
****
Setelah selesai makan, Galang mengajak Vina untuk segera pulang, Galang berdiri di samping Vina, sejak tadi tangannya terus berada di pinggang Vina tak berpindah tempat. Hal itu tentu saja membuat keempat orang tadi melotot.
"Lihat, Pras. Dia benar-benar wanita murahan. Kamu untung saja segera menceraikan dia."
"Apa, sih, Bu. Jangan katakan apa-apa lagi tentang Vina. Apa ibu mau di penjara lagi?"
Bu Siti langsung diam. Dia mendengus kesal. Asya seperti kehilangan selera makannya. Ia kini justru malah terbayang-bayang wajah pria yang bersama Vina tadi.
"Ibu dan Asya, ku mohon! jangan lagi mengusik Vina. Dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan keluarga ini," ujar Bagas kesal. Bagaimana tidak, dia baru tahu tentang keluarga Adiatirta kemarin setelah membuka aplikasi jendela dunia gluegel.
Ternyata almarhum ayah Vina masuk dalam deretan orang terkaya nomor 11 se-Asia dan Pras yang bodoh dengan mudah nya melepaskan putri semata wayang dari Saleh Adiatirta. Bodoh sekali.
"Kamu kok diam saja dari tadi, Gas?"
"Engga apa-apa," jawab Bagas singkat.
***
Vina dan Galang kini melewati suasana senja dengan berjalan-jalan di kota tua. Menjalin kedekatan untuk memahami satu sama lain. Meskipun sebenarnya, hanya dengan menatap Vina saja Galang bisa tahu sifat Vina yang cenderung sangat baik dan sopan.
"Mas, Dek." Vina dan Galang sama-sama memanggil. keduanya menoleh bersamaan lalu mereka tertawa.
"Kamu duluan, Dek," ujar Galang.
"Ehm, bisa tidak mas Galang jangan panggil aku Dek, rasanya seperti .... " Vina tak melanjutkan ucapannya. Ia merasa tak enak hati mengatakannya, tapi untuk terus dipanggil dengan panggilan yang biasa Pras berikan padanya. Rasanya sulit untuk diterima oleh Vina.
"Baiklah, kalau begitu aku ganti dengan Sayang aja gimana?"
"Ish, apa, sih, Mas." Vina menutup wajahnya karena malu, Galang justru terkekeh.
"Terus apa dong? masak mas cuma panggil kamu, Vina."
"Ya, untuk sementara pakai nama aja, Mas. Nanti setelah itu kita pikirkan lagi."
__ADS_1
"Setelah apa?"
"Setelah seiring berjalannya waktu, Mas," ujar Vina. Dia kembali berjalan menyusuri tepian. Saat Vina melihat seorang bocah yang menjajakan tisu. Vina memanggilnya.
"Kamu sendirian aja atau bareng temen-temen?" tanya Vina pada bocah yang mungkin berusia 7 atau 8 tahun.
"Sama temen kaya biasanya, Kak, tapi kami menyebar. Soalnya kalau bareng-bareng terus dagangan kami sering engga habis."
"Ya, sudah. Sekarang kamu hitung dagangan kamu dulu. Itu ada berapa, nanti kakak bayar semuanya. Terus kamu panggil teman-teman kamu yang biasanya sama kamu."
Bocah itu tampak berbinar, bibirnya mengukir senyuman lebar, tapi tak lama, senyuman itu sirna saat matanya yang jernih menatap seorang kakek renta yang sedang memungut sampah.
"Kak, apa bisa uangnya aku minta sekarang?" Vina mengangguk dan mengeluarkan beberapa lembar uang ratusan."
"I-ini kebanyakan, Kak. Aku cuma bawa tisu 30 tadi." Vina tersenyum melihat kepolosan bocah itu.
"Kamu bisa kasih sebagian untuk kakek tadi. Kamu kasihan kan sama dia?" tanya Vina. Bocah itu mengangguk dengan semangat dan lalu berlari mendekati kakek itu. Bocah itu menarik 2 lembar uang ratusan itu dan memberikannya pada kakek pemulung. Senyuman bocah itu semakin lebar saat dia menunjuk ke arah Vina.
