Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
After Marriage


__ADS_3

Vina kini menjalani rutinitasnya sebagai ibu rumah tangga. Setiap pagi waktunya akan dia gunakan untuk mengurus Galang dan Enzo.


Tanpa terasa 2 bulan sudah Vina menjalani perannya sebagai seorang mama untuk Enzo, dia mengantar dan menunggui bocah itu di sekolah seperti cita-cita Enzo dulu. Vina sangat senang bertemu dengan orang-orang baru.


"Mamanya Enzo kok kelihatan pucat?"


"Tadi engga sempat dandan, Mah. Soalnya Enzo tadi maunya buru-buru karena mau latihan marching band," jawab Vina.


"Oh, begitu. Saya kira mama Enzo baru isi, soalnya kelihatan beda auranya."


Vina tidak menjawab, dia hanya tersenyum menanggapi ucapan ibu-ibu itu. Dia tidak mau kecewa lagi dengan praduga-praduga yang tidak mendasar.


Bulan lalu, Vina sempat terlambat datang bulan. Ia membeli beberapa testpack dan mencobanya, tapi hasilnya nihil. Tak lama kemudian dirinya menstruasi. Sekarang dia tidak mau terlalu berharap. Apalagi Galang sudah mengatakan jika dirinya tidak masalah jika Vina belum bisa hamil. Galang tidak mau banyak menuntut pada Vina.


Sepulang dari sekolah Enzo, Vina ke kediaman kakaknya untuk menitipkan bocah itu di sana, karena Enzo semalam meminta main di rumah Kemala.


"Kamu sakit, Vin? kok pucet banget?"


"Engga, Kak. Cuma kepalaku memang agak pusing. Setelah ini aku mau pulang."


"Jangan-jangan kamu hamil, Vin."


"Aku engga mau menduga-duga, Kak. Bulan kemarin aku juga telat menstruasi, tapi nyatanya engga hamil. Untungnya aku belum bilang apa-apa sama mas Galang."


"Ya kan siapa tahu, Vin."


"Mbak, aku aja nikah sama mas Pras selama setahun juga engga ngisi lho. Aku engga mau terlalu berharap."


"Ya kalau begitu buat jaga-jaga aja, kamu beli susu buat ibu hamil. Engga ada salahnya konsumsi susu yang tinggi asam folatnya."


"Iya, nanti pulang dari sini aku beli," jawab Vina.

__ADS_1


Vina pulang dari rumah kakaknya diantar supir. Ia mampir ke mini market untuk membeli apa yang kakak iparnya suruh.


Setibanya di rumah, Vina menyembunyikan susu itu di lemari dapur. Ia tak ingin membuat Galang nantinya terlalu berharap jika melihat ada susu hamil di sana.


Vina naik ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya. Kepalanya benar-benar terasa berdenyut. Tak berapa lama wanita itu pun terpejam.


Vina tertidur sangat lelap sampai-sampai tak tahu jika Galang sejak tadi berusaha menghubunginya. Karena Galang mencemaskan Vina, dia akhirnya segera pulang dan membawa sisa pekerjaannya di rumah.


Saat tiba di kamarnya, Galang melihat Vina yang meringkuk di atas kasur. Galang menyentuh kening Vina, karena khawatir jika Vina sakit.


Vina membuka mata dan melihat suaminya tersenyum sembari menatap dirinya.


"Mas, kok udah pulang? jam berapa ini?"


"Jam 3, Sayang. Kamu tumben jam segini tidur? apa kamu sakit?"


"Engga, Mas. Aku emang lagi pengen tidur aja."


"Di rumah kak Fahri. Kemarin pada janjian mau tidur di sana. Besok kan libur."


"Wah, berati mama, papa Enzo hari ini free, ya?"


"Free gimana?"


"Ya, Free buat honeymoon lagi."


"Ya ampun, Mas. Kamu itu ada-ada saja."


"Tapi kamu suka, kan, Vin?"


"Iya, suka," jawab Vina dengan wajah yang memerah.

__ADS_1


Galang lega, Vina ternyata baik-baik saja. Tadinya dia berpikir Vina sakit. Karena Vina tidak biasanya tidur siang.


"Aku mau mandi dulu, Mas. Udah sore aja perasaan. Padahal tadi aku kiranya masih siang."


"Memang kamu tidur dari jam berapa?"


"12, Mas."


"Kamu yakin engga apa-apa?" tanya Galang memastikan.


"Iya, Mas. Aku baik-baik saja."


"Ya sudah, katanya mau mandi atau mau aku mandiin?"


"Engga, ah. Nanti malah lama mandinya."


Galang terkekeh, Vina langsung masuk ke kamar mandi. Dia menyalakan kran Bathtub sebelum tiba-tiba muntah.


Setelah bangun dari tidurnya, kepala Vina terasa semakin tidak karuan. Berkali-kali dia mencoba mengeluarkan isi perutnya. Mata Vina memerah dia langsung membasuh wajahnya. Jangan sampai suaminya melihatnya begini, hingga khawatir dengan keadaannya.


Vina lantas mandi, dia memilih berendam dalam bathtub. Matanya kembali terpejam Vina merasakan tubuhnya sedikit lemas setelah muntah tadi dan tanpa disadari Vina pingsan dalam keadaan berendam.


Galang menunggu dengan cemas. Sudah setengah jam lebih istrinya berada di kamar mandi, tapi Vina tak kunjung keluar. Tidak biasanya Vina berlama-lama di dalam kamar mandi.


"Vin." Galang mengetuk pintu kamar mandi. Namun, tak ada sahutan dari dalam.


Galang membuka pintu kamar mandi. Dia terkejut saat melihat mata Vina terpejam di dalam bathtub. Galang segera mendekati Vina dan mengambil handuk, lalu Galang mengangkat tubuh Vina dari dalam bathtub.


Wajah Galang benar-benar panik. Dia meletakkan Vina di atas rajang. Galang mengambil baju Vina asal-asalan dan langsung memakaikannya ke tubuh Vina. Galang mengambil ponselnya dan menghubungi dokter keluarga Vina.


"Kamu kenapa sih, Vin. Kalau sakit kenapa engga bilang?" gumam Galang. Pria itu mengambil minyak angin dan mencoba membangunkan Vina dengan menaruh minyak angin itu di bawah hidung Vina.

__ADS_1


"Ayo bangun, Vin. Jangan bikin aku cemas gini."


__ADS_2