
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih empat puluh lima menit, akhirnya Vino sampai di rumah Lili.
Ia pun memasukkan mobil setelah pintu pagar otomatis terbuka sendiri. Setelah memakirkan mobil ke dalam bagasi, ia pun turun dengan membawa Cahya dalam gendongannya yang telah tertidur di mobil karena kelelahan bermain tadi.
Vino berjalan memasuki rumah diikuti oleh Alin dibelakangnya sambil membawa kopernya.
Sebelum mereka mengetuk pintu, Bibi May sudah membukakan pintu utama untuk mereka.
" Sore Bi May,,,"
Sapa Vino yang langsung membawa tubuh Cahya ke kamar tamu, lalu merebahkan gadis kecil itu di tempat tidur.
" Vino,,, sapa gadis kecil ini?"
Tanyanya sambil memandang Cahya yang tertidur pulas.
Sejenak Vino memandang ke arah Cahya, lalu menatap ke arah Bibi May.
" Dia Cahya Bi,,, diadopsi oleh Reza dari panti asuhan, untuk menemani Lili, agar ia bisa melupakan kesedihannya,,,"
Ucap Vino sambil menyelimuti tubuh Cahya.
" Apa princess manjaku sudah tau Vin, jika Cahya yang bawa Reza?"
Bibi May membelai rambut Cahya lalu mencium keningnya.
"Moga kamu bisa jadi penerang dalam hidup princess manjaku sayang,,, seperti namamu,,,"
Air mata Bibi May pun menetes, segera ia menghapusnya.
" Lili sudah bersama dia seharian ini, tapi dia ada urusan sama Reza yang harus diselesaikan, kalau tidak semua akan berakhir,,,"
Vino menarik nafasnya berat lalu membuangnya kasar.
Ia yang biasanya cuek dan tak banyak bicara kini seakan mengeluarkan semua beban di hatinya, bicara pada Bibi May tentang semua yang terjadi.
" Semua ada hubungannya dengan Alin?"
Bibi May menatap penuh tanya pada Vino.
Dan ia hanya mengangguk pelan, mengiyakan ucapan Bibi May lalu melangkah keluar kamar diikuti oleh Bibi May.
Mereka pun menuju ruang makan dimana Zahra dan Bunda Ay yang sibuk menyiapkan makan malam dibantu ART yang lain.
__ADS_1
Melihat Vino datang, Zahra tersenyum begitu juga dengan Bunda Ay.
" Mas Vino,,,Lili dimana kenapa belum pulang dari tadi pagi?"
Zahra memandang penuh tanya ke arah Vino.
Vino pun duduk dikursi, mengambil segelas air putih lalu meminumnya.
" Lili sama Reza, mereka masih ada urusan, tak perlu menunggu mereka."
Ucapnya datar seraya mengambil cappuccino yang baru saja dibuatkan oleh Bunda Ay.
"Bunda emang the best, tau yang kumau,,,"
Vino tersenyum pada Bunda Ay lalu meminum cappuccinonya.
" Tentu saja Bunda tau apa kesukaan anak anak Bunda, ,,,"
Tuturnya lembut sambil meletakkan makanan di meja makan.
" Oh ya Vino, siapa wanita tadi?"
Tuturnya lembut sambil menoleh ke kamar Alin.
Vino pun terdiam setelah menjawab pertanyaan Bunda Ay, nampak raut kekhawatiran serta kecewa terlihat di wajahnya.
Bunda Ay pun mengerti tentang itu, beliau pun terdiam tanpa berani bertanya lagi.
Memberi isyarat Zahra untuk membantunya di dapur.
Hingga makan malam pun tiba, suasana makan malam itu nampak mencekam, karena semua terdiam dalam keheningan, tak ada percakapan yang terjadi, mereka larut dalam pemikiran masing masing.
Yang terdengar hanya bunyi sendok garpu yang bergesekan dengan piring mereka.
Hingga makan malam pun usai, mereka kembali ke kamar masing masing meninggalkan para ART yang membersihkan meja makan dan peralatan yang kotor untuk dicuci.
********
Sementara itu di apartemen Reza, perlahan Lili mulai tersadar dari pingsannya. Ia pun membuka matanya, mengedarkan pandangannya menelisik ke seluruh ruangan.
Dan dia terkejut karena berada di dalam kamar apartemen Reza.
Ia mencoba bangkit dari tidurnya, namun ada tangan yang melingkar di perutnya. Lili pun menoleh ke samping, nampak Reza sudah tertidur dengan tangan memeluk perutnya.
__ADS_1
Perlahan Lili melepaskan tangan Reza, meletakkan perlahan di tempat tidur, dengan hati hati sekali ia mencoba bangun dari tidurnya, ingin melangkah keluar dari kamar itu.
Namun belum sempat ia melangkah, matanya sudah terbelalak melihat tubuhnya yang sudah banyak tanda kissmark, dan tanpa sehelai benang pun menutupinya.
Ingin sekali ia berteriak meluapkan marahnya, tangannya sudah mengepal, dan memandang penuh amarah pada pria yang tidur di ranjang sekarang ini, namun diurungkannya.
Ia berpikir harus secepatnya pergi dari tempat itu, perlahan ia melangkah mencari di mana pakaiannya, namun tak ditemukannya.
"Sial,,, dimana ia sembunyikan bajuku,,"
gerutunya pelan sambil membuka lemari pakaian Reza, ia mencoba mengambil kaos dan celana pendek Reza, namun belum sempat ia mengeluarkan dari lemari, ada tangan yang sudah memeluknya dari belakang.
"Tak perlu memakai apa pun, percuma,,,"
Bisiknya di telinga Lili hingga hembusan nafasnya yang hangatpun terasa di leher Lili.
Ia hanya bisa menggigit bibir bawahnya dan memejamkan matanya. Karena ia tau apa yang akan terjadi padanya.
Sejenak ia memutar otaknya agar terbebas dari semua yang akan terjadi, ia tak mau langkahnya terhalangi oleh peristiwa yang akan terjadi, ia ingin melepas Reza untuk Alin, karena itu ia tak ingin disentuh oleh Reza.
" Sayang,, bolehkan aku mandi sebentar, tubuhku rasanya lengket, apa kamu nggak mencium baunya?"
Dengan lembut Lili berusaha melepas pelukan Reza.
" Kau kira aku tak tau akal bulusmu sayang,, ok,, kita main main sebentar di kamar mandi."
Bisik Reza yang membuat Lili semakin menciut nyalinya, ia takut akan akibatnya, ia tak mau hamil saat pergi dari Reza, karena itu sungguh menyiksanya.
" Apa yang harus kulakukan,,Oh Tuhan aku juga tak mau berdosa menolak suamiku sendiri.
Dan akhirnya semua terjadi juga, meski dengan sedikit terpaksa, Lili pun melayani suaminya menyatukan perbedaan mereka, melebur jadi satu dalam gelora asmara yang mereka ciptakan, hingga mencapai indahnya syurga dunia dalam lautan madu yang memabukkan hingga tak tau berulang kali Reza menanamkan benihnya di rahim Lili.
" *Moga kau cepat hadir di rahim Bunda sayang,,"
Bisik dalam hati Reza saat mereka mencapai klimaksnya bersama.
" Moga kau tak hadir dalam rahim Mama sayang,,, karena kau akan jauh dari Papamu nantinya*."
Air mata Lili menetes dari sudut matanya.
" *Maafkan aku Kak,,, aku akan tetap pergi darimu, dia lebih membutuhkanmu saat ini."
bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹*
__ADS_1