
*****
Fadil berputar arah setelah mendapatkan ijin dari kakak Vina. Dia mengarahkan mobilnya ke stasiun kereta api. Dari info yang diberikan oleh kakak tertua Vina, kereta api menjadi sebuah transportasi yang sangat berkesan bagi adik perempuan satu-satunya itu. Karena terakhir sebelum kedua orang tua mereka meninggal Vina sempat merasakan naik transportasi itu bersama ayah dan bundanya.
"Kok putar ke sini?"
"Saya tidak mungkin memaksakan diri membawa mobil sampai jogja. Kata tuan Fahri, dia tidak mau anda kelelahan dalam perjalanan."
"Lalu kita akan naik apa, Mas Fadil?"
Fadil hanya menoleh sekilas dan tersenyum, tanpa sadar Vina mengerucutkan bibirnya karena kesal. Sepanjang perjalanan yang lumayan macet siang itu Vina membuang tatapannya ke arah jalanan. Ponsel Vina sejak tadi tidak berhenti bergetar. Sesekali wanita itu menarik napas kasar dan menghembuskannya dengan wajah gusar.
"Mas .... "
"Ya, ada apa, Nona?"
"Bagaimana perasaan mas Fadil sekarang?"
Fadil tampak berpikir sambil mengetukkan jarinya di kemudi. Dia sendiri tidak tahu bentuk perasaannya sekarang. Marah, kecewa, sedih namun hatinya juga merasa bersyukur. Ia merasa bersyukur karena ia belum jadi mengutarakan keinginannya untuk melamar Nilam Sari.
"Mas Fadil, aku nungguin jawabannya lho," ujar Vina tak sabaran.
"Saya tidak tahu, Nona. Karena hari ini perasaan saya sedang campur aduk. Antara Marah, kecewa dan sedih, tapi dari ketiganya itu, saya merasa sangat bersyukur. Saya belum melamarnya untuk hubungan yang lebih serius." Fadil sedikit menoleh mencoba melihat raut wajah nonanya.
"Ya, mas Fadil memang harus bersyukur, karena memang Tuhan masih baik menunjukkan siapa Nilam Sari sebelum kalian terikat hubungan serius. Tidak sepertiku yang sudah kepalang basah, terlena dengan hal-hal kecil yang dia lakukan padaku, tapi pada akhirnya dia juga yang menorehkan luka paling dalam di hatiku."
"Eh, bukan begitu maksudku... " ujar mas Fadil merasa tidak enak pada Vani.
"Huh, sudahlah, Mas. Memang nasibku saja yang kurang mujur. Terkadang aku selalu berpikir semua ini memang salahku. Andaikan dulu aku menuruti kemauan kak Fahri dan Kak Fauzi untuk kuliah di Australia mungkin aku tidak akan memiliki nasib seperti ini."
Fadil terdiam kalau mendengar keluh kesah Vina, namun tak lama dia tersenyum saat melihat Vina terbelalak menatap tulisan di depannya Stasiun Senen. Dia merasa ingin menebus kesedihan Vina saat melihat binar terang di mata wanita itu.
"Kita naik kereta, Mas?"
__ADS_1
"Iya, naik kereta. Ada apa? apa kamu merasa tidak nyaman?"
"Ti-tidak, ini melebihi ekspektasiku, Mas," ujar Vina seraya menggoyangkan lengan Fadil. Fadil melirik ujung jemari Vina yang bertengger di lengannya. Lalu dia ikut tersenyum saat melihat senyum nonanya.
"Mari kita turun, saya sudah memesan tiketnya, beruntung tidak bertepatan dengan hari libur. Jika tidak saya juga tidak bisa memastikan apakah masih bisa mendapatkan tiket atau tidak. Boleh saya pinjam KTP anda, Nona?"
"Panggil aja Vina, Mas. Kok kesannya kaku banget. Lagian aku suka kalau mas Fadil ngomongnya aku kamu, bukan saya anda. Kita jadi kaya orang asing."
Fadil hanya mengangguk saat Vina mengeluarkan KTP dari dalam dompetnya. Fadil membawa Vina di sebuah kursi tunggu sebelum dia meninggalkan wanita itu untuk mengurus tiket mereka. Setelah mendapatkan tiket, Fadil membeli dua botol air mineral dan menyerahkannya salah satunya pada Vina.
"Keretanya akan berangkat setengah jam lagi, apa kamu ingin membeli sesuatu?"
"Aku akan masuk ke toko itu sebentar, Mas Fadil tunggu di sini aja."
"Biar saya yang membelinya," kata Fadil.
"Aku, Mas. Aku, Mas Fadil," tekan Vina.
"Ok, aku yang akan belikan."
