GAME LOVE

GAME LOVE
bab 47 perpisahan dimata


__ADS_3

Selama perjalanan hanya keheningan yang tercipta, mereka saling hanyut dalam pemikiran masing masing. Perjalanan pun terasa jauh dan mencekam bagi keduanya. Sesekali Reza melirik ke arah Lili yang membuang pandangannya ke luar jendela, sambil bersandar pada kursi mobil.


Suasana yang hening itu akhirnya terpecahkan oleh bunyi ponsel Reza yang bergetar. Perlahan Lili mengambil ponsel itu yang terletak diantara kursi keduanya. Ia pun menggeser layar dan mengaktifkan loud speakernya. Hingga mereka berdua bisa mendengarnya.


"Iya Vin, ada apa?"


Jawab Reza yang tau jika yang menghubunginya adalah Vino.


"Bos,,, ada masalah di kantor, penjualan kita turun drastis, padahal hari ini kita ada meeting bersama pihak Ceofeng."


Reza terkejut dengan penuturan Vino," aku akan ke kantor sekarang,,,"


Tanpa berfikir panjang Reza segera memutar mobilnya menuju ke kantor. Lili yang mendengar penuturan Vino hanya terdiam. Ia seakan tak perduli dengan semuanya.


"Sayang,,, kenapa kau begitu tenang dengan masalah ini?"


Reza memandang tajam kearah Lili tapi tetap fokus dengan kemudinya.


"Lalu aku harus bagaimana, menangisi semua, karena kebodohanku akan kehilangan harta warisan Papa, apa dengan begitu semua akan kembali?"


Ucapnya dingin dengan pandangan yang fokus keluar jendela.


Suasana hening pun tercipta lagi antara keduanya.


"Aku tahu ini pasti rencanamu, agar kau bisa lepas dari aku, sampai kapan pun aku tak akan melepasmu."


Bisik hati Reza sambil melirik kearah Lili.


Hidup bersama dengan Lili sedari kecil membuatnya mengerti akan sifat dan pola berpikir Lili. Ia sangat memahami akan watak istrinya itu. Sedang Lili yang merasa Reza sedang melihatnya pun menoleh kearah suaminya itu.


"Jika kau berpikir aku yang menyabotase semuanya, kamu salah Kak, karena aku tak mungkin memberikan hasil kerja keras dan keringat Papa pada orang lain dengan mudah, aku tak mungkin memberikan amanat Papa pada orang lain, dari tatapanmu ku tahu kalau kau berpikir aku yang sengaja melakukan semuanya."

__ADS_1


Lili pun kembali menatap keluar jendela sambil memutar otaknya, siapa yang telah berani bermain main dengannya.


Reza yang mendengar ucapan Lili pun sama.


Ia segera memutar otaknya, siapa sebenarnya yang melakukan itu semua hingga perusahaan diambang kehancuran. Meski bukan perusahaan yang dia pikirkan, justru Lili yang jadi fokus utamanya sekarang.


Ia tak mau perjanjian antara Lili dan Ceofeng akan memisahkannya dengan Lili. Ia tak mau Lili membayar semuanya, yang berarti mereka akan terpisah.


Setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, akhirnya mereka sampai di Perusahaan Sanjaya Group. Lili dan Reza segera turun saat mereka tepat berada di depan pintu lobby, memberikan kunci mobil pada Vino yang sudah menunggu mereka tepat di depan pintu lobby.


Keduanya pun langsung menuju left khusus yang akan membawa mereka naik ke kantor mereka, sedang Vino pun bergegas memarkirkan mobil Reza di parkiran khusus.


Semua karyawan yang berpapasan dengan Lili dan Reza pun mengangguk hormat, memberi salam pada keduanya. Namun bukanlah seorang Lili jika harus membalas sapaan mereka, ia hanya diam tanpa ekspresi, sedang Reza membalas semua sapaan karyawannya dengan senyuman.


"Kau ingin tebar pesona Kak?"


Suara Lili mengejutkan Reza yang kini tengah berada di dalam lift khusus mereka.


Aksinya pun berhenti tatkala pintu lift sudah terbuka, dan mereka terkejut melihat Jay dan Ceofeng sudah ada didepan pintu lift.


Jay tersenyum melihat Lili yang masih dalam pelukan Reza.


Mereka pun melepas pelukannya, kemudian melangkah keluar menuju ruang kerja masing masing, sedang Jay dan Ceofeng menuju ruang rapat yang telah ditentukan.


Setelah menyiapkan semua berkas yang digunakan untuk rapat, Reza pun keluar dari ruang kerjanya menuju ruang kerja Lili.


Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk, dan matanya terbelalak melihat sapa yang sudah ada di ruangan Lili.


Tanpa basa basi ia langsung mendekati Lili yang tengah menyiapkan berkas untuk rapat.


"Sayang,,, kau tak apa apa, kau baik baik aja kan?"

__ADS_1


Ucapnya sambil memegang kedua lengan Lili dengan kedua tangannya. Meneliti tiap inci tubuh istrinya.


Dengan tersenyum Lili pun mengatupkan kedua tangannya di pipi suaminya.


"Aku baik baik aja Kak,,, jangan khawatir,,,kalau Kakak seperti ini terus, musuh kita akan sangat mudah menemukan kelemahan Kakak, buang kekhawatiran ini jauh, aku bisa menjaga diriku,,,"


ucap Lili sambil tersenyum manis pada suaminya.


Reza pun mengangguk lalu menatap pada pria paruh baya yang ada di depannya.


"Semua ini pasti ulahmu, sampai kapan pun aku tak akan meninggalkan Lili, camkan itu Tuan Arsen yang terhormat."


Reza menatap tajam pada Papa kandungnya itu.


Arsen bangkit dari duduknya, menatap tajam kearah Lili lalu menepuk pelan pipi dan pundak Reza,"buktikan itu pada Papa,,"


Dengan raut wajah yang dingin dia meninggalkan ruangan Lili. Menuju ke ruang rapat di mana Jay dan Ceofeng berada.


"Ayo sayang,,, kita sudah ditunggu oleh yang lain."


Reza menarik pelan tangan Lili agar mengikutinya, namun Lili tetap terdiam, hingga mereka berjarak beberapa langkah, Lili pun berlari dan memeluk Reza dari belakang. Dadanya terasa sesak, namun sebisa mungkin ia menahan air matanya.


Reza pun membalikkan tubuhnya lalu memeluk istrinya, kemudian melepas pelukan itu dan mengangkat dagu Lili agar mengarah padanya.


Dengan isyarat matanya ia seakan bertanya pada Lili akan apa yang terjadi.


Lili tersenyum lalu dia menjinjitkan kakinya lalu mencium bibir suaminya.


"Maafkan aku Kak, inilah ciuman terakhir untuk Kakak, aku harus pergi, maafkan aku kekasih halalku."


bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹

__ADS_1


__ADS_2