Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 50. Bertemu Kembali


__ADS_3

****


Galang membawa Vina untuk pertama kalinya ke perusahaannya. Dari saat keduanya masuk dengan tangan bergandengan, Vina ternyata sudah menarik perhatian para karyawan Galang.


"Mas sebaiknya aku kembali ke rumah saja. Aku malu."


"Kamu belum makan, lho." Galang hanya sekilas menoleh ke arah calon istrinya itu. Keduanya menaiki lift menuju ke lantai 7 di mana ruangan Galang berada. Fredrik menyambut kedatangan atasannya itu. Galang hanya tersenyum sekilas melihat wajah syok sekertarisnya yang duduk di samping meja Fedrik.


Vina dengan sopan menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis ke arah kedua pegawai Galang itu. Fredrik membalas senyuman Vina dengan raut wajah bingung.


"Fred, tuan kita membawa siapa itu?" tanya sekertaris Galang sembari menggoyangkan lengan baju Fredrik. Pria itu pun menggelengkan kepalanya seolah linglung.


"Jangan-jangan, gadis tadi adalah wanita yang kamu ceritakan tempo lalu. Saat tuan bilang akan melepas masa lajangnya," kata Monika mengingatkan Fredrik.


"Bisa jadi, aku juga tidak tahu."


Sementara itu, di dalam ruangan Galang, Vina duduk di sofa sedangkan Galang langsung duduk di kursi kerjanya.


"Maaf, aku tinggal sibuk sebentar, ya. Setelah ini kita makan siang bareng."


"Iya, Mas. Tadi seharusnya mending aku pulang naik taksi aja, Mas. Jadi engga merepotkan mas gini."


"Engga, aku engga repot sama sekali. Aku emang mau kamu sedikit demi sedikit tahu kesibukan aku. Biar nanti kalau kita nikah, kamunya tahu kalau aku lagi susah dihubungi berati lagi sibuk seperti ini," ujar Galang. Pria itu memang berbicara dengan Vina, tapi tidak menatap langsung ke arah wanita itu, melainkan ia terus menatap dokumen di hadapannya, sekaligus membubuhkan tanda tangannya.


Vina tak lagi bersuara saat Galang kembali membicarakan mengenai pernikahan lagi. Ia sebenarnya merasa malu dan minder dengan statusnya yang janda. Ia takut memperburuk citra baik Galang.


Galang mengangkat kepalanya saat Vina diam. Dia menatap calon istrinya yang menunduk seperti murid yang sedang di hukum oleh gurunya.


"Jangan terlalu banyak berpikir. Kamu harus selalu bahagia," kata Galang. Vina seketika mengangkat kepalanya, di saat yang berbarengan, ponsel Vina berdering. Dia tersenyum saat melihat nama kontak yang tertera di sana.


"Ya, Lex?"


"Aduh, sayang banget aku engga bisa."


"Kak Fahri ngajak aku liburan sekeluarga besar. Maaf, ya."


Vina mematikan ponselnya dengan raut wajah murung. Galang yang sejak tadi masih menatap Vina merasa keheranan.


"Ada apa?" tanya Galang penasaran.

__ADS_1


"Ehm, itu tadi Alex teman sekolahku dulu. Dia mengajak liburan bareng ke Jogja lagi."


"Laki-laki?" tanya Galang dengan nada bicara yang berubah datar.


"Iya, dia dan Riska mau kami puas-puasin liburan karena kemarin tidak sempat kemana-mana."


"Riska?"


"Iya, mereka berdua adalah sahabatku yang kemarin aku kunjungi di Jogja," kata Vina. Galang berdehem karena merasa bodoh sempat hampir cemburu pada sahabat Vina.


Galang kembali menekuki pekerjaannya dan tak lama dia menutup semua berkas-berkas itu dan membereskan mejanya. Ia merenggangkan tubuhnya sesaat lalu berdiri mendekati Vina.


"Ayo, aku sudah selesai. Kamu pasti sangat lapar."


"Ah, biasa aja, Mas."


Galang mengulurkan tangannya dan lalu saat Vina menyambutnya, Galang langsung menggenggam tangan Vina. Ia dan Vina akhirnya keluar ruangan. Monika dan Fredrik hanya mampu menatap kedua orang itu sambil terbengong.


"Mau makan apa?"


"Apa saja, Mas. Aku engga ada pantang makan apa-apa," kata Vina.


