
*****
Beberapa waktu sebelum pertemuan
Enzo dan papanya sedang duduk di sebuah kursi yang tersedia di paving blok khusus pejalan kaki. Keduanya sedang bersantai sambil menunggu seseorang. Saat itu sebuah mobil Sedan mewah melewati mereka berdua. Keduanya sama-sama menoleh ke arah dimana mobil itu berhenti sampai mereka berdua melihat Vina turun dari mobil itu.
"Cantik, ya, Pa?" ucap Enzo, matanya bersinar penuh kekaguman saat menatap sosok Vina. Galang masih terpaku menatap sosok Vina, Galang mengira-ngira jika Vina adalah seorang gadis belia tapi ia memang mengakui penilaian putranya tidak pernah salah. Gadis di depannya itu memang cantik.
"Biasa saja," jawab Galang, dia tak mau mengakui apa yang putranya katakan. Bisa-bisa nanti dia akan dicomblangkan lagi oleh putranya itu.
"Ah, mata papa pasti sedang bermasalah. Jelas-jelas kakak itu cantik sekali."
Enzo Pratama, bocah berusia 5 tahun yang haus akan kasih sayang seorang ibu. Sejak kecil dia tidak mengenal siapa ibunya karena bocah itu tercipta dari proses inseminasi buatan yang pernah dilakukan Galang di sebuah negara adidaya. Keputusan itu berkaitan dengan masa lalu Galang yang kelam sehingga dia ingin memiliki keturunan tanpa harus berurusan dengan wanita.
Enzo berkulit putih, bermata sipit, iris matanya berwarna coklat terang, sedangkan rambutnya ikal. Tubuh Enzo terbilang cukup tegap dan tinggi untuk anak seusianya. Enzo besar dengan didikan oma dan nininya. Nini adalah panggilan Enzo untuk nenek buyutnya.
Mata Enzo tak lepas dari Vina, sampai ketika Vina duduk di stand jualan nininya, Enzo terus mengawasinya. Saat melihat senyum wanita itu, Enzo ikut tersenyum. Dia ingin berkenalan dengan wanita itu.
"Aku mau kenalan dengan kakak itu." Enzo berdiri dari duduknya dengan tergesa-gesa saat melihat Vina membayar minumnya.
__ADS_1
"Hei, hentikan niat burukmu itu, son."
"Kalau papa tidak bisa memberiku mama, aku akan cari sendiri mama untukku." Enzo segera berlari masuk ke dalam pasar, saat melihat Vina juga masuk ke dalamnya. Seakan tak mau kehilangan sosok wanita tadi, Enzo berlari dengan cepat. Bocah itu memang haus akan kasih sayang seorang ibu. Meskipun selama ini dia dibesarkan dengan kasih sayang penuh dari oma dan nininya, tapi Enzo belum pernah memiliki ibu.
BRUG!!
Karena tak memperhatikan langkahnya, Enzo justru malah menabrak Vina. Bocah itu tersenyum tipis saat mendapatkan buruannya.
Dan pada akhirnya perpisahan itu terjadi. Namun Enzo sama sekali tak kecewa. Dia berhasil mendapatkan nomor wanita yang dia harap bisa memberikan kasih sayang seorang ibu seperti yang selama ini dia impikan. Dia sudah tidak bisa berharap pada papanya. Dia akan mencari kebahagiaannya sendiri tanpa bantuan siapapun.
...***...
Saat Vina melewati stand es dawet milik nini Enzo ternyata mereka sudah tidak ada di sana. Vina sesaat tersenyum mengingat bocah itu. Dia jadi ingat Kendra, keponakannya. Sikap Enzo yang terang-terangan sama seperti Kendra.
Pak Asep dan Fadil mengambil alih beberapa paper bag dan juga kantong plastik yang berderet di kedua tangan Vina. Vina segera masuk mobil. Namun tak lama ponselnya bergetar di dalam tas. Vina melihat nomor tak dikenal menghubunginya. Ia ingat memberikan nomornya pada Enzo. Dia berpikir itu adalah Enzo.
"Halo," sapa Vina dengan lembut.
["Dasar, wanita ******, apa yang kamu lakukan, hah? gara-gara kamu Asya kehilangan pekerjaan."]
__ADS_1
"Atas dasar apa bu Siti menuduh saya? saya bahkan tidak tahu kalau Asya dipecat, tapi kalau itu benar-benar terjadi, berati hotel itu benar-benar menghargai tamu."
["Untung Pras sudah menceraikan kamu, kini kami tahu kebusukanmu."]
"Kemarin mas Pras bilang ibu merestui kami dan sekarang ibu bilang begitu. Keluarga kalian ini sungguh sangat istimewa sekali berubah-ubah pendirian. Padahal anaknya lulusan Sarjana."
["Tutup mulutmu, ingat Vina, aku akan buat perhitungan sama kamu. Karena gara-gara ulahmu, Asya kehilangan pekerjaan."]
"Kalau begitu saya tunggu." Vina segera mematikan ponselnya. Dia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Rasanya meskipun telah berpisah ada saja masalah yang dikait-kaitkan dengannya.
"Melelahkan sekali," gumam Vina. Fadil melirik adik atasannya itu dari spion. Ia merasa iba dengan kehidupan yang dijalani oleh Vina, adik dari atasannya itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sambil nunggu aku Up. Kalian bisa mampir di karya teman literasiku. Namanya kak Susanti 31. Judul karyanya Kembalinya Suamiku.
Ingat ya, jangan lupa untuk like komen dan beri hadiah. Pembaca yang bijak pasti meninggalkan jejak. like itu gratis
__ADS_1