Mendengar ucapan Vina yang terakhir, Fadil akhirnya membiarkan wanita muda itu masuk ke sebuah mart yang memang tersedia di stasiun. Dalam waktu 10 menit, Vina sudah muncul dengan bawaan yang lumayan banyak. Untungnya Vina termasuk gadis yang supel. Dengan belanjaan yang banyak itu, dia juga membeli 2 kantong kain ramah lingkungan.
"Mas Fadil pegang satu dan yang satu ini biar aku yang bawa. Eh kita masuk ke kereta sekarang enggak apa-apa kan?"
"Iya, sebaiknya kita masuk. 10 menit lagi keretanya berangkat." Vina mengangguk dan mulai masuk ke kereta api. Sejak tadi jantungnya berdebar tak karuan karena hari ini ia akan kembali mengulang kenangan indah bersama kedua orangtuanya, hanya saja dengan situasi yang berbeda dan juga orang yang berbeda pula, tapi setidaknya dengan menaiki kereta hari ini, rasa rindu pada kedua orangtuanya sedikit terobati.
Vina mengusap tempat duduknya, ia mengulum senyum saat ingatannya terbang ketika dia bersama kedua orang tuanya. Ayahnya pernah menggoda dirinya dengan mengatakan Vina tidak bisa duduk di sebelah ayahnya karena ibunya pasti akan cemburu.
"Vina, rindu ayah," lirih Vina sendu.
Fadil diam menatap raut kesedihan Nona mudanya, ia masih berdiri di belakang Vina yang larut dengan kenangannya bersama kedua orang tuanya. Saat merasakan kereta mulai bergerak, tanpa sadar Fadil menahan bahu Vina agar wanita itu tidak jatuh limbung.
Vina tersentak kaget. Ia lantas duduk di sebelah jendela. Wajahnya yang tadinya murung kini tersenyum antusias. Fadil pun akhirnya ikut menaruh bokongnya di kursi penumpang. Kereta itu berjalan laju, Vina sangat menikmati perjalanannya tanpa banyak suara. Ia bahkan sesekali asik ber-selfie seolah tak memiliki beban masalah di hidupnya.
__ADS_1
Fadil sesekali melirik ke arah wanita muda itu, senyum tipis di sudut bibirnya tak begitu terlihat jelas, tapi dari sorot matanya terlihat ia kagum pada adik atasannya itu. Di saat semua keluarganya sedang memikirkan tentang perasaannya, tapi ia malah terlihat santai-santai saja.
"Mas, kalau mas dikasih kesempatan untuk mengulang waktu, Mas Fadil mau melakukan apa?" tanya Vina tiba-tiba membuyarkan pikiran Fadil tadi.
"Saya ingin menunjukkan bakti saya pada mendiang ayah saya," jawab Fadil, Vina mendesah lelah mendengar jawaban Fadil yang masih memakai kata saya. Pria itu seolah sedang menekankan batasan antara dirinya dan Vina.
"Suami bu Risma kan meninggalnya sudah lama sekali," kata Vina.
"Ya, ayah meninggal saat aku baru naik kelas 1 SMA. Aku sama sekali belum pernah menunjukkan baktiku pada beliau."
"Kalau begitu sekarang rajin berdoa saja biar menjadi anak yang berbakti."
"Iya.... "
Lagi-lagi suasana kembali hening. Lama kelamaan Vina merasa kantuk mulai menyerangnya, ia bersandar di jendela kaca kereta api dan mulai terpejam. Vina tidak lagi merasakan getaran dari kereta api yang masih melaju cepat itu. Fadil memperhatikan wajah Vina. Ia tak tahu seperti apa nona mudanya itu, karena ini baru kali pertama mereka sedekat ini, sebelumnya Fadil jarang sekali bertemu Vina meskipun ibunya sudah lama mengabdikan dirinya di rumah keluarga Adiatirta.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hari ini aku bawa satu karya baru dari temen sesama penulis namanya kak AdindaRa novelnya berjudul Gadis Scorpio
Cuplikan bab.
"Where is, Minerva Bee?" tanya Austin menyeruak kumpulan orang yang sedang mengelilingi Minerva.
"Here is Me." ucap Minerva membuat seorang Austin Wycliff terpana.
Gadis yang tadi ditabraknya ternyata yang mengalahkannya kali ini. Tidak hanya itu, Minerva juga akan makan malam gratis di cafenya selama satu minggu. Austin berjalan ke arah Minerva dan bertanya siapa dia sebenarnya. Karena selama ini Austin memang tidak terkalahkan.
"Who are you?" tanya Austin sambil menatap kedua netra Minerva.
"Bukankah kau lebih tahu siapa yang kini menjadi lawan mainmu?" tanya Minerva menantang Austin.
__ADS_1
Austin sedikit terkejut mendengar jawaban Minerva kali ini. "Baiklah, kau berhak makan malam gratis di cafeku selama satu minggu penuh. Dengan syarat kita akan tetap bermain selama itu. Kita lihat siapa yang lebih unggul di antara kita." ucap Austin sambil meninggalkan Minerva.