
*****
Kembali Ke Jogja
Vina tertegun saat berada di lobby, bagaimana tidak? Enzo tiba-tiba berlari memeluk kakinya disaksikan oleh banyak pasang mata. Pemandangan itu jika dilihat dari kacamata orang lain, Vina dan Enzo seperti seorang kakak dan adik bungsunya. Namun dari kaca mata bu Laras. Ia merasa Vina seperti ibu pengganti untuk Enzo, tanpa terasa sudut matanya basah.
Vina menunduk untuk mengangkat bocah yang sangat menggemaskan itu. Meskipun sedikit kepayahan tapi Vina berhasil menggendong Enzo. Tubuh Vina yang hanya memiliki tinggi 166 cm terlihat semakin kecil karena Enzo menempel di bahunya dan memeluk Vina posesif.
Vina berjalan mendekat ke arah bu Laras dan Galang yang masih sama-sama mematung menatap keduanya. Ia menunduk sopan dan lalu hendak menurunkan Enzo. Namun bocah itu malah mengeratkan kedua tangannya di leher Vina.
"Gendong sebentar lagi, Kak," pinta Enzo tanpa merengek, tapi bocah itu sudah menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Vina. Vina sedikit bergidik kegelian karena hembusan nafas bocah itu.
"Enzo, sama oma saja, ya. Kasihan kakak Vina nya mau kenalan sama oma engga jadi," bujuk bu Laras. Enzo akhirnya menyerah meskipun bibirnya mengerucut.
"Duh manjanya cucu oma." Bu Laras semakin tertawa keras saat melihat wajah Enzo yang semakin ditekuk.
"Nak Vina, tante dan Enzo engga ganggu 'kan?"
"Engga apa-apa kok, Tante. Saya memang tadinya ada janji dengan teman tapi tidak jadi."
"Oh, ya syukur kalau begitu. Ayo, kita langsung ke rumah tante saja, ya. Tante penasaran sama kamu. Soalnya sejak pulang dari jemput ibu saya, Enzo terus cerita soal kamu."
"Saya malah engga nyangka jadi bahan pembicaraan Enzo, Tante. Soalnya tadi cuma sebentar ketemunya."
"Tapi buat cucu saya, kamu itu membekas di ingatan. Enzo ini jarang sekali mau membicarakan teman papanya. Padahal yang mau dekat banyak."
Galang sejak tadi diam, ia hanya menyimak sambil berdiri tegap dengan kedua tangan berada di dalam saku celana. Bu Laras akhirnya mengajak Vina menuju ke mobil alphard yang sejak tadi berada di lobby.
Galang duduk di depan, di sebelah supir. Vina dan bu Laras serta Enzo masuk di kursi tengah. Suasana sejenak hening saat mobil meninggalkan pelataran hotel.
__ADS_1
"Kalau tante boleh tahu, nak Vina ini sendiri atau ...?"
"Mah .... " Galang seketika menoleh dan menatap ibunya tajam.
Vina diam sesaat, sebenarnya dia tidak nyaman kehidupan pribadinya diketahui oleh orang lain, tapi Vina pikir mungkin ini pertemuan terakhir mereka jadi tidak masalah dia berkata jujur.
"Saya baru proses menjanda, Tante," jawab Vina. Raut wajah Galang seketika berubah dingin. Bu Laras tampak kaget mendengar jawaban Vina."
"Janda itu apa oma? apa seperti tante Tyas yang ditinggal pergi om Anton?" tanya Enzo, bocah itu terlalu kritis. Terbiasa berada di lingkup orang-orang dewasa membuat bocah 5 tahun itu paham masalah mereka.
"Eh, Enzo tidak boleh seperti itu," tegur bu Laras.
"Maaf, ya, Nak Vina."
"Tidak apa-apa, kok, Tante."
"Saya 21 tahun, Tante."
"Masih sangat muda sekali, maaf tante jadi tanya-tanya begini."
"Tidak apa-apa, Tan."
Mobil yang dikemudikan pak Noto masuk ke sebuah pekarangan rumah yang sangat luas dan asri. Banyak pepohonan rindang dan juga taman.
"Kita sudah sampai, semoga Nak Vina betah di sini." Vina hanya tersenyum menanggapi ucapan wanita paruh baya itu.
Enzo menggandeng tangan Vina, keduanya mulai memasuki rumah semi Joglo dengan atap yang menjulang sangat tinggi. Galang turun menyusul putranya, tapi langkahnya berbelok ke dalam kamar. Bu Laras hanya geleng kepala dengan tingkah putranya. Sejak dulu sama saja, selalu bersikap ketus dan dingin.
Vina diajak bu Laras ke ruang keluarga. Nenek penjual yang dipanggil nini oleh Enzo itu menyambutnya dengan senyuman hangat. Vina sampai membatin, apa Galang itu adalah anak pungut di keluarga itu? sikapnya berbeda jauh dengan ibu dan neneknya yang sangat ramah.
__ADS_1
Ponsel di dalam tas Vina bergetar, nama Alex muncul, Vina meminta ijin mengangkat panggilan itu, dia sedikit menjauhi Enzo dan kedua wanita ramah yang ada di rumah itu.
"Ya, ada apa, Lex?"
Galang yang baru saja berganti baju rumah, menghentikan langkahnya saat mendengar suara Vina. Pria itu memutuskan untuk menguping pembicaraan Vina.
"Aku baik-baik saja, Lex. Niatanku datang ke Jogja memang untuk bertemu kalian. Percayalah aku tidak sedang sedih sama sekali. Mungkin perceraian itu memang yang terbaik untuk hidupku. Bahkan sampai sekarang masalah di keluarga mereka selalu kesalahannya dilimpahkan padaku." Sejenak Vina diam mendengarkan ucapan Alex, tapi lalu dia berbicara dengan nada yang terdengar khawatir.
"Tidak, tidak, jangan lakukan apapun. Aku hanya ingin lepas tanpa ada masalah lagi. Aku lelah, Lex."
"Ya, baiklah, terima kasih kalian masih peduli padaku."
Vina mematikan teleponnya dan kembali mendekati Enzo dan juga kedua neneknya. Dia tersenyum canggung, Vina merasa seperti berada di ruang sidang padahal kedua orang di hadapannya tidak berbuat apa-apa.
Galang masuk ke ruang keluarga dan lalu duduk dengan tenang di sofa tunggal yang berada tepat di samping kanan Vina. Sejak masuk tadi matanya tidak lepas menatap wanita yang katanya sedang proses menjadi janda.
Bu Laras melihat gelagat aneh putranya. Tidak biasanya Galang terlihat begitu.
"Papa, jangan lihatin kak Vina begitu," ujar Enzo, dan ternyata tak hanya bu Laras yang memperhatikan tingkah laku Galang, Putranya sendiri pun ternyata sejak tadi memperhatikan gerak gerik papanya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Guys, sambil nunggu aku Up. kalian biasanya cari bacaan apa sih? nih aku punya karya rekomendasi dari aku nih.
Nama pena : Unchi
judul karya : Terpaksa Menikahi Mantan Napi
__ADS_1