
Disebuah gedung pencakar langit, yang terbuat dari kaca, nampak seorang pria sedang bergelud dengan berkas berkas kerjanya. Sesaat ia menatap ke arah laptopnya, foto seorang wanita yang sangat dikaguminya. Ia pun tersenyum, lalu melanjutkan pekerjaannya.
" Tunggu dua minggu lagi, kita pasti bertemu, dan ku pastikan kamu akan ikut bersamaku, Lili."
Gumamnya lirih sambil mengusap bingkai foto yang ada di mejanya.
Semenjak perpisahannya dengan Lili di desa itu, Jay tak pernah menghubungi Lili lagi, dia selalu mengikuti perkembangan Lili lewat anak buahnya yang ditugaskan untuk mengawasi Lili, jadi dia tau semua yang menimpa Lili.
" Sabarlah sayang,,, bahagiamu akan datang setelah ini,,,"
Senyuman penuh arti terbit di bibir pria tampan ini.
Sekilas bayangan senyuman Lili terlintas di benaknya, membuatnya tak sabar untuk bertemu dengan wanita pujaannya itu.
Semangatnya yang menggebu ingin bertemu dengan wanita pujaannya, membuat semangat Jay berkali lipat untuk segera menyelesaikan pekerjaannya.
Karena fokus dia pada pekerjaannya, tanpa disadari Jay, seorang wanita berusia sekitar 40 tahunan yang masih terlihat cantik dan menyamarkan usianya sudah duduk di sofa ruang kerjanya.
"Sayang,,, sesibuk itukah kau hingga tak tahu jika Mama ada disini?"
Suara lembut itu pun terdengar ditelinga Jay hingga dia harus menghentikan tangannya memainkan laptopnya.
Ia pun mengangkat kepalanya dan menengok ke arah sumber suara. Senyuman menghiasi bibir pria tampan ini, kemudian dia bangkit dari duduknya, melangkah menghampiri Mamanya.
" Kapan Mama pulang, kenapa tidak mengabari Jay lebih dulu, kan bisa Jay jemput, Ma."
Tuturnya lembut sambil mencium tangan Mamanya lalu memeluknya.
" Mama sangat merindukanmu sayang,,makanya Mama menyelesaikan baksos Mama di desa itu dengan cepat, karena Mama tak bisa jauh dari putraku yang tampan ini."
Mama Jay mengoyak pelan rambut putranya sambil tersenyum.
"Ma,, gimana kalau kita makan siang bersama, sekaligus merayakan kepulangan Mama, biar Jay yang menghubungi Papa, kita bertemu di tempat biasanya, gimana Ma?"
__ADS_1
Jay merebahkan kepalanya di pangkuan Mamanya.
Dengan penuh kasih sayang Nyonya Ceofeng membelai rambut putra kesayangannya itu.
Namun hatinya pun terasa sakit, kala mengingat putranya yang lain, yang harus dia tinggalkan demi kebaikan dan masa depannya yang cerah, tak terasa buliran bening pun tumpah dari pelupuk matanya. Segera ia menghapus air mata itu agar tak jatuh mengenai Jay yang sudah terlelap dalam pangkuannya.
" Dasar anak nakal,,, tidurlah sayang,,, lepaskan bebanmu untuk sesaat, Mama akan menjagamu."
Bisiknya lirih sambil mengelus puncak rambut Jay.
" Reza,,, bagaimana keadaanmu sayang,,, maafkan Mama tak berada disampingmu selama ini, tapi percayalah,,,doa Mama selalu bersamamu sayang,,,"
Air mata itupun menetes lagi dan lagi membuatnya terisak dalam diam.
" Tunggu Mama sayang,,, "
*****
Sementara itu disebuah kamar yang terbuat dari kaca, nampak seorang wanita sedang duduk termenung memandang ke luar jendela, dari kamarnya ia bisa melihat keindahan taman yang dihiasi oleh bunga lyly dan mawar, ditengah tengah taman itu ada kolam yang tumbuh bunga teratai yang indah saling bermekaran,, tak lupa adanya kolam renang disana.
" Ma,,, Pa,,, kenapa kalian pergi begitu cepat, kenapa ninggalin aku sendiri di dunia ini,,, aku sangat merindukan kalian,,, datanglah Ma,, Pa,,, lihat putrimu sekarang, apa kalian sudah melupakan aku, seperti dia yang mencampakkan aku sekarang,,,"
Air mata Lili semakin deras mengalir, menganak sungai membanjiri pipinya dan jatuh membasahi bantal yang di peluknya.
