GAME LOVE

GAME LOVE
bab 39 kehilangan debay 2


__ADS_3

" Lili,,,"


Teriak semua orang, lalu berlari kearah Lili.


" Kenapa bisa jadi begini Reza, kau tak bisa menjaga istrimu,,,"


Tuan Dell Marvino nampak marah dengan membantu Reza yang sudah khawatir dan membopong tubuh Lili ke dalam mobil mereka.


Reza duduk di kursi belakang dengan memangku tubuh Lili. Sedang Vino yang mengambil kursi kemudi.


Raut wajah Reza yang khawatir, takut kehilangan salah satu dari mereka atau bahkan keduanya nampak terlihat jelas.


Vino bisa melihatnya dengan jelas, ia sangat kasihan melihat sahabatnya dalam kondisi sekarang, selama ia bersama dengan Reza, tak ada yang dapat menakutinya, tapi sekarang ketakutan itu nampak jelas di raut wajahnya.


Menunjukkan sisi lemahnya yang sebenarnya.


"Percayalah, Lili dan debay pasti baik baik saja."


Reza hanya terdiam mendengar ucapan Vino, tetes airmata jatuh dari pelupuk matanya, namun segera dihapus olehnya.


" Jika sesuatu terjadi dengan mereka, aku tak akan memaafkan diriku sendiri, Vin."


Tuturnya pelan sambil menyelipkan rambut Lili yang terurai menutupi sebagian wajahnya.


"Kenapa aku yang jadi penyebab semua penderitaannya, aku ingin membahagiakan dia bukan membuatnya menderita seperti ini, semua ini salahku."


Dengan tatapan penuh keputusasaan Reza memandang ke arah Lili, membelai rambut dan pipi Lili.


Vino hanya terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Reza. Dia fokus menyetir dan menambah kecepatannya agar segera sampai di Rumah Sakit yang dituju.


Setelah menempuh perjalanan sekitar setengah jam, akhirnya mereka sampai di Rumah Sakit, disana sudah menunggu dokter serta perawat yang menyambut kedatangan mereka karena Tuan Dell Marvino telah menghubungi mereka.


Vino menghentikan mobilnya tepat di depan ruang UGD, Reza segera keluar dengan membopong tubuh Lili dan menidurkannya di kereta dorong yang sudah disiapkan oleh perawat. Sepanjang jalan menuju ruang ICU, Reza tak pernah melepas genggaman tangannya dari Lili.


" Tuan, maaf, anda tidak diijinkan memasuki ruangan,,,"


Cegah Dokter sambil menghadang langkah Reza, membuatnya terhenti dan hanya bisa memandang Lili dengan perasaan yang berkecamuk tak karuan hingga tubuh Lili tak terlihat lagi setelah pintu ICU tertutup.


Dia pun terkulai lemah duduk di kursi ruang tunggu tepat di depan ruang ICU, airmatanya pun menetes dalam posisi ia tertunduk dengan kedua tangannya bertaut mengepal, menyangga keningnya dan paha sebagai penopangnya.


Tak berapa lama Vino dan Tuan Dell pun datang lalu menghampirinya.

__ADS_1


Mereka hanya menepuk pelan pundak Reza, memberi semangat untuknya.


"Bersabarlah, yakinkan dirimu mereka baik baik saja, kamu harus kuat di depan Lili,,,"


Tutur Tuan Dell sambil duduk di samping Reza.


Dalam hati mereka semua mendoakan tuk kebaikan Lili dan debay.


Setelah kurang lebih satu jam mereka menunggu, akhirnya pintu ICU pun terbuka, keluarlah Dokter yang menangani Lili.


Mereka bertiga pun segera berdiri melangkah mendekat ke arah Dokter tadi.


"Sorry sir, i couldn't save the baby, we are so sorry."


Reza yang mendengar ucapan Dokter itu hanya bisa terkulai lemah, terduduk di kursi sambil menatap hamba ke depan, pikiran dan hatinya tak karuan, ia merasa telah gagal menjadi suami dan Papa untuk calon anaknya.


"Maafkan Papa sayang, tak bisa menjagamu dengan baik, maafkan aku sayang."


Bisik hati Reza seraya airmata menetes tanpa disadarinya.


"Thank you Doc, can we visit the patient."


Tuan Dell Marvino mewakili mereka semua berbincang dengan Dokter itu.


Lanjut Dokter itu sambil menunjuk sebuah ruang VIP yang telah disediakan untuk merawat Lili.


