
Hari demi hari terus berganti, tak terasa sudah 2 minggu Lili meninggalkan rumah dan orang orang yang sangat dicintainya. Kini ia menata hidup barunya, untuk menyembunyikan jati dirinya ia pun mengubah namanya menjadi Ana. Memulai hidup dari nol, ia harus bisa mencukupi kebutuhannya sendiri dengan ikut bekerja di perkebunan teh bersama dengan Zha, itulah panggilan gadis yang tempo hari akan diperkosa oleh putra rentenir di desa itu.
Pagi buta mereka sudah bersiap siap pergi ke perkebunan teh, karena letaknya yang lumayan jauh dari rumah Zha, sekitar satu jam berjalan kaki.
"Bekal kalian sudah Bunda siapkan di meja makan, hati hati nanti kalau bekerja."
Pesan Bunda Ay seraya mengemas hasil jahitannya.
"Iya Bunda, kami berangkat dulu."
Tutur Zahra sambil menjabat tangan Bundanya dan mencium punggung tangan orang yang sangat penting dalam hidupnya setelah kematian Ayahnya.
Ana pun ikut menjabat tangan Bunda Ay, bagi dia Bunda Ay sudah seperti Mama baginya, karena ia kini jauh dari kedua orang tuanya, maka kasih sayang seorang ibu bisa dia rasakan dari kasih sayang Bunda Ay padanya.
Keduanya kini pun menyusuri jalan yang menuju ke perkebunan teh, mereka saling bertukar cerita tentang semua hal, biasanya mereka akan berjalan bertiga dengan Jay, namun seminggu yang lalu Jay memutuskan untuk kembali ke kota dengan alasan orang tuanya sakit. Sebenarnya Jay tak tega meninggalkan Lili hidup sendiri di desa dan kota kecil yang masih asing baginya, namun Jay merasa tenang saat Lili memutuskan untuk tinggal bersama dengan Zahra dan Bunda nya.
Selama perjalanan mereka bersenda gurau hingga tanpa terasa mereka sudah sampai di perkebunan teh itu dan beristirahat sebentar, lalu memulai kerjaan keduanya.
" Aku dengar putra dari pemilik kebun teh ini akan datang, setelah lulus dari fakultas ternama di kota, dan dia sudah menjadi seorang Dokter di Rumah Sakit Sanjaya, di kota pusat."
Kata seorang pemetik teh yang hobinya suka bergosip namanya Markonah.
" Kamu tahu dari sapa Mar? Jangan jangan itu gosip kabar burung doang, kan putra Tuan Abimanyu tidak mau kembali lagi ke perkebunan ini setelah peristiwa penculikan itu, ia trauma untuk tinggal di desa terpencil ini."
Kata Pak Sabar yang merupakan Mandor di perkebunan itu.
"Pak Sabar iku kepiye tho, wes dadi warto neng endi endi, wes kesebar sakdeso, yen Den Bagus ape bali neng deso iki, nerusne bisnis e Den Abimanyu."
(Pak Sabar itu gimana, sudah jadi berita yamg tersebar sedesa, kalau Tuan Muda mau kembali ke desa ini, meneruskan bisnis Tuan Abimanyu.)
Kata Markonah yang sudah berkacak pinggang pada Pak Sabar.
"Ya udah Mar, kita liat aja nanti, aku mau liat pekerja yang lain."
Pak Sabar pergi meninggalkan mereka yang sedang melongo melihat Markonah yang tak takut pada mandor mereka yang terkenal kejam itu, suka memecat orang yang berani padanya, meski namanya Sabar tapi sifatnya berbanding terbalik dengan namanya.
Lili yang ikut mendengarkan percakapan mereka tetap cuek, berbeda dengan Zahra yang sedari dulu sudah mengidolakan anak Tuan Abimanyu.
"Ana,,, dengarkan kata Markonah tadi, kalau pujaan hatiku akan datang kembali setelah sepuluh tahun berlalu semenjak hari sial itu, aku sudah tak sabar untuk melihatnya, Ana."
Rona kebahagiaan nampak terlihat jelas di mata Zha. Ia tersenyum penuh arti. Hatinya yang berbunga bunga pun tak dapat ia sembunyikan. Ia pun menyanyikan lagu yang mencerminkan suasana hatinya saat ini.
Sambil berlenggak lenggok ia pun menyanyikan lagu dangdut,
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
__ADS_1
Seraut wajah tampan sangat mempesona
Dibalik pintu hati tersimpan rinduku
Matamu bak panah asmara
Bibirmu bagai telaga madu
Aduhai,,,,,
Stop engkau mencuri hatiku
Stop engkau mencuri hatiku
Tutur bahasamu yang penuh kata kata manja
Bisik bisik cinta menyentuh hatiku
Tak mungkin dapat ku lupakan
Di dalam dunia
Hanyalah engkau yang kucinta
Menjadi pendamping hidupku
Bak serumpun sumpah janji berdua
Bak sekata kita saling setia
Stop engkau mencuri hatiku
Stop engkau mencuri hatiku
๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ๐ถ
Bagai ada irama lagu yang terdengar semua orang ikut bergoyang saat Zahra menyanyikan lagu dari Mbak Dewi.
