Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 10. Sayang


__ADS_3

*****


Author Pov


Matahari mulai muncul di peraduan, kala kedua mata indah nan lentik milik Vani terbuka perlahan, senyumnya mengembang saat melihat kedua kakak iparnya tidur di samping kiri kanannya sembari memeluk perutnya.


Vina baru kali ini merasa damai, setelah 1 tahun lamanya ia tidur dengan perasaan yang campur aduk.


"Kamu sudah bangun?" tanya Hani, istri Fauzi. Dia bangkit dari tidurnya dan duduk menatap adik iparnya. Vina pun mengangguk dan ikut duduk, hanya Rita yang masih terlelap.


"Iya, kak. Makasih sudah menemaniku tidur. Ini tidur paling nikmat selama satu tahun belakangan ini."


"Kenapa kamu selalu mengambil keputusan sendiri? tidak bisakah kamu selalu melibatkan kedua kakakmu itu?"


"Aku hanya tidak mau membuat kak Fahri dan kak Fauzi kepikiran terus. Aku sudah besar, Kak."


"Itu menurutmu, tapi tidak dengan kedua kakakmu itu. Tahukah kamu, kemarin saat mendengar kamu cerai, Mas Fauzi seperti orang kesetanan. Aku bahkan sampai dibuat bingung bagaimana menenangkannya."


"Maafkan aku, Kak."


"Bukan pada kakak, kamu harus minta maaf pada kedua kakak kamu. Mereka itu menyayangi kamu, sangat sayang malahan. Bagi mereka, kamu tetaplah adik kecil yang akan selalu mereka jaga dan mereka sayangi sampai kapanpun. Jadi lain kali kalau ada apa-apa langsung hubungi kakak kamu. Jangan sampai masalah berlarut sampai 1 tahun lalu kamu cerai seperti ini."


Vina menunduk dan meneteskan air matanya. Jujur sebenarnya ia juga merasa sedih harus berpisah, tapi bertahan pun dia sungguh tidak sanggup.


"Baru buka mata, kamu sudah buat Vina menangis. Kalau Fauzi dan mas Fahri tahu, habis kamu, Hani."


"Apa sih, Mbak. Kan aku ngomongin juga baik-baik. Mbak Rita kan lihat bagaimana suami-suami kita kemarin mencemaskan Vina."


Rita bangkit dari posisi tidurnya dan bersandar di headboard ranjang. Dia menoleh pada Vina yang masih menangis terisak. Rita justru menarik lengan Vina hingga tubuh Vina merebah di dada Rita.


"Kami semua ini menyayangi kamu, andai kamu hanya minggat dari rumah pasti sekarang ini mas Fahri sudah seret Pras kemari. Tapi kamu ditalak 3 oleh pria itu. Seharusnya jika dia orang baik. Dia pulangkan kamu pada kami, pengganti orangtuamu. Bukan malah menceraikan kamu dan membiarkan kamu pulang sendirian."


Vina hanya terus terisak dan bersandar di dada Rita. Rita mengusap kepala Vina sedangkan Hani menepuk-nepuk halus punggung adik iparnya itu.


"Setahuku, semalam mas Fahri sudah menghubungi pengacara untuk mengurus surat cerai kalian, tapi mungkin setelah ini kebebasan kamu akan diambil paksa oleh kedua kakak kamu."


"Kenapa?" tanya Vina bingung sambil mengangkat wajahnya. Ia mengusap air matanya yang terus mengalir dari dua sudut matanya.


"Ya, karena mereka khawatir kamu akan terluka lagi. Untuk urusan kuliah kamu, mungkin mas Fahri atau mas Fauzi akan memindahkan kamu.


"Aku tidak mau pindah, Kak. Di sana dekat dengan kedai."


"Untuk urusan kedai, bu Risma yang akan ambil alih. Kakak-kakakmu khawatir kamu akan bertemu Pras lagi. Mereka tidak mau kamu terluka lagi."

__ADS_1


"Kali ini, aku mau kamu turuti kedua kakakmu, agar mereka tidak terlalu khawatir."


"Baiklah, Kak."


Ya, mungkin benar apa kata kedua iparnya. Untuk sementara ia akan menuruti semua keinginan kedua kakaknya. Setidaknya itu bisa menebus rasa bersalah Vina pada kak Fahri dan kak Fauzi.


