
Pagi yang cerah, secerah harapan Lili saat ini, dengan wajah yang selalu dihiasi oleh senyuman, ia melakukan semua pekerjaannya. Hatinya berbunga bunga, karena apa yang tak disangkanya memang menjadi kenyataan.
Kedua orang tuanya memang masih hidup, sesuai dengan firasatnya selama ini.
Kemarin akhirnya Reza mengakui kalau kecelakaan pesawat itu hanya rekayasanya, agar Arsen tak mengejar Papa Sanjaya dan Mama Zahira lagi, biar kehidupan mereka tenang tanpa adanya rasa was was, karena selalu di mata matai oleh Arsen, terutama Mama Zahira yang nyawanya setiap saat bisa terancam.
Lili pun teringat kemarin saat Reza sedang melancarkan hukumannya, saat hasratnya sedang berada di ubun ubun tiba tiba saja Lili menutup mulutnya dan mendorong tubuh Reza kuat, setelah tubuh itu tergeser, segera Lili bangun dan berlari ke kamar mandi dengan selimut yang membungkus tubuhnya. Tak lupa ia mengunci pintu kamar mandi.
Reza yang mengejar langkahnya hanya bisa menarik nafasnya dengan perasaan kesal juga khawatir. Ia berusaha membuka kunci kamar mandi namun tetap tak bisa. Sedangkan Lili yang berada di dalam kamar mandi tersenyum penuh kemenangan.
"Sayang,,, buka pintunya, aku mencemaskanmu, kau tidak apa apakan, sayang? Debay tidak menyusahkanmu, kan ?"
Reza terus mengetuk pintu kamar mandi, padahal ia tidak mendengar adanya aktifitas di dalam sana.
"Sayang,,, jawab,,, jangan diam saja, apa perlu aku dobrak pintu ini."
Kesabaran Reza sudah mulai menghilang, bagaimana tidak, saat ia berada di puncak hasratnya justru Lili menghentikan permainannya. Ia pun mengusap wajahnya kasar, dan mengoyak rambutnya menunjukkan betapa frustasinya dia saat ini.
Sedang Lili yang berada di kamar mandi, tersenyum penuh kemenangan, berhasil mengerjai Reza saat ini, ia tau pasti bagaimana rasanya tersiksa menahan hasratnya.
"Aku mau buka pintu, tapi Kakak bilang dulu semua fakta tentang Mama dan Papa, kalau tidak,,, jangan harap aku akan membuka pintu ini, dan jangan coba coba mendobraknya, kalau Kakak tak ingin terusir dari Mansion ini."
Lili senyum senyum sambil berendam dalam bathup, meskipun ia tadi sudah mandi, namun aksi Reza membuat tubuhnya terasa lengket lagi meski permainan belum sampai pada puncaknya.
"Sayang,,, buka,,, tega sekali kamu sama suami sendiri."
Suara Reza sudah terdengar berat, seaakan ia sedang menahan sakit yang teramat.
"Jelaskan padaku dulu, kenapa Kakak tega ngelakuin ini semua padaku, tak tahukah Kakak, betapa hancurnya aku saat itu, kenapa Kakak tega padaku dengan menyimpan semua dariku."
__ADS_1
Suara Lili meski terasa berat karena kini air matanya telah mengalir membasahi pipinya, masih dapat ditangkap jelas oleh Reza.
Sambil menyandarkan keningnya di pintu kamar mandi serta menggedorkan kepalan tangannya pelan, Reza pun menghela nafas berat, bagaimanapun ia meminta, Lili tidak akan pernah membuka pintu itu sebelum keinginannya tercapai, karena ia tau seberapa keras kepalanya Lili.
Dari pada tersiksa menahan hasratnya lebih lama lagi, ia pun mulai menceritakan semuanya pada Lili. Dari awal sampai akhir tak ada satu pun yang terlewati.
"Sekarang kau mengerti kan sayang, kenapa kami merahasiakan ini semua darimu, jika kamu tahu kalau kecelakaan itu hanya settingan serta rekayasa kami, pasti kau tak akan sesedih kemarin, dan itu pasti mengundang kecurigaan Papa Arsen. Dan semua yang kami rencanakan akan berantakan, sekarang kuminta buka pintunya,,,"
Kini Reza sudah tak dapat menahan dirinya lagi, hampir saja ia mendobrak pintu kamar mandi tersebut, namun belum sempat ia mendobraknya, Lili sudah membukanya sambil tersenyum manis ke arah Reza, lalu berhambur kepelukan suaminya itu, meski status mereka di atas kertas sudah di palsukan oleh Arsen.
