
Malam telah berlalu dari peraduannya, berganti dengan sinar surya yang menghangatkan seluruh alam, tetesan embun di dedaunan pun kini semakin menghilang, meguap bersama kenangan semalam. Hembusan angin yang sepoi sepoi menampar lembut wajahnya yang kini masih terlelap dalam tidurnya. Hingga adanya sentuhan tangan yang membelai lembut rambut, lalu menyusuri tiap lekuk wajahnya.
Ia pun menggeliat dengan manjanya, seakan ia sedang tertidur disamping Mamanya.
"Ma,,, aku masih ngantuk, bentar lagi ya Ma,,, lima menit lagi, aku pasti bangun,,,""
Dengan nada khas orang yang masih dalam alam bawah sadarnya. Ia pun menarik lembut tangan yang menyentuhnya, mendekap tangan itu dan menaruhnya di dadanya.
Pria itu hanya tersenyum melihat kelakuan manja wanitanya. Ia terus memandangi wajah yang membuatnya seperti kehilangan arah saat jauh darinya. Entah sudah berapa lamanya ia tetap dalam posisi itu, hingga tangannya pun menyentuh hangatnya kedua gundukan besar yang membuat pikiran liar nya mulai terbangun.
Ia mencoba melawan semua hasrat yang sudah muncul semenjak memasuki kamar itu dan melihat wanitanya sedang tertidur pulas seperti bayi yang tak punya dosa.
Perlahan ia pun mencium kening wanitanya, membuat sang empunya terbangun dari tidurnya. Lili mengerjapkan matanya, ia pun terkejut saat mendapati Reza sudah berada di kamarnya.
"Sejak kapan kamu ada disini, ngapain kamu kemari, pergi sana! Urus kekasih hatimu, kasihan dia pasti butuh belaianmu."
Lili segera menggeser tubuhnya, membelakangi pria yang statusnya kini terombang ambing karena Arsen sudah mengatakan ke khalayak umum kalau Reza dan Alin akan segera menikah, karena di rahim Alin sudah ada penerus keluarga Arsen.
Sedangkan Lili, hanyalah ****** yang berusaha merebut Reza dari tangan Alin, dan anak yang di kandung Lili bukanlah penerus dari Reza.
Semua konferensi pers kemarin serba mendadak. Arsen memalsukan semua bukti tes DNA juga surat cerai yang sudah ditanda tangani Reza juga Lili. Ia mengatakan kalau Lili ingin merebut kembali perusahaan yang kini telah menjadi milik Reza, dengan menyerahkan tubuhnya di ranjang panas Reza.
Selama konferensi pers Reza dan Lili tidak keluar, karena mereka telah terhalang oleh Henry, Alin juga Jay. Jadi mereka tidak bisa memberikan konfirmasi kejadian yang sebenarnya. Selain itu Lili juga bersikeras untuk menjauhinya.
"Maafkan aku tidak bisa tegas dengan masalah ini, aku harus mengikuti permainan Papa, karena itu jalan satu satunya agar Alin bisa berkumpul dengan kedua orang tuanya, yang kini ada dalam pengawasan Papa."
Reza pun menceritakan semua yang ia ketahui pada Lili. Membuat Lili dengan segera bangkit dari tidurnya lalu bersandar di kepala ranjang. Menatap intens ke arah pria yang dibencinya juga dicintainya saat ini. (sensasi rasa nano nano kata Lili wkwkwk membenci dan mencintai secara bersamaan).
"Jawab aku jujur Kak, apa kecelakaan pesawat Mama dan Papa ada kaitannya dengan Om Arsen juga?"
"Maafkan aku sayang, aku,,,,",ucapan Reza terhenti saat melihat Lili segera bangun dari tidurnya, berlari cepat ke arah kamar mandi dan ,,,
'Hoeeeekk,,, hooeekk,,,"
__ADS_1
Lili memuntahkan semua isi perutnya. Reza pun tak tinggal diam, dia ikut masuk ke kamar mandi lalu memijat tengkuk Lili.
Setelah memuntahkan isi perutnya, ia pun membersihkan dirinya, namun kini Reza telah terusir dari kamar mandi, Lili tau seberapa mesum pria yang telah memberinya kehidupan di rahimnya.
Setengah jam kemudian ia sudah keluar dengan jubah handuknya, juga handuk yang melilit diatas kepalanya, namun ia tak mendapati Reza di dalam kamar, matanya pun nanar menelisik ke setiap sudut kamar itu, mencari sosok Reza. Hingga pandangannya jatuh ke arah balkon kamarnya, terlihat di sana Reza sedang menikmati indahnya hari ini.
Lili pun membuka handuk yang ada dirambutnya yang basah, lalu mengeringkan dengan menggunakan handuk itu sambil berjalan kearah Reza.