" Aku pergi demi kebahagiaan kita, tapi kenapa takdir tak membiarkan itu, kenapa harus mengambil kalian dari aku,, kenapa semuanya tak adil bagiku, kenapa,,,?"
Gumamnya lirih sambil meremas bantal yang ada di pangkuannya.
Tak terasa sudah seminggu Lili berada di rumah Papa Vino, Tuan Dell Marvino, yang merupakan seorang wali kota. Dengan kekuasaan yang dimilikinya ia bisa dengan cepat menemukan keberadaan Mansion Arsen yang tersembunyi dari publik.
Makanya dengan cepat ia bisa membebaskan Vino meski masih memerlukan bantuan dari Aby, hingga mereka bekerja sama untuk menyelamatkan Vino dan Lili dari tangan Arsen.
Pengusaha yang memiliki pengaruh besar di negara itu, karena ia juga seorang mafia yang ditakuti oleh lawannya.
__ADS_1
Karena itulah Mama Reza menitipkan Reza pada keluarga Sanjaya, karena beliau tak mau Reza mewarisi sifat kejam Arsen nantinya.
Lili yang asyik dengan lamunannya tak menyadari adanya seorang yang datang menghampirinya.
Ia terkejut saat ada tangan yang sudah melingkar di lehernya, dan desah nafas yang sangat dikenalnya.
Namun ia tak bergeming sedikitpun dari duduknya, hanya diam seribu bahasa.
" Sayang,, kita pulang sekarang,,, maafkan aku baru menjemputmu sekarang,, lukaku baru sembuh, dan baru hari ini aku diperbolehkan keluar,, aku kangen sama kamu, makanya aku cepat cepat kemari, maafkan aku sayang,,,"
Reza mencium pucuk kepala Lili yang masih terdiam, menutup rapat mulutnya.
Reza yang mengerti istrinya sedang marah pun melangkahkan kakinya dan berhenti di depan Lili.
Ia bisa melihat airmata Lili yang terus menetes, diusapnya air mata itu setelah mensejajarkan posisi mereka.
" Maafkan aku,, tak bisa menolong Papa dan Mama, kita hadapi semua bersama, ku mohon jangan ada lagi air mata ini, ingat di sini ada nyawa yang harus kita jaga."
Reza pun duduk disamping Lili lalu memeluknya, mencoba menenangkan istrinya yang kini terus menangis di pelukannya.
" Kenapa kau tega mengkhianatiku Kak,,, dengan mata kepalaku sendiri kau tidur bersama dengan Alin, aku membencimu, aku tak akan memaafkan pengkhianat kau tahu itu, kenapa kau masih berani datang padaku, pergilah,,, raih bahagiamu,,, lepaskan aku,"
Ucap Lili lirih disela isak tangisnya, kemudian ia melepas pelukan Reza, bangkit lalu melangkah pergi ke balkon kamarnya.
Reza pun mengikuti langkah Lili, ia berusaha untuk mendekati istrinya yang kini berada di pinggir balkon.
" Pergi Tuan Reza yang terhormat,, jangan dekati aku lagi,, kalau tidak aku akan melompat ke bawah, kan kubawa anak kita bersamaku, hukuman atas pengkhianatanmu, kau akan kehilangan kami,, pergi,,, aku tak mau melihatmu lagi,, kalau tidak aku lompat sekarang,, pergi,,!"
Dengan nada yang cukup tinggi, Lili meluapkan semua emosinya yang tertahan di dadanya selama ini, ia sudah berada di pinggir balkon dan siap untuk melompat, membuat Reza khawatir dan kebingungan tak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Lili.
Tapi ia tak mau ambil resiko kehilangan keduanya, istri juga debay yang masih dalam kandungan, tanpa bicara apa pun ia pun pergi meninggalkan Lili.
" Pergilah,, maafkan aku, ini demi kebaikan kita, yang utama sekarang anak kita, aku tak mau dia pergi juga meninggalkan aku, Kak,,, dialah harapanku untuk hidup sekarang,,,"
__ADS_1
Lilipun bersimpuh dengan derai airmatanya. Tanpa ia sadari sepasang mata tetap mengawasinya dengan hati yang hancur juga.
bersambung🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