Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 34. Permintaan Enzo


__ADS_3

*****


Keesokan harinya, Vina mendapat pesan dari Galang untuk mengantar Enzo ke rumah sakit saja. Vina pun menyetujuinya, ia sudah bersiap, beberapa barang bawaannya Vina telah dirapikan oleh Fadil dan dimasukkan kedalam koper.


"Mobilnya sudah siap, Nona. Apa mau sarapan dulu? atau kita langsung ke rumah sakit?" tanya Fadil sambil sesekali melirik ke arah Enzo yang sejak tadi asyik memelintir ujung rambut Vina.


"Kita sarapan dulu saja. Kasihan Enzo nanti di rumah sakit."


Vina menatap Enzo sambil tersenyum. Enzo masih asyik dengan rambut Vina dan seolah tak mendengarkan apa yang sedang dibicarakan Vina dan Fadil. Padahal sejak tadi Enzo sedang menyusun rencana untuk menahan kakak cantik itu agar terus bersamanya. Enzo sangat menyukai Vina. Dia sudah berandai-andai jika seandainya kakak cantik itu nantinya akan menjadi ibu untuk nya. Sejak kemarin Enzo sudah cukup berusaha menjadi anak yang baik dan bisa menarik simpati kakak cantik yang baru dikenalnya sehari. Kelembutan Vina membuat Enzo memilihnya. Biasanya wanita yang dikenalkan omanya akan menempeli papanya tanpa mempedulikan Enzo, tapi kakak yang ada di hadapannya ini lain. Dia bahkan tidak mempedulikan papanya dan lebih peduli pada Enzo.


"Enzo mau makan apa?" tanya Vina. Dia mendudukkan Enzo di sofa tunggal.


"Enzo makan sandwich boleh?"


"Kalau Enzo janji memakannya sampai habis, boleh."


"Enzo mau sandwich."


Vina tersenyum lalu berdiri di deretan stand prasmanan untuk sarapan para tamu hotel. Vina pun mengambil sandwich untuk Enzo dan dirinya. Fadil pergi entah kemana. Dia bilang ada keperluan sebentar dan lalu meninggalkan Vina.


Sembari makan, Enzo bercerita tentang sekolahnya. Dia pulang pergi selalu dijemput omanya. Jika tidak, hanya supir saja yang menjemputnya. Enzo menceritakan jika ia selalu kesepian di rumah. Meskipun ada oma nya Enzo selalu dibiarkan dengan mbak pengasuhnya. Papanya sering pulang larut malam sehingga Enzo jarang sekali bertemu.


Pukul 8 lebih Vina tiba di rumah sakit, dia mengantar Enzo hingga ke depan pintu perawatan bu Laras. Galang menyambut kedatangan putranya dengan senyum yang mengembang di bibirnya. Namun binar mata Enzo mengatakan hal lain. Bocah itu tampak lesu dan sedih.


"Enzo, kakak pulang dulu, ya. Nanti kalau Enzo sudah di Jakarta, Enzo boleh hubungi kakak lagi," ujar Vina. Enzo tetap diam sambil bergelayut di leher Vina.

__ADS_1


"Enzo, ayo sini. Oma nungguin," kata Galang, tapi Enzo menggeleng bahkan air matanya sudah menetes.


"Kakak, kakak jangan pulang, ya. Enzo mau kakak di sini. Enzo mau punya mama seperti kakak. Enzo janji bakal rajin belajar, bakal jadi anak baik."


Vina terkejut mendengar permintaan Enzo yang terdengar tulus itu, tapi menjadi mama Enzo itu artinya dia harus menikah dengan Galang si pria dingin dan galak itu. Membayangkannya saja Vina merasa ngeri.


"Ehm, Enzo. Lain kali kita bicarakan lagi, ya. Kakak sudah hampir terlambat untuk chek in pesawat." Vina menurunkan Enzo, bocah itu tetap diam dengan tatapan memohon. Vina tidak tahu lagi harus apa. Ini permintaan yang terlalu sulit untuk dikabulkan olehnya.


"Kakak pergi dulu, ya. Enzo baik-baik jagain oma. Nanti kalau sudah ke Jakarta kita ketemuan lagi." Vina hanya sedikit mengangguk untuk berpamitan dengan Galang. Vina langsung pergi tanpa menoleh lagi. Ia takut hatinya melemah setelah melihat sorot mata Enzo.


