
****
Galang naik ke kamarnya untuk berganti pakaian yang lebih santai. Dia juga berniat mandi sebelum turun kebawah. Kemarahan masih terlihat jelas di matanya. Entah kenapa Galang sangat tidak suka melihat hal tadi. Bukankah keluarga mantan suami Vina sangat keterlaluan? Memang apa salah wanita itu, sampai-sampai harus dipermalukan di depan umum seperti itu.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian, Galang berniat keluar kamar. Dia ingin melihat apa yang sedang Enzo lakukan bersama kakak cantiknya. Namun baru juga membuka pintu, Galang sudah dikejutkan dengan keberadaan Vina. Keduanya saling beradu pandang, Mata Vina masih membekas sembab, namun tak mengurangi kecantikannya.
"Terima kasih karena tadi sudah membantuku," ujar Vina.
"Ya," jawab Galang singkat tanpa basa-basi. Dia sedikit merutuki kebodohannya. Sekarang keduanya berdiri canggung saling membuang tatapan.
Enzo membuka pintu kamarnya, dia sejak tadi menunggu Vina masuk ke kamarnya. "Kakak, kenapa tidak masuk?"
"Kakak bingung mau masuk." Mendengar jawaban kakak cantiknya, Enzo merasa janggal. Dia menatap penuh selidik ke arah papanya dan juga Vina.
"Kenapa bingung? pintu kamar papa dan pintu kamar Enzo kan beda. Enzo tadi bilang, pintu Enzo yang warna biru, Kak."
Dengan wajah yang telah bersemu merah Vina tersenyum canggung. Sebenarnya ia ingat apa yang Enzo katakan hanya saja, saat ia akan menyentuh gagang pintu Enzo, pintu kamar Galang terbuka. Jadilah dia bertahan di sana untuk berterima kasih. Galang tersenyum tipis. Ternyata wanita itu bisa salah tingkah juga.
"Ayo, Kak. Kakak harus terbiasa di kamarku. Kan tadi di depan kedai, kata papa, kakak ini calon mamaku." Enzo langsung menatap Galang dan kembali berkata. "Ya, kan, Pah?"
"Enzo!!" Galang sudah melotot, namun Vina menggeleng.
"Jangan seperti itu, Enzo masih kecil," kata Vina. Di belakang Vina Enzo menjulurkan lidahnya pada Galang.
"Biar aku saja yang bicara sama Enzo."
__ADS_1
"Mama Vina mau bicara apa? Apa Enzo boleh panggil kakak, Mama?"
Ah, mata itu, rasanya mau menolak pun Vina jadi tak tega. Enzo menatap sambil memasang wajah paling menggemaskan. Vina harus menarik napas panjang agar jangan sampai terbawa, tapi untuk berkata tidak pun Vina tidak sanggup. Akhirnya Vina hanya bisa mengangguk dan membiarkan Enzo memanggilnya mama.
Enzo melonjak kegirangan, ia langsung menarik Vina masuk ke dalam kamarnya. Ia bergelayut di lengan Vina dengan senyuman yang lebar.
"Sesimpel inikah kebahagiaan yang kamu rasakan, Enzo. Kakak janji, Kakak akan memberikan kasih sayang yang selama ini Enzo inginkan," batin Vina.
Vina duduk di tepi ranjang Enzo, ia kini sedang mengamati segala tingkah laku Enzo. Bocah itu sepertinya sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Tanpa sadar Vina menyunggingkan senyumnya.
"Kenapa mama, tersenyum?" tanya Enzo dengan alis yang bertaut.
"Eh, kenapa, ya? Mungkin karena kakak, eh ... mama senang. Akhirnya sekarang mama punya anak sehebat Enzo," kata Vina. Ucapan itu bukan sebuah bualan semata. Vina memang sangat menyukai Enzo bahkan sejak pertama pertemuan mereka.
"Enzo juga sangat senang, akhirnya Enzo bisa ceritain sama temen-temen Enzo. Kalau sekarang Enzo punya mama." Vina yang semula tersenyum kini tertegun menatap Enzo. Wajah polos dan bahagia itu, kini justru membuat Vina terharu. Air mata Vina kembali menetes. Bersama Enzo dia merasa keberadaannya sangat berarti.
