
*****
Galang POV
Setiap mama mengajak pergi ke Jogja pasti ada-ada saja yang dimintanya. Dia selalu mengharuskan Aku dan Enzo tinggal di rumah oma selama seminggu penuh.
"Mama engga mau tahu, kamu harus di sini selama seminggu."
"Tapi kerjaan Galang banyak, Mah."
"Kamu bisa kan minta si Patrik itu untuk menghandle semuanya?"
"Fedrik, Mah, bukan Patrik."
"Wes, siapapun namanya itu engga penting. Yang paling penting buat mama sekarang kamu harus ikut. Kalau engga Enzo bakalan mama ajak tinggal di rumah nininya."
"Ya, ya, ya, terserah mama saja."
Melihat senyum lain mama, Aku sudah tahu maksudnya. Dia pasti lagi-lagi akan menjodohkanku dengan anak dari kenalannya. Sudah sejak Enzo berusia 1 tahun mama selalu saja melakukan hal yang sia-sia. Aku sama sekali tidak berniat mempunyai istri. Pengalamanku dimanfaatkan oleh wanita yang sangat ku cintai beberapa tahun lalu membuatku mencoret daftar wanita dari hidupku. Aku bukan lah pria suci. Aku juga hanya pria normal seperti layaknya pria lainnya, tapi aku punya cara sendiri untuk menuntaskan hasratku.
Besok aku sudah akan kembali ke Jakart. Mama sejak tadi uring-uringan karena aku menolak bertemu dengan anak sahabatnya. Aku memutuskan mengikuti permintaan Enzo untuk pergi ke pasar menunggu oma jualan, dari pada mendengar omelan mama.
Siapa yang akan menyangka? pagi ini putraku justru malah bertemu dan terpesona dengan wanita muda yang menurutnya cantik sekali. Ya, aAu akui itu. Dia wanita yang cantik. Kulitnya putih langsat, rambutnya panjang dikuncir tinggi hingga leher jenjangnya tampak sangat menggoda. Tapi Aku malas untuk mengakui pada Enzo jika wanita itu memanglah cantik.
Enzo putraku terlihat sangat mengagumi wanita itu, dia bahkan mengamati gerak geriknya ketika wanita itu duduk dan menikmati jualan oma. Enzo ikut tersenyum saat wanita itu juga tersenyum pada nininya. Putraku seperti seorang pria yang sedang jatuh cinta.
Aku seperti melihat diriku pada Enzo ketika menyukai sesuatu. Enzo bahkan langsung melesak lari saat wanita itu meninggalkan stand nininya.
Tak ku duga, wanita itu ternyata lebih cantik dari dekat. Dia juga sangat ramah pada putraku. Ia bahkan menanggapi sikap manja yang dibuat-buat Enzo dengan sabar. Dia bahkan membela tingkah putraku yang mulai menyebalkan.
Saat akan berpisah dia menuliskan nomor ponselnya di tangan Enzo. Aku bisa menghapal nomor itu di luar kepala. Nomor yang dimilikinya seperti nomor yang dipesan khusus. Dia sepertinya juga bukan wanita sembarangan.
Enzo terus merengek sepanjang perjalanan meminjam nomor ponsel nininya, tapi ternyata oma tidak mau menuruti permintaan Enzo kali ini. Entah apa rencananya, karena sesampainya kami di rumah nini, ia langsung menceritakan tingkah Enzo. Tentu saja wanita yang melahirkanku itu tidak tega pada cucu pertamanya itu.
__ADS_1
"Mah, jangan selalu dituruti lah maunya Enzo."
"Biarin aja, sih, Lang. Kamu jangan perhitungan sama putramu sendiri."
"Huh, terserah mama. Susah banget dibilangin, dia nanti jadi anak manja, Mah."
"Mama yakin, Enzo itu seperti kamu, meskipun dimanja tapi tetap bisa dewasa. Cuma mama masih heran, sampai sekarang kamu engga ada mau kenalin perempuan ke mama, apa jangan-jangan kamu itu belok?"
"Galang normal, Mah. Normal," ujarku jengah. Ujung-ujungnya selalu tuduhan itu yang sampai di telingaku. Menyebalkan sekali.
"Kalau normal, buktiin dong. Bawa cewek kenalin ke mama."