Suaranya yang merdu mampu menghipnotis siapa saja yang mendengarnya, termasuk juga Lili.
Saat mereka sedang asyik bergoyang, Pak Sabar datang dan memarahi mereka.
"Kalian pikir ini konser amal? Cepat kerja! Dan kau Zahra kalau mau manggung jangan disini, sana di Balai Desa, sapa tau nanti ada produser yang datang dan mau ngorbitkan kamu jadi penyanyi, dasar tukang mimpi di siang hari."
Dengan mata yang melotot tertuju pada anak buahnya, dan mereka pun segera melanjutkan pekerjaan mereka lagi.
__ADS_1
Zahra tertunduk sedih mendengar ucapan Pak Sabar, memang impian dia menjadi seorang penyanyi terkenal sejak kecil, hingga ia sering ikut kontes menyanyi, bahkan ia sempat bergabung dengan band yang ada di kota kecil itu dan menyanyi di sebuah cafe yang terkenal di sana, meski jarak antara desa dan kotanya cukup jauh, namun ia tetap bersikeras mengambil pekerjaan itu hingga Ayahnya sakit dan mengikat dia dengan janji agar berhenti dari pekerjaannya di cafe itu.
Tak terasa buliran bening pun menetes dari matanya. Dan Lili yang sudah tau semuanya pun mengusap pelan punggung sahabatnya itu.
"Bersabarlah,,, suatu hari nanti, aku yakin kamu pasti akan menjadi penyanyi terkenal, jangan bersedih lagi ya, tuh malukan diliatin sama pucuk,, pucuk,,, wkwkwk."
Zahra pun tersenyum melihat Lili yang menunjuk pucuk daun teh yang ada ulatnya. Sebenarnya Lili geli dan takut pada ulat, namun karena pekerjaannya, ia pun memberanikan dirinya dan akhirnya sudah terbiasa.
Akhirnya waktu pulang pun tiba, mereka berdua berjalan menyusuri jalan setapak, jalan alternatif yang lebih cepat sampai ke rumah mereka meski tak ada seorang pun yang melewati jalan itu, karena menurut orang banyak sekali berandalan yang suka malaki para pekerja yang lewat.
Dan mungkin ini hari naas bagi keduanya, ditengah jalan mereka sudah dihadang oleh 5 orang berandalan, Lili terlihat santai, namun tidak dengan Zahra, ia nampak ketakutan dan bersembunyi di belakang Lili, karena salah satu dari mereka adalah putra dari rentenir itu.
"Cepat kalian lumpuhkan wanita itu, dan bawa Zahra padaku, setelah itu kita berpesta, ha,,, ha,,, ha,,,"
Tawanya kemenangan pria itu membuat Lili jijik melihat kearahnya.
"Maju kalian semua, jangan jadi pengecut beraninya keroyokan."
Ke empat orang itu pun menyerang Lili, yang mulanya satu lawan satu kini mereka maju bersamaan karena Lili dengan mudah dapat melumpuhkan keempat orang itu, hingga,
"Berhenti! Kalau tidak maka Zahra akan tinggal nama saja."
Lili menghentikan aksinya menghajar para berandalan itu saat melihat Zahra sudah ditodongkan pisau di lehernya oleh anak rentenir itu.
"Pergilah Ana, yang mereka mau adalah aku, pergilah cari bantuan, aku mohon!"
Ucap Zahra di tengah isak tangisnya yang sudah pasrah akan nasibnya saat ini, dan ia tak mau Lili juga terjerumus ke dalam masalahnya.
Namun Lili tak beranjak dari sana hingga ke empat orang itu meringkusnya dan membawa mereka pada sebuah gubuk tua di tengah perkebunan.
" Mari kita berpesta sekarang!"
Ucap anak rentenir itu sambil meminum alkohol yang diikuti oleh ke empat berandalan tadi, setelah mereka puas minum, pria itu mendekaati Lili dan mengangkat wajah Lili agar mendekat ke arahnya. Lili tak bisa apa apa karena tangannya terikat saat ini.
"Cantik,,, bagai bidadari syurga, mana mungkin aku menyia nyiakan ciptaan Tuhan yang begitu sempurna ini, cantik,, akan kubuat kau bahagia dengan mereguk madunya syurga cinta."
" Jangan sentuh Ana dengan tanganmu itu brengsek, lepaskan dia, aku yang kau mau, lepaskanlah dia, demi anak yang dikandungnya, aku mohon!"
Ucap Zahra dengan derai airmatanya yang terus mengalir.
"Ternyata dia sedang hamil tanpa suami, wah,,, ternyata jalang juga wanita ini, sungguh menarik untuk dilewatkan, kau pasti tak menginginkan anak ini bukan, akan kubantu kau untuk melenyapkannya, kau siap sayang,, kita mulai permainan."
" *Sedikit saja kau menyentuhku, maka nyawamu taruhannya."
bersambung๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น๐น*
__ADS_1