka mulutnya menerima suapan Lili. Kemudian ia mengambil sendok ice cream, mengambilnya dan berganti menyuapi Lili.
Cahya yang sedari tadi sadar akan kehadiran Reza pun segera berpaling melihat ke lain arah, membelakangi keduanya.
Lili dan Reza yang melihat tingkah Cahya hanya tersenyum. Mereka pun memberi isyarat dengan mata mereka, mendekati Cahya dan ingin mencium pipinya dari samping kanan dan kiri.
__ADS_1
Namun gadis kecil berusia 5 tahun itu seakan menyadarinya, karena ia bisa melihat Reza dan Lili lewat pantulan danau.
Saat Reza dan Lili ingin menciumnya, ia pun menghindar sambil menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Al hasil justru Lili dan Reza yang saling berciuman.
Lili pun segera memundurkan wajahnya, namun tercekat oleh tangan Reza yang menahannya, untuk sesaat Reza menikmati bibir yang sangat dirindukannya.
Hingga terdengar bunyi ponsel Lili yang memberitahukan ada notif yang masuk.
Reza pun melepas tangannya dan menyudahi ciumannya. Saat ia tersadar ada Cahya yang jongkok dengan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya, ia pun tersenyum tipis lalu mensejajarkan tubuh mereka, mengajak Cahya berdiri dan duduk di bangku lagi.
" Maafkan Om ya, sudah buat Cahya menunggu lama tadi,,,"
Bisiknya pada Cahya yang masih cemberut namun pura" tersenyum saat Lili melihat mereka.
"Om harus ngasih Cahya hadiah kalau tak ingin Kak Lili tau yang sebenarnya,,,"
Ucapnya sambil tersenyum licik dan menaik turunkan alisnya.
" Dasar iblis kecil, iya akan kuberikan semua yang kamu mau, tapi bantu Om buat Kak Lili tersenyum lagi, ok,,"
"Ok,, Om,, "
jawabnya sambil membuat huruf O dengan tangannya.
Reza pun mengoyak pelan rambut Cahya sambil tersenyum, membawanya dalam pangkuan Reza.
" Ternyata pandai sekali ya ponakan Om yang satu ini,,"
dengan gemasnya Reza mencubit pipi bakpao Cahya.
Lili yang melihat interaksi antara Reza dan Cahya hanya tersenyum tipis,," andai kau masih ada dalam perut Bunda sayang,,,"
Airmatanya hampir menetes namun segera dihapusnya, ia tak mau larut dalam kesedihannya. Perlahan dibukanya notif dalam ponselnya, matanya tak bisa lepas dari ponsel itu, hanya air mata yang mengalir membasahi pipinya.
Reza yang melihatnya segera mendekatinya,,," sayang kau kenapa?"
Namun tak ada jawaban dari Lili, Reza segera mengambil ponsel itu dan membaca isi pesan di dalamnya, tubuhnya terasa lemas tak bertenaga.
__ADS_1
" Tidak,,, ini tidak mungkin terjadi,, ini pasti salah,,aku tidak pernah melakukannya,,, ini tidak benar,,,"
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น