
"Lili,,,,!"
Teriak Reza sambil berlari ke arah Lili. Ditangan gadis ini sudah ada serpihan kaca yang dibuatnya untuk melukai pergelangan tangannya. Dengan cepat Reza mengambil pecahan kaca itu dan melemparnya jauh.
" Apa kau sudah gila, hah?"
Bentak Reza sambil mengambil tissue dan membersihkan darah Lili yang mengalir karena luka sayatannya.
" *Pergi kamu, biarkan aku sendiri, apa perdulimu? Aku tak tahan dengan ini Reza, aku lebih baik terluka dari pada tersiksa dengan ini semua."
"Kita ke Rumah Sakit sekarang, aku percaya pasti ada jalan lain dan obat untuk deritamu."
" Jangan menyentuhku, aku tak bisa mengendalikan diriku kalau kau menyentuhku*."
Karena luka sayatannya, kini Lili sudah mulai kembali kesadarannya meski hanya sedikit. Namun efek obat itu cukup keras hingga ia tak dapat menahan gelora nafsunya.
Ia hanya bisa melukai dirinya agar kesadarannya kembali pulih meski itu sangat menyakitkan baginya.
Reza yang melihat Lili menggigit bibirnya sampai berdarah dan membenturkan kepalanya di bathtup pun tak tega melihatnya.
Akhirnya ia menyerah dengan pertahanannya, dia pun ikut masuk ke dalam bathtup, merengkuh leher Lili lalu membawanya dalam pelukannya.
" Kita jalani hukuman nanti bersama, aku akan selalu menemanimu di sisa umur kita baik suka dan duka, maafkan aku jika harus melanggarmu hari ini."
Bisik Reza tepat di telinga Lili yang kini tengah berada dalam kendali nafsunya.
Reza mulai mencium bibir Lili dengan lembut, namun lama kelamaan ciuman itu menjadi ciuman yang panas dan saling menuntut, membuat mereka ingin lebih dan lebih, Reza pun membuka selimut yang menutupi tubuh Lili dan membuangnya tak tentu arah.
Ia bisa melihat keindahan tubuh Lili bagian atas, sebagai pria normal ia pun tak sanggup menahan gelora nafsunya, mereka pun memulai permainan yang membuat tubuh mereka terbakar akan gelora asmara.
Dengan lembut Reza memulai semua aksinya , dari mencium bibir Lili terus turun ke leher dan dada gadis itu, bermain disana membuat rangsangan agar Lili tak merasa sakit saat penyatuan mereka, gadis itu hanya bisa pasrah dengan semua aksi Reza dan ia sangat menikmatinya karena pengaruh obat itu, justru ia ingin yang lebih dan lebih,
__ADS_1
Suara desahan yang keluar dari bibir Lili saat Reza bermain di dadanya membuat Reza semakin terbakar nafsunya.
Ia pun mulai membuka bajunya dan mereka kini saling polos tak ada penghalang sama sekali.
Perlahan namun pasti setelah memberikan rangsangan pada Lili penyatuan mereka pun terjadi, Lili hanya bisa mencengkram pundak Reza dan menangis saat selaput daranya terkoyak oleh Reza, dengan perlahan Reza melakukan aksinya meski ia tak tega melihat Lili yang menahan sakit karena ulahnya.
Namun untuk memulai yang lebih, ia sempat berdoa dalam hati," Bismillah, Allahumma jannibnaasysyaithaana wa jannibi syaitoona maarazaqtana,,( Dengan menyebut nama Allah, Ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan, dan jauhkanlah setan dari rezeki yang Engkau anugerahkan kepada kami."
Setelah itu Reza pun mulai aksinya yang membuat mereka lupa akan segalanya. Saling memberikan kenikmatan yang tiada tara.
Menyelami lautan madu dalam gelora asmara yang menggelora, melupakan semua batasan yang seharusnya mereka tak melanggarnya, yang ada hanya kenikmatan yang membuat mereka lupa akan segalanya. Entah untuk berapa lama, akhirnya mereka mencapai klimaksnya bersama, dan Reza menanamkan benihnya di rahim Lili.
