Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 28. Curhat Pras


__ADS_3

*****


Di Jakarta


Pagi itu, Pras sudah sampai di tempat kerja dia bekerja di sebuah kantor Akuntan yang cukup bonafit dan terkenal. Ia baru saja sampai saat ponselnya mendapat satu pesan dari Asya.


"Ada apa pagi-pagi begini sudah mengirimiku pesan?" gerutu Pras, tetapi tangannya tetap menggulir layar ponselnya. Asya mengiriminya satu foto dimana Vina sedang menengadah menatap seorang pria. Ya, pria yang tempo hari dilihat oleh Pras. Pras sama sekali tidak terkejut karena memang pernah bertemu. Hanya saja, rasa penasaran pria itu semakin menjadi.


Coba tebak, ada di mana mereka sekarang?


Sebuah pesan kembali masuk dari Asya, kali ini Pras pun mencoba berpikir, memang di mana mereka sekarang? Namun mengingat Asya bekerja di hotel pastilah foto itu diambil di tempat kerja Asya.


"Hotel?" desis Pras, hatinya kini berdenyut nyeri. Segampang itukah Vina mencari pengganti dirinya?


Pras tidak menanggapi pesan Asya. Terlalu sakit untuk terus memikirkan mantan istrinya itu. Di saat akta cerai mereka belum keluar, Vina malah sudah sering kedapatan bersama pria itu. Meskipun sebenarnya Pras mengakui sifat mata keranjangnya tapi dia belum pernah sama sekali terlibat affair dengan wanita lain. Baginya saling menggoda dengan lawan jenis itu hal yang wajar dan lumrah apalagi dirinya seorang pria.


"Tega banget kamu, Vin. Apa ini salah satu alasan kamu mau pisah sama aku?" lirih Pras. Sejak mendapat pesan dari Asya, Pras jadi tidak fokus bekerja. Pikirannya terus kemana-mana. Beberapa pikiran kotor sempat sejenak mampir di kepalanya, tapi Pras menggelengkan kepalanya. Ia yakin Vina bukan wanita murahan. Pasti mereka hanya teman atau rekan saja. Ya, pasti begitu.

__ADS_1


Siang harinya Pras mendapat telepon dari ibunya. Wanita yang telah melahirkannya itu mengadu sambil menangis. Ternyata iparnya telah dipecat dari tempat kerja. Namun Pras bingung karena ibunya menyangkutpautkan masalah pemecatan Asya dengan Vina. Ibunya terus berujar jika semua ini salah Vina.


Pras mengurut pelipisnya yang terasa berdenyut. Sepertinya masalahnya tak kunjung selesai. Ada saja hal yang di permasalahkan ibunya tentang mantan istrinya itu.


"Mas Pras, kok kayaknya mas kelihatan tertekan banget."


"Eh, engga apa-apa kok, Din," kata Pras tersenyum. Dini teman kantor Pras pun akhirnya malah duduk setelah mendengar jawaban Pras.


"Biasanya, ya Mas, kalau orang bilang engga apa-apa itu, orang justru malah kebalikannya, lho," kata Dini, wanita itu tersenyum lembut pada Pras. Tak dapat dibohongi sejak menjadi karyawan di tempat itu, Dini sudah menaruh perasaan pada Pras, tapi laki-laki itu tidak peka. Kini desas desus Pras yang sudah menceraikan istrinya membuat Dini kembali mendekati Pras.


"Ah, kamu ngerti aja," jawab Pras tersenyum canggung. Tidak biasanya Dini berbicara dengannya sedekat ini.


"Jadi sebenarnya, Mas Pras masih sayang sama Vina? maaf ya, Mas aku manggil nama istrinya tanpa embel-embel, secara kan dia masih sangat muda banget," kata Dini sambil tertawa meskipun hatinya terasa perih saat melontarkan pertanyaan itu.


"Iya, engga apa-apa. Jujur saja aku masih sayang."


"Ehm, masih sayang, ya? tapi kan ibu mas Pras sepertinya tidak terlalu suka dengan Vina. Apa tidak sebaiknya mas Pras move on cari pengganti Vina sesuai dengan apa yang ibunya mas Pras mau."

__ADS_1


"Engga semudah itu," ujar Pras menghela napas panjang. Dini mengerucutkan bibir. Dia tak suka melihat wajah Pras yang kuyu seperti ini.


"Gimana kalau nanti sepulang kerja kita pergi jalan-jalan ke mall? aku bukannya gimana-gimana, ya, Mas. Aku cuma pengen mas Pras sedikit menenangkan hati dan pikirannya agar ga sumpek. Siapa tahu dengan begitu nanti ada ide mengalir." Dini tersenyum malu-malu mengusulkan hal itu. Ini salah satu bentuk usahanya untuk mendekati Pras.


Pras tampak berpikir, lalu dia menatap Dini dari ujung atas hingga bawah. Dini adalah perempuan cantik berusia 27 tahun, usianya kurang lebih hampir sama seumuran dengan Asya. Dini selalu berpenampilan modis, ia memakai atasan yang selalu tertutup blazer dan rok ketat di atas lutut. Rambutnya lurus berwarna coklat tua. Ia juga selalu mengenakan sepatu hak tinggi.


"Boleh.... " kata Pras.


Senyum Dini merekah, usaha pertamanya untuk meraih simpatik Pras akan terwujud. Dia percaya kali ini dengan usahanya yang gigih dia yakin bisa mendapatkan pria yang disukainya itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Yuk guys, sambil nunggu, biar ga galau. Aku punya satu karya nih dari sohib literasiku yang paling keche badai


Judul karya : Terjerat Gairah Sang Pelakor


nama Pena : R Angela

__ADS_1


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak cinta kalian. Ingat bacaan ini gratis. Tapi sebagai gantinya kalian setidaknya berikan like komen dan gift kalian.



__ADS_2