"Thanks very much, for everything."


Tuan Dell pun menjabat tangan Dokter itu yang tersenyum dan mengangguk hormat padanya sebelum meninggalkan tempat itu.


Reza yang merasa tubuhnya terasa tak bernyawa hanya mengikuti langkah Dell Marvino serta Vino yang melangkah ke arah ruangan Lili dirawat.


"Kami turut berduka Reza, yang kuat hadapi semua cobaan ini, yakinlah pasti ada hikmah dibalik kejadian ini, kamu harus ikhlas dan tetap kuat serta tegar di hadapan Lili, kamu harus bisa menguatkan dia dengan cobaan yang telah dia terima selama ini."


Sepanjang jalan Tuan Dell mengingatkan Reza agar tetap tegar menghadapi semua ini.


Reza hanya terdiam, pikirannya sedang kacau, ia tak tau bagaimana nantinya menghadapi kemarahan Lili padanya.


Sampai pintu ruang rawat itu terbuka, nampak sesosok tubuh yang terbaring dalam balutan selimut Rumah Sakit.


Mereka pun segera masuk menghampiri Lili yang masih belum sadar dari pingsannya.

__ADS_1


Reza pun duduk disamping Lili dan menggenggam tangan Lili yang terasa dingin.


Menariknya lembut dan meletakkan tangan itu di pipinya dan menggenggamnya erat.


Sedang tangan yang satunya membelai rambut dan wajah Lili.


" Maafkan aku, tak bisa menjaga kalian dengan baik, sayang,,, bukalah matamu, aku mohon."


Airmata Reza jatuh membasahi tangan Lili yang membuatnya tersadar dan perlahan membuka matanya, Reza tersenyum, dengan cepat ia menghapus airmatanya agar Lili tak melihatnya.


"Kak,,, aku dimana, kenapa perutku sakit sekali Kak, anak ku,,,"


Lili mengelus perutnya yang sudah rata, airmatanya pun mengalir, hatinya terasa hancur, satu satunya yang tersisa juga meninggalkannya.


" Pergilah,, aku ingin sendiri, kumohon,, biarkan aku sendiri."


Lili pun membuang wajahnya kesamping, menarik tangannya dari Reza, memiringkan tubuhnya membelakangi Reza.


Reza hanya bisa menuruti kemauan Lili, ia pun berdiri lalu melangkah duduk di sofa bersama dengan Vino dan Tuan Dell Marvino.


"Bersabarlah menghadapinya, "


Tuan Dell pun menepuk bahu Reza lalu bangkit dari duduknya melangkah keluar diikuti oleh Vino.


" Fokus pada kesembuhan Lili, biar semua aku yang urus, sekarang juga aku akan kembali mengurus pekerjaan kantor."


Vino pun menepuk pundak sahabatnya itu, yang dibalas dengan tepukan pelan ditangannya oleh Reza.


"Thanks, Bro."


Vino hanya mengangguk lalu melangkah keluar ruangan. Menyisakan dua insan yang kini sedang larut dalam pemikiran masing masing.


Tubuh Lili terguncang karena tangisnya, ia mencoba untuk menahan suara tangisnya, namun terasa sesak di dada, akhirnya tangis itu pun pecah mengisi ruangan itu.


" Kenapa kalian begitu tega sama aku, apa salahku pada kalian, kenapa tinggalkan aku sendiri, bawa aku bersama kalian, aku ingin kalian, Ma, Pa, anakku hiksss,,, hikksss,,,"


Lili yang kalut, rapuh,tak tahan dengan luka hatinya membuat ia tak bisa berpikir jernih, perlahan ia bangkit dari tidurnya, melepas selang infus yang ada di tangannya, lalu melangkah keluar kamar menuju balkon Rumah Sakit, ia sudah ingin melompat, namun tubuhnya tertarik dan jatuh ke pelukan Reza.


"Apa yang kau lakukan, kau tahu ini dosa besar, aku masih bersamamu, kita hadapi bersama, aku mohon jangan tinggalkan aku, bisa gila aku karenamu."


Reza mengeratkan pelukannya seakan takut kehilangan lagi, Lili menangis semakin jadi dalam pelukan Reza, hingga ia terkulai lemah tak sadarkan diri lagi.

__ADS_1


" Lili,,, sayang,, bangunlah,,, ini Mama sayang,,,"


bersambung๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน


__ADS_2