Vina langsung memeluk Enzo dan semakin menangis sesenggukan. "Terima kasih, Sayang. Terima kasih," lirih Vina.
Meskipun Enzo tak mengerti dengan maksud ucapan terima kasih yang Vina katakan, tapi pelukannya di perut Vina semakin erat. Galang yang masih berdiri di depan pintu, mengusap sudut matanya. Pria itu bahkan tidak pernah menangis saat dikecewakan mantannya dulu, tapi kini sekarang ia ikut meneteskan air mata karena kebahagiaan yang baru saja dirasakan oleh putranya.
Galang akhirnya memilih pergi menemui mamanya dan membiarkan Vina bersama Enzo menghabiskan waktu seharian ini. Galang mengetuk pintu kamar mamanya. Saat mendengar suara mamanya mengijinkan dirinya masuk, Galang mendorong pintu kamar mama Laras perlahan.
"Mah, Galang mau ngomong."
"Ya, udah ngomong aja. Mama dengerin, kok," ujar mama Laras. Ia duduk di sofa, tadinya mama Laras ingin menemani Vina dan Enzo. Tapi melihat Enzo begitu melekat dengan Vina, mama Laras ingin memberikan waktu pada Vina dan Enzo untuk mengenal lebih dekat lagi.
__ADS_1
Galang diam sejenak dan tampak berpikir. Dia seakan sedang memilah kata yang tepat untuk dikatakan pada mamanya. "Mah, kalau Galang menikah, apa mama akan senang?" tanya Galang.
"Kenapa masih bertanya? itu justru yang selama ini mama dan oma kamu tunggu. Bahkan mungkin juga Enzo sangat menginginkan kamu menikah. Cobalah bersahabat dengan masa lalumu, Lang. Mungkin dulu kamu dihianati kekasihmu, karena dia memang bukan jodohmu, dan Allah sedang mempersiapkan yang terbaik untuk menjadi pasanganmu."
"Ya, mah. Galang bukannya trauma atau apapun, Galang hanya merasa malas saja. Galang pikir semua perempuan itu sama saja. Mereka selalu memandang pria dari harta."
"Secara engga langsung berati Mama dan oma juga termasuk seperti itu?" mama Laras memasang wajah kesal, tapi galang buru-buru mengoreksi kalimatnya.
"Engga, engga ... mama dan oma engga termasuk. Soalnya aku udah mengenal baik kalian," ujar Galang.
"Nah, dari kata-kata kamu barusan, mama bisa menarik kesimpulan, bahwa kamu menyamaratakan semua perempuan begitu karena kamu tidak mau mengenal mereka dengan baik. Contohnya Vina. Pasti pertama lihat dia, kamu pikir dia adalah seorang gadis, kan? tubuhnya kecil, wajahnya imut, bibirnya merah alami." Tanpa sadar Galang mengangguk.
"Tapi setelah kenal dia, gimana?" tanya mama Laras, ekspresi mama Laras sudah lebih santai dari pada tadi.
"Dia janda, padahal usianya masih sangat muda."
"Di sini kamu tahu kan pentingnya mengenal secara langsung? Kamu jadi tahu siapa Vina. Saran mama buat kamu, cukup maju satu langkah untuk mengenal dulu, calon pasanganmu. Ya, keluarganya, ya, pribadinya apapun itu. Jika memang setelah itu tidak ada kecocokan, berati dia bukan jodoh kamu. Kamu bisa coba cari yang lain. Jangan hanya karena satu wanita lalu kemudian kamu sama ratakan. Apalagi kamu punya Enzo yang memerlukan kasih sayang seorang ibu. Jangan tambah penderitaan dia karena ego kamu. Kamu tidak mau mengenal wanita tapi psikis anak kamu, kamu korbankan."
Galang menunduk mendengar penuturan mamanya. Ya, ia akui ia salah. Bahkan hadirnya Enzo pun juga buah dari keegoisannya sendiri. Harusnya dia bisa lebih mementingkan perasaan putranya dari pada perasaannya sendiri.
"Gimana? masih mau dengerin apa saran mama?"
"Iya, mah. Galang akan coba."
"Meskipun janda, Vina sepertinya pribadi yang baik. Ia sayang sama cucu oma. Vina mungkin hanya kurang beruntung kemarin berumah tangga dengan orang yang salah."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...