Galang lagi-lagi dibuat terpesona oleh Vina. Sepertinya memang dia terbiasa berada di sana karena bocah itu sepertinya hapal sekali dengan Vina.
Mendengar hal itu, Vina hampir meneteskan air matanya karena terharu. Uang yang baginya tak seberapa tapi bagi sebagian orang sangatlah berharga.
"Oh iya, Kak. Ini uang kakak kelebihan banyak."
"Engga apa-apa. lebihnya buat kamu aja. Yang penting kamu hati-hati bawanya, ya."
"Iya, Kak. Terima kasih. Aku panggil teman-teman dulu, ya, Kak."
Vina mengangguk. Dia duduk di sebuah kursi sambil menunggu beberapa teman bocah tadi.
"Tisunya mau buat apa setelah ini?" tanya Galang.
"Nanti, aku kasih tahu, Mas. Penasaran banget, ya?" tanya Vina. Galang mengangguk. Namun, tak lama setelah itu, Bocah tadi sudah membawa 4 temannya. Ada yang berjualan Air kemasan botolan, ada yang jualan kue basah, ada juga yang jualan permen sekaligus tisu sama seperti bocah tadi.
"Deni, engga berat bawa botol sebanyak itu?"
__ADS_1
"Engga, Kak. Kan udah niat mau bantu ibu."
"Dagangannya punya Deni cuma ini apa masih ada yang lain."
"Ada yang lainnya kak, masih 1 karton."
"Ya, bawa sini. Nanti seperti biasa satu kantong diisi 1 botol minum sama makanan yang dijual Aji. Nanti Andi sama adiknya yang bagi-bagikan seperti biasanya, ya."
"Iya, Kak Vina. Terima kasih kak Vina selalu larisin dagangan kita," kata Andi. Vina mengangguk dan mengusap kepala bocah itu. Keempat bocah itu berbagi tugas, Vina membantu Aji dan Deni mengemas botol minuman dan beberapa kue yang dijual Aji. Sedangkan Galang membantu Andi dan Adiknya membagikan kantong-kantong plastik yang telah diisi oleh Vina.
Ini pengalaman pertama yang sangat mengesankan bagi Galang. Dia tak menyangka menemukan malaikat tak bersayap seperti Vina. Terlihat sekali Vina sangat peduli pada bocah-bocah itu.
Setelah semuanya dibagikan Vina menyodorkan sebotol air mineral pada Galang. Galang menerimanya sambil mengucapkan terima kasih.
Vina lalu membantu adik Andi menghitung dagangannya dan lalu membungkusnya dengan kantong seadanya.
"Kalian ingat pesan kakak 'kan?" tanya Vina keempat bocah itu pun mengangguk hampir berbarengan. Setelah keempatnya menyalami Vina dan Galang mereka pergi dengan senyum bahagia.
Vina dan Galang pun akhirnya juga memutuskan untuk pulang. Selama di perjalanan setiap ada lampu merah, Vina membuka kaca jendela mobil Galang untuk membagikan tisu-tisu yang dibelinya pada pengendara motor.
Galang tersenyum tipis melihat apa yang telah dilakukan calon istrinya. Saat ini keduanya sudah sampai di rumah Vina.
"Aku engga mampir, ya. Bisa-bisa nanti Enzo marah kalau aku mampir tanpa dia."
"Iya, engga apa-apa. Terima kasih untuk hari ini, Mas."
"Aku yang seharusnya mengatakan hal itu. Terima kasih kamu sudah mengajarkan sesuatu hal sederhana, tapi sangat bermakna sekali."
"Itu bukan apa-apa, Mas. Mereka juga berhak mendapat kebahagiaan. Karena terkadang, apa yang menurut kita kecil mungkin bagi sebagian orang itu adalah sesuatu hal yang besar. Kalau dengan memberi bisa membuat orang lain bahagia. Kenapa tidak kita lakukan?"
"Lain kali kita ajak Enzo, ya. Dia pasti senang kalau di ajak ke tempat tadi."
"Iya, Mas."
Galang langsung pulang karena dia sudah tidak sabar ingin bertemu putranya. Ia melaju dengan kecepatan sedang menuju ke kediamannya.
__ADS_1