GAME LOVE

GAME LOVE
bab 74


__ADS_3

Suasana ruangan yang tadinya penuh dengan gairah dua orang anak manusia yang berlainan jenis, kini nampak sunyi mencekam. Tak ada yang berani untuk bersuara, setelah tatapan tajam singa lapar tertuju pada ketiga orang di depannya. Bagaimana Reza tidak akan marah saat hasrat yang sedikit lagi sampai puncak terhenti oleh ketukan pintu yang memunculkan Erlangi bersama dengan Vino. Seakan tiada dosa gadis itu justru bergelayut manja di lengan kakak iparnya.


Sedangkan Vino memilih menundukkan wajahnya, tak mau bersitatap dengan singa lapar yang terluka hatinya karena ulah mereka berdua. Sekian menit saling diam, hanya bisa menghela nafasnya dengan berat, Vino pun mengangkat wajahnya mengarah pada Reza.


"Kami sudah melakukan tugas dengan baik, selain mendapat bonus serangan di jalan tadi, kami juga mengetahui jika partner kerja Nona Lili menaruh rasa padanya." Lapor Vino sedikit gugup awalnya namun setelah mengetahui Reza melengkungkan sedikit bibirnya, ia dengan lancarnya melaporkan semua kejadian yang diketahuinya.


"Hmmm,,, jadi firasatku benar jika Mark memang mengincar istriku. Ok,, mari kita bermain Mark,,," seringai jahat itupun menghiasi bibir Reza, membuat ketiga orang di depannya bergidik ngeri.


"Apa rencanamu Kak,,,? Ingat kita akan memiliki debay, aku tak mau semua kegilaanmu akan mempengaruhi debay nantinya, ingat hukum karma itu ada." Lili yang sudah merasakan aura membunuh dari suaminya. Berusaha mengingatkan jika apa yang mereka perbuat nanti bisa juga berimbas pada anak mereka, ia tidak mau anak anaknya menanggung karma dari perbuatan mereka nantinya.


"Tenang saja sayang,,, bukan aku yang akan bertindak tapi liat saja nanti siapa yang akan bertindak memberi pelajaran pada pria brengsek seperti Mark." Ucap Reza sambil memandang lekat kearah Vino.


Melihat tatapan Reza terarah padanya, Vino pun mengerti, " saya akan melakukan nya Tuan, saya pamit dulu, mempersiapkan semua untuk meeting kita nantinya." Pungkas Vino sambil berdiri dari kursinya, mengangguk hormat lalu melangkahkan kakinya ke luar ruangan Reza. Menyisakan Erlangi yang merasa kebingungan harus berbuat apa, setelah tadi sempat dibisiki oleh Lili jika ia sudah membuat kesalahan, masuk ke ruangan pada saat yang tidak tepat. Mulanya Erlangi masih belum sadar akan ucapan kakak iparnya, namun saat Lili berbisik bercinta, mata Erlangi jadi terbelalak dan mulutnya menganga lebar, antara malu juga takut jika kena amarah kakak tirinya tersebut.

__ADS_1


"Ma,,,tolong Erlangi,,," gumamnya dalam hati saat Reza sudah mengerutkan keningnya. Erlangi bisa menebak pasti kakaknya itu sedang memikirkan hukuman untuknya.


"Hmm,, kakak ipar,,, boleh aku pinjam ponselmu, aku kangen sama Mama,,," lirih Erlangi sambil menatap memohon pad Lili. "Tolonglah aku kakak ipar,,," mungkin itulah arti dari tatapan Erlangi saat ini.


Lili pun tersenyum pada adik iparnya yang terlihat pucat sekarang. Ia tahu trik yang digunakan Erlangi dengan menyebut nama Mama mereka, agar Reza menghentikan niatnya untuk menghukum adik iparnya tersebut.


"Maaf Er,,,.ponselku ada pada kakakmu, dia menyitanya tadi, bahkan aku pun sempat kesal di buatnya." Goda Lili pada Erlangi yang semakin memucat wajahnya. Entah mengapa, Lili juga suka mengerjai adik iparnya. Reza yang jadi tertuduh menyembunyikan ponsel Lili hanya bisa mendesah pelan melihat keusilan istrinya. Meskipun ia marah, ia tidak akan tega menghukum adik tirinya itu dengan berlebihan, apa lagi saat ia mendengar Erlangi merindukan Mama mereka, kasih sayang seorang kakak pun hadir di hatinya.


"Pakai saja ponsel ku menghubungi Mama, aku juga sangat merindukan beliau,,," putus Reza yang kasihan melihat raut wajah adik tirinya tersebut.


"Mana mungkin aku bisa lama lama marah sama putri kesayangannya Mama, yang ada nanti aku di pecat jadi anak Mama,,," kelakar Reza diiringi kikikannya karena melihat Lili yang cemberut padanya.


"Sayang,, udah usilnya,,, apa kamu tidak kasihan melihatnya yang sudah pucat pasi, apa kamu ingin suamimu ini di cap sebagai penindas adik tiri. Ntar bukan hanya ada ibu tiri yang kejam, tapi juga kakak tiri yang kejam,, hihihi,," kembali Reza terkikik pelan.

__ADS_1


"Jadi,, Kak Lili yang mengerjai aku, bukan Kak Reza?" Kini pandangan Erlangi tertuju pada kakak iparnya.


"Jangan salahkan aku Er,,, ini kemauan debay,, maaf ya,,," dengan entengnya Lili membersihkan kesalahannya yang mengusili adik iparnya dengan menggunakan debay sebagai tertuduh.


"Kak Lili,,,,," teriak Erlangi dengan menahan geramnya. Membuat Reza juga Lili tertawa bersama telah sukses mengerjai Erlangi.


"Aku tidak terima, aku mau mengadu sama Mama, biar kalian mendapat hukumannya."


Erlangi dengan kaki di hentak hentakkan berjalan kearah meja kerja Reza, berniat mengambil ponsel kakaknya tersebut, namun sebuah suara menghentikan keinginan nya.


"Siapa yang harus ku hukum sayang,,," suara lembut itupun masuk kedalam telinga mereka bertiga, membuat ketiganya menoleh kearah pintu. Sosok yang mereka rindukan tengah berdiri tepat di tengah tengah pintu.


"Mama,,," ucap ketiganya berbarengan. Namun mereka pun terkejut melihat siapa yang ada di belakang Mama mereka, yang siap menghunuskan pisaunya kearah Mama mereka.

__ADS_1


"Tidak,,,," teriak ketiganya sambil berlari kearah pintu.


bersambung 🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹🌹


__ADS_2