"Iya, Mas. boleh, aku juga sudah lama banget engga makan seafood." Galang menoleh sekilas dan tersenyum lembut.


Galang pun akhirnya mengarahkan mobilnya menuju tempat makan seafood langganannya.


Sesampainya di tempat itu, Galang turun terlebih dahulu. Ia memutari mobilnya dan lalu membukakan pintu untuk Vina. Vina tersenyum tipis dengan pipi yang merona merah.


Galang kembali menggandeng tangan Vina dan memasuki tempat makan seafood itu. Setelah memesan menu mix spesial dan kepiting saos padang. Galang duduk di samping Vina.


"Aku pesan banyak, jadi kita pesta seafood berdua, ya," kata Galang.


"Iya, Mas Galang tenang saja, kalau soal makan seafood aku kuat. Asal mas engga malu aja nanti sama tingkahku sewaktu makan."


"Aku malah penasaran."


Saat keduanya sedang asik mengobrol, datanglah 4 orang yang sangat tidak ingin Vina jumpai. Mereka berempat adalah Pras dan keluarganya.


Vina merasa bersyukur karena Bu Siti dan Asya bisa keluar dari penjara. Pras berhenti tepat di depan meja Galang dan juga Vina.

__ADS_1


"Vin ... kamu di sini juga?"


"Iya, kenapa? apa ada larangan untuk aku makan di sini?" tanya Vina. Pras menggeleng dan tersenyum lembut.


"Engga, bukan begitu maksudku. Aku hanya engga nyangka kita ketemu di sini."


"Oh," itu jawaban singkat yang keluar dari mulut Vina. Sedangkan Asha dan bu Siti menunduk tak ingin menatap Vina.


Pesanan Vina dan Galang telah tiba. Galang sejak tadi memilih tak menghiraukan keberadaan Pras. Dia takut emosinya tak akan bisa terkontrol mengingat jika yang ada di hadapannya adalah mantan suami calon istrinya.


"Buruan makan, Sayang. Sejak siang kamu belum makan," ujar Galang, Vina tersentak kaget mendapat panggilan sayang dari Galang. Namun, Vina tahu semua itu karena ada Pras di depan mereka.


"Aku ke sana dulu, ya, Vin." Pras pun segera pergi dari hadapan Vina. Sakit hatinya melihat mantan istrinya kini duduk dengan pria lain. Vina hanya mengangguk tanpa bersuara. Galang mengambil udang dan cumi, lalu meletakkannya di piring Vina.


"Terima kasih, Mas."


"Makanlah, selagi semuanya masih hangat."


"Kalau aku makan pakai tangan, mas Galang jijik tidak?"


"Engga, karena mas juga akan makan pakai tangan. Kalau pakai kaki engga akan bisa," ujar Galang sambil tertawa. Vina pun ikut tertawa mendengar candaan Galang.


"Vina mencuci tangannya, dia lantas mulai menikmati makan sorenya tanpa mempedulikan orang-orang yang duduk di sudut tempat itu sedang menatap ke arahnya dengan berbagai ekspresi.


Bu Siti menatap ke arah mantan menantunya dengan tatapan penuh kebencian. Gara-gara ia dipenjarakan Vina, kini dia harus pindah ke rumah kontrakan. Rumahnya dijual oleh Pras dan Bagas untuk menebus dirinya dan juga Asya.


Asya menatap Vina dengan tatapan yang sama dengan ibu mertuanya, tapi penuh dengan rasa iri.


Sementara Bagas menatap Vina biasa saja dan Pras yang paling terlihat nelangsa.


"Lihat Pras. Dia dengan mudah mencari penggantimu. Ibu sarankan kamu juga lakukan hal yang sama dengannya. Namun, carilah istri yang memiliki martabat dan juga gelar.


"Bu, jangan mulai lagi. Kita kemari untuk merayakan kebebasan ibu dan Asya. Jadi jangan merusak momen ini."


"Kita ini ga mungkin masuk penjara kalau tidak gara-gara dia, Mas," sahut Asya.


"Jika kalian tidak bisa diam, sebaiknya kita pulang," ujar Pras datar. Asya dan ibu Siti langsung terdiam.


Sementara itu, karena ruangan yang tidak luas, Vina dan Galang dapat mendengar semua pembicaraan satu keluarga itu, Galang sekilas melirik Vina. Namun, karena wanita itu tampak biasa saja dan tetap makan, Galang pun kembali melanjutkan menikmati hidangan laut itu.

__ADS_1


__ADS_2