
*****
Sepulang dari Jogja Asya menangis meraung-raung di rumah Bu Siti. Dia terus mengadu dan menyalahkan Vina sebagai penyebab kemalangan yang sedang menimpanya.
"Ini semua gara-gara mantan istri mas Pras, Bu. Sekarang aku gimana?" raung Asya di ruang tamu. Kopernya dicampakkan begitu saja di lantai. Bagas sampai harus ijin pulang ke rumah karena ibunya terus meneleponnya.
"Memang kamu ada apa lagi sama Vina?"
"Aku lihat dia sama laki-laki yang lebih muda dengan mas Pras di hotel cabang sana. Aku engga nyangka, dia ternyata selama ini menghianati mas Pras. Aku cuma kasihan sama mas Pras. Aku belain mas Pras tapi malah aku dipecat dari kerjaanku, Bu. Sekarang aku harus gimana?" Suara Asya mengundang rasa penasaran para tetangga yang kebetulan sedang berkumpul di rumah Bu Nia. Rumahnya pas di samping rumah bu Siti.
"Eh, ada apa itu, ya, Bu Nia? kok kayaknya saya dengar ada nyebut nama Vina."
"Sudah, biarkan saja, bu-ibu. Kita engga usah ikut campur. Nanti yang ada Bu Siti bakal teriak-teriak dan bikin kita malu. Kaya engga hapal sifatnya Bu Siti aja," ujar Bu Nia.
"Iya, yah. Untung Vina udah pisah. Kalau engga aku makin kasihan sama dia. Masih muda tapi harus buang-buang waktu jadi mantunya Bu Siti." Mendengar ucapan salah satu tetangganya, semua ibu-ibu yang ada di depan rumah Bu Nia tertawa terbahak-bahak.
Sementara itu, Bu Siti yang mendengar suara tetangganya yang tertawa merasa tak terima. Dia langsung berkacak pinggang dengan mata melotot seperti hendak keluar dari rongga-nya.
"Denger itu, semakin keras kamu nangis. Kita justru jadi bahan tertawaan tetangga. Makanya kamu itu lain kali mikir dulu sebelum bertindak. Jangan grasak-grusuk kaya ga berpendidikan. Kamu kan lebih berpendidikan dari dia, pake cara yang halus."
Bagas juga duduk di samping istrinya yang terus menangis. Kini isi kepalanya sedang menghitung kerugian yang harus ia tanggung saat Asya menganggur nanti. Tagihan tas baru Asya, biaya hidup Aqilla di desa, bagaimana ia bisa memenuhinya?
"Sini biar ibu telepon si Vina. Memang dasar wanita sun*dal. Sudah pergi dari rumah ini tapi masih aja nyusahin," gerutu bu Siti sambil merebut ponsel Bagas. Bu Siti mencari kontak Vina untuk membuat perhitungan dengan wanita itu.
Bu Siti masih belum merasa puas setelah habis-habisan mencaci Vina. Ia kini menghubungi putranya untuk mengadukan nasib mantu kesayangannya gara-gara ulah mantan istri Pras.
__ADS_1
...***...
Vina saat ini sedang duduk di kafe bersama kedua sahabatnya. Ia ingin sekaligus berpamitan pada keduanya karena besok dia akan pulang. Riska menatap Vina dengan berat hati.
"Yah, masak pulang sih?" ujar Riska keberatan.
"Kalau aku lama-lama di sini, kedai gimana nasibnya?"
"Kan kata kamu udah ditangani Bu Risma," jawab Riska lagi, dia merasa belum puas bersama sahabatnya itu.
"Iya, tapi tetep aja aku harus profesional."
"Udah dong, Ris. Kasihan Vina," ujar Alex jengah. Jujur dia pun sebenarnya ingin Vina lebih lama lagi di sana. Tapi dia tidak mau egois. Di saat ketiga sahabat itu sedang asyik bercengkrama ponsel Vina bergetar. Ada nomor asing lagi masuk ke ponsel nya. Awalnya Vina tak ingin mempedulikannya tapi entah kenapa perasaannya justru tak enak sendiri. Ia akhirnya meraih ponselnya dan mengangkat telepon itu.
"Halo...."
["Eh, aku Galang. Apa Enzo mendatangi kamu? selepas kamu pulang Enzo kabur dari rumah."]
"Hah... Aku tidak tahu, saat ini aku sedang bertemu dengan temanku di luar, apa jangan-jangan Enzo datang ke hotel ya?"
["Entahlah, aku juga bingung. Aku saat ini sedang di rumah sakit karena mama kena serangan jantung."]
"Bu Laras kena serangan jantung?" tanya Vina terkejut, tadi sebelum pergi dari kediaman mereka, ia melihat jika Bu Laras baik-baik saja.
["Iya, meskipun sekarang kondisinya sudah stabil, tapi kalau mama sampai tahu cucunya hilang, ia pasti akan kembali anfal."]
__ADS_1
"Ya sudah, aku akan bantu cari Enzo. Aku janji akan mencarinya sampai ketemu." Vina pun sebenarnya panik saat mendengar Enzo kabur dari rumah. Bocah itu terbilang nekat, padahal usianya masih sangat muda tapi kenapa bisa kepikiran untuk kabur dari rumah?
"Guys, aku balik hotel sekarang, ya."
"Siapa Enzo?"
"Ada lah, nanti kapan-kapan aku cerita," Jawab Vina, kini dia sudah mengalungkan tasnya di bahu.
Alex dan Riska saling melempar tatapan. Keduanya penasaran dengan sosok Enzo. Apa mungkin Enzo adalah nama hewan peliharaan?
Vina membayar tagihan makan mereka bertiga. Ia bergegas masuk ke dalam mobil hingga membuat Fadil tersentak kaget.
"Kita ke hotel sekarang, ya, Mas."
"Iya, Non."
Vina menatap jalanan jogja yang sedikit lengang. Hujan mulai turun membasahi bumi. Ia semakin mengkhawatirkan Enzo saat ini. Setibanya di pelataran lobi hotel, Vina langsung turun dia mengedarkan tatapan matanya mencari sosok Enzo.
"Enzo... " Desis Vina saat ia melihat bocah dengan kemeja biru lengan pendek duduk sambil menunduk di sofa lobi. Vina pun segera berjalan cepat mendekati Enzo.
"Enzo, kenapa Enzo ke sini sendirian?"
"Kakak...." Enzo tak bisa berkata apa-apa lagi, dia memeluk leher Vina yang sedang berjongkok di depan Enzo.
Vina merasa iba dengan Enzo. Dia tak menyangka ada yang menantikan kehadirannya. Vina merasa sangat berarti. Ia pun membalas memeluk bocah laki-laki itu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...