
Di sebuah kamar yang cukup besar nampak seorang wanita paruh baya sedang jatuh dalam mimpi yang tak berujung. Meskipun wajahnya nampak pucat disertai air mata yang masih merembes dari sudut matanya, tidak mengurangi kadar kecantikan nya yang masih nampak meski usianya tidak muda lagi. Disampingnya kini duduk orang yang dulu sangat dicintainya meski hanya luka batin dan fisik yang ia terima, hingga ia tak tahan lagi dan pergi meninggalkannya. Karena lelaki itu selalu menyiksanya saat ia dalam pengaruh alkohol.
Arsen menatap sendu wanita yang sangat dicintainya. Entah kenapa, meskipun sudah berpisah puluhan tahun, cinta itu tidak pernah meninggalkan hatinya. Meski kini ia tahu wanita itu sudah menjadi milik orang lain. Namun ia tak sanggup untuk melupakan wanita satu satunya dalam hidup Arsen selama ini. Meski sebagai bos mafia juga pengusaha sukses banyak wanita yang rela menghangatkan ranjangnya dengan suka rela, namun bagi Arsen mereka hanya mainan yang sekali pakai langsung buang, tidak perlu menunggu sampai bosan.
Sudah banyak wanita yang telah disakitinya, namun mereka hanya bisa diam saat nominal uang yang mereka terima diluar perkiraan mereka.
Namun dari sekian banyak wanita yang bercinta dengan Arsen, tidak.ada yang mengandung benih Arsen, karena ia bermain aman dengan melakukan vasektomi. Baginya hanya ada satu wanita saja yang berhak mengandung benihnya, yaitu Aisyah Az Zahra , wanita yang telah direnggut keperawanannya dengan sedikit pemaksaan, namun akhirnya menjadi istrinya dan pergi meninggalkannya saat tahu tujuan Arsen yang sebenarnya.
Saat wanita itu pergi, penyesalan terdalam telah mengoyak hati Arsen, namun ia tetap pada tujuan utama, menghancurkan keluarga Sanjaya. Dengan lembut tangan Arsen menghapus air mata mantan istrinya. Tanpa ia sadari, titik bening itupun jatuh dari sudut matanya. Rasa yang menyesak di dadanya selama ini akhirnya tumpah bersama dengan kerinduan yang mendalam terhadap wanitanya.
"Kau tahu Ais,,, sejak kepergianmu, hari hariku terasa hampa, begitu sulit bagiku melewati semua. Kau pisahkan aku dengan buah hati kita, saat itu aku benar benar membencimu Ais,,, kau lebih memilih keluarga Sanjaya yang bukan saudara kandungmu sebenarnya dari pada aku, suamimu sendiri, saat itu aku benar benar ingin membunuh mereka semua dan menghancurkan Sanjaya ke akar akarnya. Namun saat melihat Reza yang begitu menyayangi keluarga itu, aku mengurungkan niatku, selama mereka menjaga dan mendidik Reza dengan baik, karena aku sadar, tidak akan bisa mendidik putra kita dengan benar nantinya. Aku tidak mau putraku juga tersiksa sepanjang hidupnya dengan dendam yang membara. Ais,,, puluhan tahun telah ku lalui tanpamu, dan itu adalah hukuman terberat untukku." Buliran itu terus saja mengalir dari pelupuk mata Arsen. Hingga tanpa sengaja membasahi punggung tangan Mama Aisyah saat Arsen mencoba menghapus air mata Mama yang terus merembes keluar.
Dari arah luar kamar terdengar kaki melangkah makin lama makin terasa mendekat, lalu terdengar bunyi pintu di ketuk.
__ADS_1
"Tokkk,,, tokk,, tokk,,,"
"Om,,,wanita itu sudah sadar." Terdengar suara Henry dari luar kamar Arsen. Mendengar perkataan Henry, Arsen segera bangkit sambil menghapus air matanya, tidak lupa ia mengecup kening Mama Aisyah.
"Beristirahatlah,,, aku akan mengurus wanita itu dulu." Arsen membenarkan selimut yang menutupi tubuh Mama Aisyah sebatas dadanya. Lalu melangkah menuju pintu keluar.
Setelah membuka pintu, nampak Henry sedang menunggunya di depan pintu.
"Kita kesana sekarang!" Ajak Arsen lalu melangkah menuju sebuah ruang yang tidak terlalu jauh dari kamarnya, karena berada di lantai yang sama.
"Bagaimana,,,, apa kau betah disini?"
Arsen menghampiri wanita itu lalu berdiri di sampingnya, ikut menikmati senja hari yang terlihat cukup indah di lihat dari balkon kamar tersebut.
__ADS_1
"Apa mau Papa sebenernya?"
Wanita itu memicingkan matanya, menyelidik pada pria paruh baya di sampingnya sekarang.
"Aku hanya ingin pertukaran yang adil,,, kamu tunggu saja kabar selanjutnya, biasakan dirimu di tempat ini, karena mulai sekarang, kau akan tinggal di sini."
"Lalu bagaimana dengan Bunda Aisyah, boleh aku melihatnya?"
Kini wanita itu memandang penuh harap kearah Arsen. Jika saja ia tidak dalam tahanan Arsen, ingin sekali ia memukul pria paruh baya tersebut karena sudah membuat Reza juga Erlangi tak sadarkan diri dengan obat bius yang di tembakkan pada keduanya kemarin.
"Kamu tidak usah banyak permintaan, masih untung aku tidak menaruhmu di penjara bawah tanahku. Pasti disana kamu akan bersenang senang dengan tikus, kecoa, nyamuk, juga binatang menjijikkan yang lain, apa lagi dengan hawa yang sangat dingin dan gelap." Setelah menjawab pertanyaan Lili, Arsen pun melangkahkan kakinya keluar dari kamar itu yang diikuti oleh Henry.
"Bersabarlah Lili,,, tunggu waktu yang tepat,," bisik Lili lirih menguatkan hatinya saat ini.
__ADS_1
bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