Galang menatap punggung Vina yang mulai hilang dibalik pintu. Ia merasa tak diacuhkan oleh Vina. Ia kini malah jadi penasaran dengan sosok yang telah menyia-nyiakan wanita sepertinya.


"Papa, Kakak Vina sudah pergi, kenapa terus melihat ke sana?" tanya Enzo sambil menggosok matanya yang sembab.


"Kamu itu kenapa jadi cengeng, sih?" tanya Galang kesal. Tak biasanya Enzo berulah seperti ini, meskipun tak jarang bocah itu memang sering menanyakan kemana ibunya, tapi tak pernah sekalipun Enzo menangis. Baru kali ini dia melihat putranya bersedih.


"Bagaimana aktingku, Pa? bagus kan? aku yakin kakak itu besok-besok pasti akan jadi mamaku." Galang terbengong dengan ucapan Enzo, anaknya memang tergolong bocah Superior, memiliki kecerdasan di atas rata-rata.


"Jangan terlalu senang, bisa jadi dia hanya kasihan padamu."


"Kalau cuma kasihan, kakak itu tidak akan tidur sambil memelukku semalaman," sangkal Enzo. Galang dibuat tak percaya dengan penuturan anaknya itu, mana mungkin?


"Sudah-sudah, ayo masuk. Oma sudah menunggu." Galang menggiring putranya masuk ke ruang VIP yang ditempati ibunya.


"Sayang, kamu sama siapa kemari?" tanya mama Laras pada cucunya.

__ADS_1


"Kakak cantik, semalam Enzo juga tidur dipeluk kakak cantik. Baju Enzo ini juga pemberian kakak cantik. Enzo ganteng kan, Oma?"


Mama Galang itu, sesaat melirik reaksi putranya, ia tahu, putranya pasti senang melihat Enzo bahagia dan benar saja. Ia melihat senyum tipis di bibir putranya. Bu Laras berharap kelak Vina bisa memenuhi harapannya dan mungkin juga harapan Enzo.


"Iya, cucu oma selalu ganteng."


"Ayo, oma buruan sehat dong, nanti kita ketemu kakak cantik lagi. Aku mau minta dia jadi mamaku."


"Ini oma juga sebetulnya sudah sembuh, Sayang. Papa kamu saja yang berlebihan."


"Ini semua juga demi kebaikan mama, lho," ujar Galang.


...***...


Dalam perjalanan ke bandara Vina terus melamun menatap jalan. Dia merasa iba pada Enzo, bocah sekecil itu tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Sedang dia yang selalu berlimpah kasih sayang saja, kini merasakan kekosongan di hatinya. Apalagi Enzo yang sejak lahir mungkin tak pernah mendapat sentuhan kasih sayang seorang ibu.


"Kita sampai, Nona." Fadil menoleh kebelakang karena sejak tadi ia melihat adik atasannya itu terus melamun setelah mengantar bocah tadi.


"Oh, iya. Tolong kamu urus chek in nya, ya, Mas. Aku mau beli air mineral di sana."


Fadil pun mengangguk. Memang tugasnya untuk selalu memastikan apa yang Vina perlukan. Setelah ini dia akan kembali sibuk di perusahaan. Sudah lama ia absen dari kantor. Pasti kerjaannya nanti akan menumpuk.


Pesawat kini sudah landing di bandara Halim Perdana Kusuma, Vina sudah di jemput supir kak Fahri. Barang bawaannya sudah dimasukkan ke dalam mobil oleh Fadil. Setelah memastikan Vina masuk ke dalam mobil, Fadil menghentikan taksi dan pergi ke kantor. Tadi dirinya sudah berkabar pada atasannya.


Vina menatap ke luar jendela mobil, sepanjang perjalanan, Vina terus terngiang-ngiang dengan permintaan Enzo. Vina menghembuskan napas panjang saat mobil yang membawanya tiba di depan rumah milik mendiang orangtuanya.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Like komen dan vote kalian adalah sesuatu yang berharga bagiku. Jadi jangan pelit, ya 🥰😘😘


__ADS_2