Mama pun akhirnya mengeluarkan ponselnya dan mengetik nomor wanita itu. Enzo dan mama langsung tampak akrab pada wanita yang bernama Vina itu.
Mereka bahkan meminta gadis itu datang ke rumah ini. Enzo juga dengan mudah memasang wajah memelasnya. Suara tawanya renyah sekali.
Dan di sinilah sekarang kita. Duduk di ruang keluarga karena oma yang minta. Setelah menerima telepon tadi wajahnya sedikit muram. Apa yang membuat wanita semuda dia bercerai?
"Saya yatim piatu, Tante."
"Oh, maaf."
Wanita itu justru tersenyum saat melihat mama merasa bersalah. Wajahnya begitu tenang dan susah ditebak. Aku sendiri tidak tahu apa yang ada di dalam pikirannya.
"Kuliahnya selesainya masih lama?" tanya nini, entahlah kedua wanita beda generasi itu seakan kompak sekali mengintrogasi Vina. Aku juga tidak tahu sejauh mana Vina menceritakan kisah hidupnya pada oma.
"Sepertinya begitu, nek. Saya baru semester 2."
"Kenapa dulu memutuskan menikah? maaf ya, nenek banyak tanyanya. Oma terlihat rikuh tapi wanita itu lagi-lagi hanya menanggapinya dengan senyum tenang.
"Apa ya? mungkin karena saya merasa kesepian. Kedua kakak saya sudah menikah semua. Saya punya sahabat yang kebetulan juga mengambil kuliah di kota ini. Sehingga saya sering merasa kesepian, lalu saya dipertemukan dengan mantan suami saya. Mungkin karena usia saya masih labil dan mudah jatuh cinta makanya saya akhirnya memilih menikah dengan dia."
"Hemb, jawabannya terdengar terlalu diplomatis," batinku.
__ADS_1
"Lalu kenapa cerai?" tanya mama lagi-lagi penasaran. Vina sejenak melirik ke arahku, namun sebisanya Aku pura-pura beralih menatap Enzo yang sedang bermain hp di samping Vina. Aku tidak mau ketahuan sedang menatap ke arahnya lama-lama.
"Ehm, saya tidak bisa menjelaskan alasannya. Yang jelas saya mungkin kurang mengenal keluarganya. Jadi selama menjalani pernikahan saya merasa asing dan tidak pernah ada kecocokan."
Mama dan oma akhirnya diam setelah mendengar jawaban terakhir Vina. Mama menoleh ke arahku seakan memberi isyarat agar Aku turut beramah tamah padanya.
"Kuliah dimana?" tanyaku akhirnya, tak tahan juga lama-lama ditatap sedemikian tajam oleh mama.
"UT." Aku hanya menahan kekesalan dengan jawabannya yang sangat singkat itu. Kenapa tidak ada basa-basinya sama sekali.
"Oma, Nini, kakak Vina boleh menginap di sini engga? Enzo mau tidur ditemani kak Vina dong."
"Enzo, jangan seperti itu," ujarku. Enzo yang memang duduk di sebelah Vina langsung memeluk lengan gadis itu dan bersembunyi di balik lengannya.
"Enzo, kakak tidak bisa menginap di sini. Hari ini kakak ada janji. Tadinya siang ini, tapi karena Enzo juga mau ketemu kakak jadi kakak menunda pertemuan janji kakak."
"Yah, padahal Enzo pengen tahu rasanya tidur dipeluk mama."
"Enzo.... " tanpa sadar suaraku meninggi. Vina, wanita itu langsung melirikku dengan tatapan tajam dan seolah tangannya melindungi anakku.
"Bisa tidak jangan dibentak?" Duh, kenapa Aku jadi begini dan jantungku mengapa malah berdebar tak karuan. Tatapan matanya yang tadi sendu dan teduh berubah menjadi sedingin es.
"Iya, ih, kamu apa-apaan, sih, Lang. Mama sering bilang jangan dibentak. Enzo ini masih belum tahu apa-apa."
Di balik lengan Vina, Enzo tersenyum mengejek dan menjulurkan lidahnya padaku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Hai guys, jangan lupa mampir di karya rekomendasi milik teman literasi ku kak M. Anha judul karyanya Aku Juga Ingin Bahagia
Jangan lupa untuk selalu memberi dukungan berupa like, komen dan Gift.
__ADS_1