Vina tahu kedua kakaknya itu amat sangat menyayangi dirinya karena usia mereka terpaut cukup jauh. Jarak antara Vina dan Fauzi adalah 12 tahun, sedang jarak Fauzi dan Fahri hanya 3 tahun. Jelas saja Vina amat sangat disayangi kedua kakaknya.


...***...


Vina mulai menjalani rutinitas lamanya dulu yaitu berkebun, di halaman belakang kediaman orang tuanya terdapat 2 rumah kaca yang dimana berisi tanaman peninggalan almarhumah bundanya.


Saat melewati pintu rumah kaca, Vina terkejut karena ada putra bu Risma yang bernama Fadil. Fadil menganggukkan kepala sopan sebagai tanda penghormatan pada Vina.


"Tidak perlu terlalu formal padaku, sepertinya usia kita tidak berbeda jauh," Kata Vina sambil duduk di kursi rotan. Fadil memperhatikan gerak gerik Vina dengan tatapan yang begitu teduh.


"Iya, Nona. Usia saya 23 tahun."


"Hah... serius, 23?" tanya Vina dengan ekspresi terkejut.


"Aku kira tadi usiamu 20 tahun."


Fadil tersenyum, hingga lesung pipinya tercetak jelas. Vina dibuat terpukau saat melihat lesung pipi itu. Baru kali ini dia bisa melihat pria berlesung pipi.


"Tentu saja, Nona. Mana ada lesung pipi palsu."


"Lalu apa yang kamu lakukan di sini?"


"Saya selama ini yang merawat bunga-bunga indah ini," kata Fadil.


"Oh, pantas saja."


"Pantas kenapa, Nona?"


"Bunga-bunga di sini tumbuh subur," jawab Vina sambil tersenyum.


"Anda terlalu memuji, Nona."


Saat keduanya asik mengobrol, Ken, keponakan Vina masuk dan memanggil-manggil nama Vina.


"Jangan teriak-teriak, Ken. Kuping tante sakit."


"Dipanggil mama, katanya tante mau diajak ke mall."

__ADS_1


"Ya, baiklah. Tante akan ke sana segera."


Vina melirik Fadil yang terus memandangnya dengan tatapan teduh. Vina tersenyum pada pemuda itu, tapi Ken buru-buru menarik tangannya.


"Jangan senyum-senyum sama mas Fadil, Tante, nanti tante terluka lagi terus nangis lagi," kata Kendra.


"Hah, maksudnya?"


"Ya, tante ga perlu senyum sama mas Fadil. Dia itu sudah punya pacar. Pacar mas Fadil, Bidan."


"Ih, kamu kecil-kecil suka gosip."


Saat memasuki rumah besar itu, Ken kembali berulah hingga membuat Vina malu pada kedua kakak iparnya.


"Mama, tante Vina naksir mas Fadil," ujar Ken mendekati mamanya.


Rita dan Hana seketika saling melempar pandangannya dan lalu tertawa. Vina cemberut lalu melipat kedua tangannya di atas dada dan membuang wajah.


Hani mendekati Vina, "Iya, bener begitu, Vin?"


"Ish, kakak berdua ini apa-apaan? nanti bagaimana kalau sampai Fadil dengar. Aku kan engga enak. Lagi pula hanya tersenyum, Kak, dari mana bisa dibilang naksir?"


"Tapi anak seperti Kendra ini peka sekali lho," kata Rita membela putra pertamanya.


"Kalau senyum saja dibilang naksir. Maka nanti jangan salahkan aku kalau cemberut seharian sama orang lain. Takut dikira naksir."


"Cie, Ngambek."


Hani dan Rita keduanya terbahak-bahak melihat wajah adik iparnya yang cemberut. Sepertinya mudah saja menghibur gadis itu.


"Ayo, kamu buruan ganti baju, kita jalan-jalan."


"Baiklah."


Vina pun naik ke kamarnya untuk berganti baju. Vina membawa tas Selempang yang biasa dia bawa. Usia Vina yang baru menginjak 21 membuatnya terlihat cantik dan masih segar.


"Ayo, Kak,"


"Oke... "


Ketiga wanita cantik itu akhirnya pergi menuju mal yang ada di kota itu. Mereka bertiga tampak seperti kakak beradik yang sangat kompak. Bahkan Rita yang usianya saat ini menginjak 31 tahun itu tampak terlihat masih cantik.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2