Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Bab 43. Kebahagiaan Galang


__ADS_3

****


Enzo dan Galang pulang ke rumah. Meski dengan wajah cemberut Enzo akhirnya berhasil dibawa pulang oleh Galang. Galang tersenyum. Pria yang beberapa hari lalu masih terlihat datar dan dingin kini menjelma menjadi sosok yang murah senyum.!e


"Sabar, besok papa akan bawa kamu ke sana lagi," bujuk Galang, Enzo melirik papanya sebal.


"Padahal tadi mama udah kasih ijin nginep, papa malah sok-sokan maksa aku pulang. Gini 'kan jadinya, mama jadi ikutan bujuk aku pulang."


"Papa engga enak sama om Fahri dan om Fauzi. Enzo kan belum jadi anaknya mama."


"Tapi mereka mau kok menerima Enzo. Papa aja yang berlebihan." Enzo berlalu meninggalkan Galang. Galang dibuat geleng kepala dengan jawaban putranya. Ia menggaruk pelipisnya karena tak tahu lagi apa yang harus dikatakan pada Enzo.


Galang mengetuk pintu kamar ibunya. Ia ingin memberitahu mamanya tentang apa yang tadi terjadi di rumah Vina. Galang seperti menemukan kehidupan baru setelah mengenal Vina dan keluarganya.


"Mah, udah tidur?" panggil Galang.


"Belum, Lang. Masuk aja."


Galang mendorong pintu kamarnya, ia menatap ibunya sambil tersenyum, Mama Laras dibuat takjub dengan pemandangan itu. Baru kali ini putranya yang tampan terlihat lebih manusiawi.


"Sepertinya ada yang spesial hari ini," kata Mama Laras. Senyum Galang masih bertahan. Dia mendekati mama Laras dan mengecup puncak kepala mamanya.


"Hmm, ya."


"Pasti ada hubungannya sama Vina, iya, kan?" tebak mama Laras, Galang mengangguk.


"Cerita dong, Lang. Jangan bikin mama penasaran," kata mama Laras.


"Jadi gini .... "


Flashback


"Dek Vina gimana? mau jadi istri saya?"

__ADS_1


"Apa ini sebuah lamaran?"


"Ya, aku hanya memastikan dulu. Jika kamu mau mengenalku lebih jauh, nanti aku akan melamar kamu selesai kamu menjalani masa iddah-mu dulu."


"Gimana, Vin?" tanya Fahri.


"Harus sekarang, ya, jawabnya?"


Galang mengangguk begitu juga kakaknya. Vina sesekali mengangkat kepalanya dan kembali menunduk menatap Enzo. Entah apa yang jadi pertimbangan calon janda muda itu, tapi dengan perlahan kepalanya mengangguk.


"Mau, Vin?" tanya Fahri lagi.


"Iya," jawab Vina lirih. Entah karena jawaban Vina, atau karena memang sejak awal Galang memang tertarik pada gadis itu. Galang tersenyum lebar untuk yang pertama kalinya.


"Tapi, engga apa-apa, kan kalau nunggu masa iddah?" tanya Vina polos.


"Engga, engga apa-apa. Kita kan juga perlu saling mengenal, Dek." Geli sekali Galang dengan panggilannya untuk Vina. Tapi melihat rona merah di pipi Vina. Galang semakin suka.


Flashback end


"Iya, dia mau."


"Alhamdulillah, mama ikut senang mendengarnya. Kamu harus benar-benar belajar menerima masa lalu kamu dan harus berani menghadapi masa depanmu. Jangan malah bersembunyi."


"Iya, Ma. Keluarga mereka juga baik semua. Mereka memperlakukan Enzo sama seperti mereka memperlakukan keluarganya sendiri. Tadi aja Enzo sampai ngambek gara-gara aku ajak pulang."


"Mama jadi pengen kenal juga."


"Sabar, ya, Mah. Nanti ada waktunya untuk mama kenalan sama keluarga mereka. Sementara begini dulu saja."


"Ya, begini juga sudah bagus, Lang."


"Ya sudah, mama istirahat, ya. Galang mau mandi dulu."

__ADS_1


Galang keluar dari kamar mamanya. Mama Laras menatap pintu yang tertutup dengan senyum bahagia. Akhirnya putranya menemukan kebahagiaannya. Sudah lama mama Laras tidak melihat senyum lebar Galang tadi.


"Semoga, Vina jodoh yang tepat untuk kamu, Lang. Dari pertama mama lihat dia adalah wanita yang baik dan penuh perhatian. Kamu perlu sosok seperti Vina. Mama yakin dia akan membawa banyak perubahan untuk kamu."


...***...


"Kak Fahri mau kemana?"


"Kantor polisi," jawab Fahri singkat.


"Harus begitu, ya, Kak? Vina engga apa-apa kok."


"Jadi orang baik itu memang sudah keharusan kita, Vin, tapi kamu juga harus bisa bedakan, mana orang yang perlu di beri hati dan mana yang tidak."


Vina hanya diam, tak berani lagi menyangkal ucapan kakaknya. Dia harusnya lebih banyak bersyukur kedua kakaknya memperlakukan dia dengan baik. Mereka tidak berubah walau sudah memiliki keluarga masing-masing. Mereka tetap menganggap dirinya seorang adik yang perlu diberi perhatian.


"Kakak, berangkat dulu." Fahri mengecup kening adiknya. Dia segera pergi dengan Fadil. Fadil sekilas mencuri pandangan ke arah Vina.


Vina menghela napas panjang, Rita yang berdiri di sampingnya menepuk bahu Vina dengan lembut. "Sudah, percaya saja. Kakak kamu itu mengatasi sesuatu pasti dengan pertimbangan yang panjang. Lagipula ini juga sebagian bentuk tanggungjawabnya pada kedua orangtua kalian, jika sebagai kakak tertua kamu, Mas Fahri bisa menjagamu dengan baik."


"Iya, aku hanya kepikiran saja. Bagaimana kalau keluarga mereka semakin membenciku?"


"Sudah, biarkan saja. Biarkan mereka hancur sendiri dengan kebenciannya. Yang penting sekarang, kamu pikirin itu calon jodoh kamu. Aku bisa lihat dia itu laki-laki yang perhatian. Kakunya dia itu mungkin karena dia pernah mengalami trauma di masa lalunya," ujar Rita, Vina langsung menoleh.


"Trauma?" tanya Vina.


"Iya, mungkin dia pernah disakiti, jadi sikap dingin dan datarnya semacam defense agar tidak kembali mengulang kejadian buruk itu. Dari sini seharusnya kamu udah bisa nebak, bagaimana dia. Aku yakin sekali kalau nanti kalian menikah, dia bisa mencintai kamu dengan sangat baik."


"Kak Rita jangan sok tahu gitu."


"Mau taruhan?" tantang Rita.


"Engga, ah. Nanti dosa." Vina berlalu sambil menjulurkan lidahnya ke arah Rita. Rita tersenyum melihat adik iparnya itu. Meskipun usia mereka terpaut jauh tapi Rita sangat tahu bagaimana adik dari suaminya itu tumbuh. Karena Rita sudah lama mengenal keluarga Vina.

__ADS_1


"Semoga saja, Galang adalah jodoh terakhirmu, Vin."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2