Gara-gara Nafkah

Gara-gara Nafkah
Kenzi dan Zea


__ADS_3

"Mas, bagaimana dengan anak-anak kita?"


"Sejauh ini perkembangan mereka semakin baik. Mereka dibawa ke NICU karena kemarin kondisi kamu begitu lalu si adik juga lahirnya sungsang makanya perlu mendapatkan perawatan khusus.


Nanti setelah ini aku tanya ke dokternya dulu. Kemarin mereka nyusu kamu pas kamu engga sadar. Dokter sendiri yang mendampingi untuk inisiasi dini. Meski kondisi kamu begitu, kata dokter ini juga untuk merangsang kamu agar cepat sadar."


"Terus gimana?" tanya Vina tak sabar.


"Sebentar, kamu minum dulu sedikit. Tadi kata dokter suruh minum dikit-dikit dulu." Vina meneguk air dari gelas yang diberikan oleh Galang. Dia bahkan lupa dengan rasa lapar dan hausnya karena ingin segera tahu kabar perkembangan anak-anaknya.


"Terus gimana, Mas?" Vina benar-benar ingin tahu kondisi anak-anaknya sekarang.


"Ya, Mbak Rita bantu mompa ASI kamu. katanya sayang kalau terbuang dan harus pake ASI orang lain sementara kamu ASInya udah deras."


"Aku pengen lihat mereka. Jenis kelaminnya apa?"


"Kamu tebak dong."


"Cowok semua?" jawab Vina. Galang menggeleng.


"Mereka sepasang, yang lahir pertama cowok yang kedua cewek."


"Beneran, Mas?" tanya Vina lagi dengan mata berkaca-kaca.

__ADS_1


"Iya, Sayang dan bagi aku udah cukup. Sekali aja kamu melahirkan. Aku engga mau kamu hamil lagi. Aku beneran takut kehilangan kamu."


"Kamu engga akan kehilangan aku, Mas."


Fahri dan Rita masuk ke ruang perawatan Vina. Galang sudah memesan ruang VVIP untuk sang istri. Fahri mendekati ranjang adiknya dan memeluknya dengan erat.


"Kakak senang kamu sadar."


"Maaf kalau sudah membuat kakak cemas."


"Kamu engga cuma bikin kakak cemas. Kamu udah bikin suami kamu hampir gila juga."


Vina melirik suaminya. Terlihat sekali dia merasa sangat bersalah pada pria itu. "Maaf, Mas."


Dokter yang tadi menangani Vina melakukan visit. Galang pergi sebentar untuk menemui dokter anak yang menangani kedua bayi kembarnya.


Keluarga mereka benar-benar kompak dan terlihat saling menjaga satu sama lain. Tak lama Galang masuk ke ruang perawatan Vina diikuti kedua suster yang mendorong dua box bayi.


Wajah Vina tampak sumringah. Dokter anak yang menangani si kembar muncul dan menyapa Vina.


"Selamat sore, Ibu Vina. Bagaimana kabarnya?"


"Sudah jauh lebih baik, Dokter."

__ADS_1


"Saya ikut senang, Bu Vina bisa melewati semuanya. Pertama-tama perkenalkan saya Dokter Listy. Saya yang menangani kedua anak anda. Kondisi mereka sebenarnya sudah cukup baik ketika dilahirkan. Hanya saja kemarin bilirubinnya lumayan tinggi sehingga perlu mendapatkan penanganan khusus. Apalagi dedek yang cewek lahir sungsang, ya?"


"Iya, Dokter, tapi bagaimana sekarang perkembangan mereka?"


"Mereka sudah sangat baik. Terlebih meski keadaan ibunya tidak memungkinkan untuk menyusui, tapi syukurnya ASInya melimpah. Kemarin kakaknya juga sempat bantu mompa ASI.


Sekarang mereka sudah bisa disusui. Saya ucapkan selamat untuk Bu Vina dan semangat untuk selalu mengASIhi dedek bayinya. Saya permisi dulu."


Selepas dokter Listy pergi, Perawat yang tadi mendorong box bayi, menyerahkan bayi laki-laki Vina pada ibunya. Vina menyambut bayinya dengan tangan bergetar. Rasanya kebahagiaannya telah lengkap dan sempurna.


"Ini yang laki-laki, kemarin bobotnya 2900 gram panjangnya 53cm. Kalau yang perempuan bobotnya 2700 gram panjangnya 50 cm," ujar salah satu perawat senior yang menangani kedua bayi Vina.


"Mau disusui yang mana dulu? atau mencoba menyusui dua-duanya?"


"Ehm, Satu-satu saja dulu, Sus."


Fahri dan Rita keluar dari ruangan itu dan hanya tersisa Galang, Vina dan juga perawat senior. Dia dengan telaten membantu Vina menyusui bayi laki-lakinya.


"Dia namanya siapa bu?"


"Kalau kakaknya namanya Enzo adiknya namanya Kenzi. Terus yang perempuan itu namanya Zea."


Galang hanya mengangguk, dia setuju nama itu untuk kedua anaknya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2