Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 44. Ketegasan Fahri


__ADS_3

****


Asya menatap jengah ke arah Bagas. Ia sangat kesal memiliki suami yang tidak bisa di andalkan. Di depannya Bagas terlihat sangat menyedihkan, lebih menyedihkan dari dirinya yang sejak kemarin ada di tahanan


"Udah lah, Mas pulang aja. Di sini juga engga ada gunanya," ujar Asya. Bagas yang sedang kalut mencari pinjaman untuk membebaskan istrinya itu mengangkat wajahnya.


"Maksud kamu?"


"Ck, Mas. Mas. Gitu aja engga paham. Mas pulang aja sana, di sini mas engga ada gunanya. Mending Mas pulang cari pinjaman ke tetangga atau siapa kek, biar aku bisa cepat bebas," ujar Asya.


Wajah Bagas semakin terlihat kelam. Ia bukannya tidak berusaha, tapi ia sudah berusaha dan belum berhasil. Namun, ternyata wanita yang sedang diperjuangkan kebebasannya malah mengatakan hal yang merendahkan harga dirinya. Bagas seketika langsung berdiri dan pergi begitu saja.


Asya yang semula tak acuh seketika kaget. Dia menatap punggung suaminya dengan perasaan heran. Tidak biasanya Bagas diam saja.


"Mas! hei, Mas!" seru Asya. Namun, Bagas telah menghilang. Asya langsung digiring kembali masuk ke sel.


Bagas segera datang ke Polsek yang berada tidak jauh dari tempat kerja Pras dan juga kedai Vina untuk melihat keadaan ibunya. Setibanya di sana Bagas melihat kakaknya berbicara dengan seorang pria tampan yang mungkin usianya tidak beda jauh dengan Pras.


"Mas." Bagas menepuk pundak Pras dan memandangi pria yang ada di hadapannya.


"Seharusnya dia juga aku jebloskan sama seperti ibumu," kata Fahri sambil menatap Bagas tajam. Saat melihat tatapan pria itu, Bagas seketika mengingat Vina.


"Mas, dia...?"

__ADS_1


"Bukankah sangat keterlaluan jika dia sampai tidak mengenaliku?" sarkas Fahri.


"Dia kakaknya Vina, Gas."


"Kenapa orang kaya seperti anda suka sekali mempersulit orang miskin seperti kami?" kata Bagas. Fahri terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Sungguh lucu sekali keluarga mantan iparnya itu. Fadil tetap diam berdiri di sebelah bosnya. Dia pun tak habis pikir ada keluarga yang seperti keluarganya Pras. Mereka yang memulai masalah tapi merasa sebagai korban.


"Drama apa lagi yang sedang kamu mainkan ini? Aku jadi kasihan pada Vina, selama setahun dia harus menghadapi orang-orang macam kalian. Kalian yang memulai, tapi kemudian kalian bersikap seolah kalian adalah korbannya."


Saat Bagas ingin menyahuti ucapan Fahri, Pras menepuk bahu adiknya dan menggeleng. Ia tak ingin semakin terlihat buruk di mata keluarga Vina. Bagas mendengus kesal. Ingin rasanya dia menghajar mulut pria di depannya itu.


"Ayo, Dil. Kita pulang," ujar Fahri pada Fadil. Pria itu hanya mengangguk dan mengikuti langkah kaki atasannya. Namun, baru beberapa langkah, Fahri kembali menoleh.


"Oh, ya. Jangan lupa datang ke persidangan perceraian kalian. Aku pastikan Vina tidak akan pernah kembali lagi padamu."


"Sudah lah, Mas, engga penting mikirin mereka. Sekarang gimana cara bebasin ibu?"


"Aku juga baru mau ngomong sama polisinya. Tadi kata polisi yang mas tanyain pertama, dia bilang kalau sampai masalah ini di perpanjang, ibu akan di vonis kurungan penjara paling lama 9 bulan."


"Kita harus cepet cari cara buat bebasin ibu, Mas. Kasihan," ujar Bagas.


"Kamu pikir aku juga tega lihat ibu di sana, Gas? Lagian kamu juga, mau-maunya diajak ibu melabrak Vina."


"Ya, ibu engga bilang kalau mau marah-marah sama Vina di sana," kata Bagas berkilah. Ia tak mau disalahkan oleh kakaknya.

__ADS_1


"Sekarang gimana, Mas? kasihan ibu, sel itu dingin, ibu bisa sakit."


"Kita coba tanya lagi sama polisinya, ayo!" Pras berjalan mendahului Bagas, untuk sekarang Bagas sudah lupa akan nasib istrinya. Yang ada dipikiran Bagas saat ini adalah kondisi ibunya.


"Selamat malam, Pak."


"Saya putra bu Siti yang tadi malam ditangkap. Apa boleh saya menemui beliau?"


"Mohon maaf, Mas, tapi ini bukan jam berkunjung."


"Tapi saya hanya mau memastikan kondisi ibu saya, Pak."


"Maaf, Mas, tapi ini sudah prosedur dari atasan. Silahkan besok anda kembali lagi."


Pras dan Bagas tampak kecewa. Namun, mereka juga bisa apa?


"Ya sudah, Mas. Kita balik dulu saja, besok kita kembali lagi," ujar Bagas. Pras mengangguk. Setelah berpamitan pada polisi jaga tadi, keduanya menaiki motor masing-masing dan lalu pulang ke rumah mereka.


Setibanya di rumah, masih ada beberapa tetangga yang nampaknya masih penasaran dengan alasan penangkapan bu Siti.


"Mas Pras, bu Siti bagaimana?"


"Belum, Bu Nia. Ibu masih belum bisa ditemui," ujar Pras sendu. Sedangkan Bagas memilih masuk rumah, ia malas meladeni ibu-ibu yang hanya kepo saja, bukannya bersimpati.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2