Ia pun berdiri tepat disamping Reza. Matanya kini pun memandang lurus ke depan, di mana ia melihat Cahya sedang memetik bunga bersama dengan Mama Aisyah. Lili pun tersenyum dan melambaikan tangannya saat Cahya menatap ke arah mereka sambil memanggilnya, menunjukkan bunga hasil petikannya yang ada di genggamannya.
Sedangkan Mama Aisyah tersenyum ke arah keduanya. Lalu melambaikan tangan pada mereka berdua. Yang di balas oleh Reza juga Lili.
Seakan tersadar akan sesuatu, Lili pun menatap ke arah Reza penuh selidik. Sedang Reza memasang wajah yang tampak bodoh dengan tatapan Lili padanya.
"Kenapa, ada yang salah dengan wajahku hingga kau menatapku seperti aku ini hantu saja."
Ucapnya enteng sambil tersenyum tipis ke arah Lili yang masih terbengong menatap ke arahnya.
"Kak, kita dimana sekarang,,,"
"Kita berada di Mansion keluarga Ceofeng."
Lili pun baru ingat, kemarin ia sempat dibuat pingsan oleh Jay saat ia bersikeras menemui para wartawan itu, karena Jay tak mau terjadi apa apa dengannya, ia pun membuat Lili pingsan dan mengamankannya dengan bantuan Erlangi juga yang lain. Mereka memakai pintu rahasia yang ada di ruang kamar Reza.
Dan alhasil mereka kini ada di Mansion Ceofeng. Dan semalam Mama Aisyah bercerita pun Lili belum menyadari kalau dirinya telah berada di Mansion Ceofeng.
Lamunannya pun buyar, ambyar saat Reza sudah mencium tengkuknya. Rasa geli menyebar keseluruh tubuhnya, membuat bulu bulu halusnya pun ikut berdiri.
"Kak,,, hentikan,,,"
Lili menggeliatkan lehernya menjauhi kecupan Reza. Membuat Reza tersenyum penuh kemenangan, karena ia tau letak letak sensitif dari tubuh Lili yang peka terhadap rangsangan.
Lili pun berusaha melepas pelukan Reza, serta berniat menjauh, namun tangan kekar itu semakin erat memeluknya.
__ADS_1
"Biarkan begini sebentar lagi, aku sangat merindukanmu,,,"
Bisiknya di telinga Lili yang membuat tubuhnya terasa kaku dengan hawa panas yang keluar dari nafas Reza yang menerpa lehernya. Ia pun terdiam membisu dengan sejuta pikiran liar di benaknya.
"Kau sangat manis kalau menurut seperti ini,,,"
Reza semakin menggoda Lili, ia ingin agar Lili yang berinisiatif sendiri untuk mengajaknya bercinta, makanya ia merangsang daerah daerah sensitif Lili.
"Dasar mesum, kau pikir aku akan tergoda dengan rayuanmu, kau salah besar Tuan Reza, aku masih marah padamu, dan artinya tak ada ranjang panas kita, sampai semua berakhir."
Lili pun segera menginjak kaki Reza dengan keras, membuat sang empunya kaki meringis kesakitan. Ia pun melepas pelukannya dan memegangi kakinya,
"Sakit kan Kak,, tapi tak sesakit hatiku saat ini, semua karena Kakak,,, kenapa harus bohongiku berulang kali, apa aku begitu bodohnya hingga aku tak menyadari semuanya."
Lili mendekati Reza yang sudah memandangnya dengan penuh tanya. Dengan kedua tangannya ia mencengkram krah kemeja Reza dengan tatapan membunuhnya. Wajah mereka pun begitu dekat hingga hembusan nafas keduanya saling beradu.
"Dimana Papa dan Mama,,, jawab,,, aku tau kau sembunyikan mereka bukan? Jawab Tuan Reza yang terhormat, kalau tidak selamanya aku tak akan memaafkan dan melihatmu lagi."
Dengan geramnya Lili menatap tajam kedua manik mata Reza, mencari kebenaran yang selama ini di nantikannya.
Reza hanya tersenyum tipis, ia pun melepas tangan Lili yang mencengkram krah kemejanya. Lalu mengangkat tubuh Lili masuk ke dalam kamar, meski Lili berontak, namun tenaganya kalah jauh dari Reza.
"Semua tak ada yang gratis sayang,,,"
Senyum devil itu pun muncul memberi sinyal pada Lili harus kabur dari tempat itu namun terlambat, Reza sudah membuka paksa jubah handuknya dan melempar ke sembarang arah.
"Kak,,, jangan,,, please,,, "
Rengekan Lili tak dihiraukan Reza, ia terus melancarkan aksinya, membuat Lili kewalahan harus mengimbangi permainan singa yang telah terbangun dari awal.
"Ini hukuman untuk istri yang telah berani berkata kasar, menginjak kaki, dan mengancam suaminya, jadi bersiaplah sayang,,, hukumanmu tak hanya sekali,,, "
Reza tersenyum penuh kemenangan, sedang Lili hanya terdiam dengan wajah yang cemberut karena tau arti ucapan dari Reza.
__ADS_1
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น