Lili memeluk erat suaminya itu, wajahnya dibenamkan ke dalam dada bidang suaminya. Karena kini air mata kebahagiaan sudah tertumpah dari pelupuk matanya.
Reza dengan lembutnya membelai rambut istrinya yang kini berada dalam dekapannya.
Berusaha memberikan kenyamanan serta kedamaian untuk wanita yang dikasihinya saat ini.
"Maafkan aku Kak,,, sudah berburuk sangka padamu,,, terima kasih sudah menjaga kedua orang tuaku,,, hiikkss,, hiikksss,,,,"
"Sudahlah sayang,,, jangan menangis lagi,,, kalau kau ingin meminta maaf dengan benar, aku sudah tak tahan lagi,,,"
Bisik Reza lirih ditelinga istrinya, dengan deru nafas yang sudah tak beraturan lagi, membuat Lili tersipu malu mendengar ucapan suami mesumnya itu.
"Kakak,,, dasar mesum,,, ihh,,,"
Lili mencubit perut Reza yang roti sobek itu.
"Mesum,,, mesum,,, tapi kamu juga suka kan,,,?"
Wajah Lili kini merona kemerahan, ia sungguh malu dengan godaan suaminya itu. Reza tersenyum melihat wajah istrinya saat ini, segera ia mengangkatnya lalu merebahkan di atas tempat tidur,, dan permainan panas di pagi menjelang siang itu pun dimulai.
__ADS_1
Entah untuk berapa lama mereka menyatukan perbedaan, melebur jadi satu dalam gelora cinta yang membara, menyelami indahnya lautan madu dalam mencapai ridho Nya.
********
Lili senyum senyum mengingat ulah nakalnya yang membuat Reza kewalahan menghadapi bumil muda ini. Entah kenapa, kini ia sering menjahili suaminya itu. Mungkin karena kemauan dari debay atau memang Lili yang bertambah manja sekarang.
Kini mereka sedang di dalam pesawat menuju tempat yang sangat dirindukan oleh Lili. Dengan manjanya ia mengerjai suaminya yang sudah cemberut dengan ulah jahilnya.
Bagaimana tidak cemberut, jika saat ini Reza harus memakai make up yang diriaskan oleh Lili padanya. Mulanya ia menolak, namun Lili bisa menekannya dengan alasan klasik, ia tak mau anak nya nanti ileran. Karena ini kemauan debay. Reza hanya bisa mendesah berat dan merelakan wajah tampannya di poles ala MUA terkenal oleh Lili.
Dengan senyum yang menghiasi bibirnya, Lili dengan telaten menyelesaikan riasannya.
Saat ia melihat hasil riasannya,, ia pun tertawa,,,
"Haaa,,, haaa,,haaa,,, Kak,,, kau sungguh sangat mempesona, andai aku cowok, aku pasti tergila gila pada Mu,,, ha,,, ha,,,"
Tawa Lili sangat lepas, seakan beban berat yang ditanggungnya telah terlepas, membuat Reza begitu bahagia melihat senyum lepas istrinya yang sangat dirindukan nya, senyum yang selama ini telah menghilang dari hari hari Lili.
Ia pun tersenyum licik. Mendekati istrinya yang masih tertawa karena melihatnya dengan riasan wanita lengkap dengan gaunnya. Perlahan ia pun menggelitiki Lili sampai ia menggeliat liat seperti ulat yang kepanasan.
"Ini hukuman sudah berani mengerjai Papa, sayang,,,"
Ucap Reza menirukan gaya bicara anak kecil, yang membuat Lili semakin terbahak dengan tawanya.
"Kak,,, aku mohon,,, cukup,,, geli Kak,,, aku tak kuat lagi,,,ahhh,,, ha,,, ha,,,"
Reza tak menghiraukan ucapan Lili, ia terus saja menggelitiki istrinya sampai tubuh Lili terasa lemas karena tertawa tiada henti.
Nafasnya pun terengah engah,, baru Reza menghentikan gelitikannya. Ia menyatukan kening mereka, setelah itu ciuman lembut pun mendarat di bibir Lili.
__ADS_1
Silahkan berimajinasi sendiri ya,, author lagi baik hati wkwkwk
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น