Namun pengaruh obat itu belum hilang sepenuhnya, membuat Lili ingin lagi. Reza hanya bisa mengikuti kemauan wanita yang kini telah menjadi miliknya seutuhnya, ia tak perduli jika kesadaran Lili pulih nanti, ia harus menanggung konsekwensinya dari wanita yang kini dalam pelukannya itu.
..." Kau ingin yang lebih kan sayang? Kita bermain di kamar saja ya?"...
Bisik Reza sambil mengambil handuk dan menutupi tubuh polos mereka. Lalu mengangkat tubuh Lili membawanya ke dalam kamar, merebahkannya dengan perlahan. Namun Lili kini yang menjadi lebih agresif, ia yang memulai permainan. Reza hanya tersenyum melihat betapa liarnya Lili saat ini. Namun ia sangat menikmati permainan Lili yang tak malu malu untuk menunjukkan perasaannya yang sebenarnya.
Erangan dan desahan pun terdengar menghiasi kamar yang menjadi saksi bisu penyatuan dua insan yang selama ini saling bertengkar seperti Tom n Jerry.
Mereka menghabiskan sepanjang malam untuk saling memuaskan satu sama lain dalam kenikmatan yang mereka ciptakan, dan Reza selalu menanamkan benihnya di rahim Lili setiap mereka mencapai puncak kenikmatan bersama, tanpa menghiraukan alam sekitarnya, mereka larut dalam buai asmara yang membawa keduanya mereguk indahnya syurga dunia.
*******
Sementara seorang gadis kini sedang memandang indahnya langit malam di tepi pantai, begitu indah kerlap kerlip bintang nan jauh diatas sana, nampak makanan dan minuman sudah tertata rapi di meja makan, dihiasi dengan lilin lilin kecil, api unggun menjadi penerang dalam gelapnya malam, juga obor obor dan yang berjajar rapi mengelilingi tempat itu. Nampak kecemasan di raut wajahnya. Berkali kali ia mencoba menghubungi ponsel Reza dan Lili, namun tak ada jawaban dari keduanya.
Ia pun mulai resah dan gelisah. Ia berjalan mondar mandir sambil memegangi ponselnya, puluhan kali ia menghubungi keduanya, namun nihil tak ada jawaban dari mereka, justru ponsel mereka mati di detik terakhir ia menghubungi Reza dan Lili.
Vino yang melihat kecemasan Alin berusaha untuk membuatnya tenang dengan memberikan secangkir coklat panas. Dan dengan senang hati Alin menerimanya.
"Non Alin tak perlu cemas, mungkin Bos dan Nona ada urusan mendadak yang harus mereka selesaikan, lebih baik kita makan dulu, katanya Non Alin lapar?"
__ADS_1
" *Tidak Vino, aku ingin menunggu mereka saja, biar aku minum coklat ini dan makan cake dulu sambil menunggu mereka."
" Percuma kau menunggu, mereka tak akan datang*."
Tiba tiba saja Kean dan Jay sudah berdiri di samping kursi Alin, membuat gadis itu terkejut, namun senyuman pun menghiasi bibirnya, rona kebahagiaan terpancar di wajahnya.
"Keaaaaannnn,,,,"
Tanpa canggung dan malu iapun memeluk sahabat SMA nya itu, Kean pun membalas pelukan Alin.
" Tak usah menunggu mereka, karena ada urusan yang membuat mereka tak bisa datang, kita makan saja dulu."
Kean mengajak Alin duduk dan menyiapkan makanan kesukaan Alin.
" Sebenarnya mereka ada urusan apa Kean?"
Sambil mengambil makanan yang akan disuapkan ke dalam mulutnya, Alin bertanya dan menatap ke arah Kean yang berada di sampingnya saat ini.
Sambil tersenyum Kean pun menjawab," mereka sibuk membuat Reza dan Lili junior,,, ha,,, ha,,ha,,,"
" Uhuukk,, uhuuuk,,"
Alin pun tersedak makanannya, buru buru mengambil air minum di gelas yang tak jauh darinya sekarang.
" Kau bohong kan Kean, tak mungkin mereka melakukan itu, kau pasti bohong,,,"
Tanpa sadar airmatanya jatuh membasahi pipi cubby nya, hatinya terasa hancur berkeping keping. Digenggamnya erat sendok yang ada di tangannya.
" Kenapa kalian mengkhianatiku,,,"
Bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น
__ADS_1